TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Sleman dilaporkan semakin meluas.
Jika sebelumnya fokus penanganan berada di wilayah Kemirikebo, Girikerto, kini krisis air bersih juga melanda wilayah Sumbersari dan Sumberarum di Kapanewon Moyudan serta Merdikorejo di Kapanewon Tempel.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengimbau masyarakat supaya hemat air, mengingat potensi kemarau masih panjang dan bencana kekeringan berpotensi meluas.
Pihaknya mengaku tidak memiliki anggaran khusus untuk dropping air bersih.
Penanganan krisis air hanya mengandalkan alokasi dana penanganan bencana.
"Anggaran dropping tidak ada. Kami hanya menggunakan penanganan bencana saja. Terus banyak bantuan dari teman-teman stakeholder seperti PMI, Basarnas, BUMKal Girikerto, TNI, kemudian dari BBWSSO. Kita tangani bersama-sama, tentu dengan BPBD juga," ujar Bambang, Sabtu (15/8/2026).
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kabupaten Sleman per Sabtu, 15 Agustus 2026, penyaluran air bersih telah dilaksanakan secara berkala di beberapa wilayah.
Adapun, fokus penyaluran dropping air bersih hari ini difokuskan di Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, terutama di Padukuhan Kemirikebo.
Di lokasi tersebut, terdapat 175 Kepala Keluarga (KK) atau setara 613 jiwa yang terdampak krisis air bersih.
Hari ini ada dua ritase dengan total kapasitas 13.000 liter yang didistribusikan menggunakan armada dari BBWSSO dan BUMKal Girikerto.
Adapun, sumber pengambilan air dari Kemiri, Purwobinangun.
Secara keseluruhan, di Kalurahan Girikerto terdapat 415 KK terdampak dengan jumlah distribusi air bersih yang telah disalurkan sebanyak 21 ritase atau 109.000 liter.
Krisis air bersih juga dirasakan warga Sumbersari dan Sumberarum, Moyudan.
Di Sumbersari terdapat 90 KK terdampak dengan distribusi bantuan air bersih sebanyak 5 ritase atau setara 25.000 liter.
Sedangkan di Sumberarum jumlah terdampak 120 KK. Distribusi bantuan air bersih telah diberikan 2 ritase atau 9.000 liter.
Terbaru, wilayah terdampak kekeringan ada di Kapanewon Tempel, tepatnya di Kalurahan Merdikorejo.
Di Kalurahan ini terdapat 125 KK terdampak dengan jumlah bantuan yang telah didistribusikan 1 ritase atau 5.000 liter.
Wilayah terdampak kekeringan berpotensi meluas, karena kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang.
"Kalau ada dari masyarakat memang ada potensi kekeringan, segera lapor ke BPBD Sleman," ungkap Bambang.
Selain hemat air, BPBD Sleman juga mengimbau masyarakat untuk memakai masker saat bepergian.
Hal ini dinilai penting untuk menghindari debu beterbangan yang berpotensi memicu terjadinya penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Warga diimbau memperbanyak minum air putih karena cuaca yang lebih kering dari biasanya. Selain itu, diimbau tidak membakar sampah sembarangan.
"Jika terpaksa membakar sampah, agar ditunggu hingga benar-benar padam," ujar dia.
Baca juga: HUT Kemerdekaan Ke-81 RI, Bendera Merah Putih 481 Meter Dibentangkan dari Tugu ke Titik Nol Km Yogya
Terkait potensi krisis air di tengah kemarau panjang ini, Bupati Sleman Harda Kiswaya, sebelumnya juga mengimbau masyarakat agar mulai bijak dan berhemat dalam memanfaatkan air bersih.
Mengingat berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa musim kemarau tahun ini lebih kering dan panjang.
"Mudah-mudahan kita semua warga Sleman, dengan kondisi musim yang saat ini informasinya dari BMKG itu kemarunya panjang, mulai kita efisien memanfaatkan air. Agar kita tidak kekurangan air," ujar Harda. (rif)