Protes Darurat Militer di Jayapura Ricuh, Tiga Demonstran Dilaporkan Tertembak
Marius Frisson Yewun August 16, 2026 10:29 AM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cenderawasih (Uncen), Frengki Kabak dan dua anggota massa aksi lainnya dikabarkan tertembak saat mengikuti aksi demonstrasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di Perumnas III Waena, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (15/8/2026).

Aksi tersebut merupakan bagian dari aksi nasional KNPB yang digelar pada 15 Agustus 2026 dengan mengangkat tema “Papua Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan.”

Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Uncen periode 2026–2027, Whilly Silak, mengatakan Frengki Kabak bersama dua orang lainya terkena tembakan saat aparat membubarkan massa.

Baca juga: Besok Sandar di Jayapura, Cek Jadwal Kapal Pelni KM Gunung Dempo Terbaru 15-23 Agustus 2026

“Terjadi kontak tembakan antara pihak kepolisian dengan massa aksi. Ada beberapa massa yang terkena tembakan, salah satunya di bagian kaki,” kata Whilly dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, massa sempat mundur dari lokasi demonstran setelah aparat membubarkan mereka, namun ketika massa kembali mengambil posisi di lokasi, aparat melakukan pembubaran lagi, yang disertai dengan tembakan berdasarkan laporan Whilly.

“Kami datang untuk menyampaikan aspirasi, bukan untuk melakukan penaklukan atau merebut sesuatu. Tetapi kami justru diperhadapkan dengan kekerasan,” ujarnya.

Whilly meminta pihak kepolisian segera memberikan penjelasan secara terbuka terkait kejadian tersebut dan bertanggung jawab atas kondisi peserta aksi yang dilaporkan terkena tembakan.

Baca juga: Dampak El Nino Mulai Terasa di Mimika, Curah Hujan Berkurang dan Suhu Naik

Ia juga meminta Kapolresta Jayapura Kota dan Polda Papua segera memberikan keterangan mengenai kronologi kejadian.

Whilly Silak meminta seluruh pihak, khususnya anggota DPR Papua yang hadir di lokasi saat aksi berlangsung serta Komnas HAM Perwakilan Papua, untuk terus mengawal kasus tersebut hingga terdapat kejelasan mengenai peristiwa yang dialami rekan mereka.

Menurutnya, persoalan tersebut harus mendapat perhatian serius karena salah satu korban merupakan pimpinan mahasiswa Universitas Cenderawasih.

Apabila tidak ada pertanggungjawaban dari aparat, MPM Uncen bersama BEM Uncen berencana melakukan koordinasi dengan BEM secara nasional untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Kalau tidak ada pertanggungjawaban, kami akan koordinasikan dengan BEM secara nasional,” tegasnya.

Baca juga: Harga Tiket Mulai Rp776.500, Cek Jadwal Kapal Pelni Manokwari-Makassar Agustus 2026

Sementara itu, Ketua BEM Uncen periode 2026–2027, Yuluku Wasiangge, meminta pihak kepolisian bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Wakil Ketua BEM Uncen dan dua peserta aksi lainnya.

Pihaknya memberikan waktu 24 jam kepada pihak kepolisian untuk memberikan penjelasan dan pertanggungjawaban.

“Saya tunggu 24 jam. Kalau dalam 24 jam tidak bertanggung jawab, saya akan konsolidasikan massa besar-besaran dan kami akan meluncur ke Polda Papua,” tegas Yuluku.

Ia menegaskan mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum dan meminta hak tersebut dihormati. Yuluku juga mengajak seluruh mahasiswa dan aktivis untuk mengesampingkan ego kelompok serta bersama-sama mengawal ruang demokrasi di Papua.

Baca juga: Pesta Kuliner Kampung Kayu Batu Jayapura Meriah, Anak-anak Sanggar Unjuk Kebolehan Tari Roha Fiye

“Sekali lagi kepada Polresta Jayapura dan Polda Papua, kami akan bergerak apabila ruang demokrasi terus dibungkam,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.