Tentang Kabupaten Manggarai, Wilayah dengan Jumlah Korban Tewas Terbanyak akibat Gempa M7,7 di NTT
Dewi Agustina August 16, 2026 08:35 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, KUPANG - Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) menewaskan 47 korban hingga Sabtu (15/8/2026) malam.

Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (15/8/2026) hingga pukul 18.48 WIB, jumlah korban tewas paling banyak adalah di wilayah Kabupaten Manggarai, dengan 24 korban jiwa.

Baca juga: Mabes Polri Pertebal Personel Penanganan Dampak Gempa Bumi di NTT, Hari Ini Berangkatkan Brimob-K9

Berikut rincian jumlah korban meninggal berdasarkan wilayah:

  • Kabupaten Manggarai 24 orang
  • Manggarai Timur 17 orang
  • Sikka 3 orang 
  • Manggarai Barat 1 orang
  • Ngada 1 orang 
  • Ende 1 orang

 

Sementara korban luka-luka telah dilakukan evakuasi dan perawatan medis.

Berikut jumlah kerusakan berdasarkan data BNPB hingga pukul 17.00 WIB, Sabtu (15/8/2028):

  • total rumah rusak berat mencapai 157 unit
  • rusak sedang 41 unit 
  • rusak ringan 148 unit

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, seperti:

  • fasilitas pendidikan 87 unit
  • kesehatan 18 unit
  • tempat ibadah 5 unit
  • kantor 6 unit 
  • sejumlah fasilitas umum lain 

Baca juga: Wajah Duka Gempa NTT, Isak Tangis di Kamar Jenazah hingga Rumah Impian Rata Tanah 

Merespons gempa di NTT, BNPB mengirimkan bantuan pangan dan non-pangan ke wilayah bencana. 

Sejumlah bantuan dikerahkan melalui gudang logistik yang berada di Kabupaten Flores Timur, NTT. 

Sedangkan dari Jakarta, BNPB juga mengirimkan bantuan melalui baseops TNI AU Halim Perdanakusuma. 

Total bantuan sebanyak 50 ribu paket dengan berat 275 ton. 

Saat ini, bantuan yang baru tiba di baseops sebanyak 10.500 paket, yang berasal dari Presiden Prabowo Subianto.

Gempa M7,7

Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, NTT.

Gempa tersebut memiliki kedalaman 15 kilometer dengan koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur.

BMKG mengeluarkan pemutakhiran peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Warga Diminta Jauhi Pantai

Sejumlah wilayah NTT masuk dalam status SIAGA, di antaranya Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Manggarai Barat bagian utara, Ende bagian utara, dan Sikka bagian utara.

Sementara sejumlah wilayah lainnya masuk dalam status WASPADA, termasuk Flores Timur bagian utara.

BMKG mengimbau pemerintah daerah yang wilayahnya berstatus SIAGA untuk segera mengarahkan masyarakat melakukan evakuasi. 

Masyarakat yang berada di wilayah berstatus WASPADA diminta menjauhi pantai dan tepian sungai.

Tentang Kabupaten Manggarai

Kabupaten Manggarai adalah kabupaten yang berada di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Kabupaten Manggarai ibu kotanya adalah Kota Ruteng yang terletak di Kecamatan Langke Rembong. 

Luas wilayahnya 2.096,44 km⊃2;, dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2025 sebanyak 356.137 jiwa.

Geografis

Mengutip Wikipedia, Kabupaten Manggarai merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di sebelah barat Pulau Flores. 

Kabupaten Manggarai mempunyai luas wilayah sebesar 2.096,44 km⊃2; yang terdiri dari daratan Pulau Flores dan pulau kecil yaitu Pulau Molas. 

Secara astronomis, Kabupaten Manggarai terletak di antara 08°14'27,32" hingga 08°54'57,17" Lintang Selatan dan 120°13'41,34" hingga 120°32'47,22" Bujur Timur.

Batas Wilayah

Batas Wilayah dari Kabupaten Manggarai adalah sebagai berikut:

  • Utara: Laut Flores
  • Timur: Kabupaten Manggarai Timur
  • Selatan: Laut Sawu
  • Barat: Kabupaten Manggarai Barat

Secara topografis, Kabupaten Manggarai merupakan daerah dataran tinggi yang didominasi oleh bentuk permukaan daratan yang bergelombang dengan kemiringan lahan ≥40 persen (pegunungan) yaitu seluas 38,36n kemiringan lahan antara 15%-40% yakni seluas 55,41ri luas wilayah Kabupaten Manggarai. 

Sedangkan, sisanya yang seluas 6,23% merupakan dataran rendah dengan tingkat kemiringan lahan antara 8%-15%.

Kondisi Hidrologi

Keadaan hidrologis di Kabupaten Manggarai terdiri atas sumber-sumber air yang berasal dari air tanah, air permukaan, dan curah hujan. 

Sebagai daerah yang mempunyai permukaan bergunung-gunung, air tanah pada umumnya diperoleh dari mata air yang berasal dari kawasan pegunungan yang masih mempunyai kondisi jenis flora dari tumbuhan pepohonan yang cukup rapat. 

Beberapa sungai besar yang keberadaan airnya mengalir sepanjang tahun di antaranya sungai Wae Pesi, Wae Neuring, Wae Renca yang mengalir dan bermuara ke pantai Utara (kecamatan Reok), dan sungai Wae Naong, Wae Reno yang mengalir ke arah selatan dan bermuara ke pantai Selatan (kecamatan Satar Mese).

Sumber air tanah dan air permukaan (sungai) yang cukup penting keberadaannya di wilayah kabupaten Manggarai ini adalah dengan adanya gunung Golo Lusang, Poco Ranaka dan gunung-gunung lainnya, di mana keberadaan beberapa sungai tersebut berasal dari mata air pada gunung tersebut.

Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim Koppen, sebagian besar wilayah Kabupaten Manggarai beriklim muson tropis (Am) dengan sebagian kecil beriklim dataran tinggi subtropis (Cwb) terutama di wilayah dataran tinggi pegunungan. 

Suhu udara di wilayah Kabupaten Manggarai terbilang cukup sejuk, yakni pada rentang 15 °C hingga 30 °C, kecuali untuk wilayah pesisir yang suhunya bisa berkisar antara 22° hingga 34 °C. 

Seperti wilayah lainnya di Indonesia, Kabupaten Manggarai pun memiliki 2 musim yang dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. 

Musim penghujan dipengaruhi oleh angin monsun baratan yang bersifat basah, lembap, serta banyak membawa uap air dan biasanya berlangsung pada periode November hingga April dengan puncaknya pada bulan Januari. 

Sementara itu, musim kemarau dipengaruhi oleh angin monsun timuran yang bersifat kering dan sedikit membawa uap air dan biasanya berlangsung pada periode Mei hingga Oktober dengan puncaknya pada bulan Agustus. 

Tingkat kelembapan di wilayah Manggarai bervariasi antara 65% hingga 85%.

Budaya

Budaya Manggarai memiliki banyak tradisi khas, di antaranya:

  • Rumah adat Mbaru Niang
  • Caci, yaitu seni pertunjukan sekaligus tradisi adu ketangkasan menggunakan cambuk dan perisai.
  • Lingko, sistem pembagian tanah adat berbentuk lingkaran.
  • Berbagai upacara adat yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, pertanian, dan hubungan sosial.

Tempat yang Terkenal

Beberapa tempat yang sering dikaitkan dengan kawasan Manggarai antara lain Ruteng, Cancar, dan Wae Rebo. 

Wae Rebo terkenal karena rumah adat berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang.

Penulis: (Pos-Kupang.com/Alfred Dama) (Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.