Cerita Ustaz Halim Paggo tentang Almarhum Ibu dan Uci Wawo
Ansar August 16, 2026 12:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, PANGKAJENE - Muballig ternama Sulsel, Ustaz Haji Abdul Halim Paggo (53), ternyata sosok dai yatim sebelum usia aqil baligh.

"Saya itu ditinggal ibu di umur 14 tahun," ujar dai itu saat membawakan ceramah takziah hari ketiga wafatnya Hj Rabiah Binti Ismali (80) di Perumahan Reskita Residence, Bonto Perak, Pangkajene, Pangkep, Sabtu (15/8/2026) malam.

Hajjah Rabiah Binti Ismail adalah ibu kandung dari Buyung "Riril"

Badril (43), Bendahara DPC PKB Kota Makassar.

Almarhum meninggalkan delapan anak, delapan anak mantu, 18 cucu dan delapan cicit.

Dengan mimik muka sedih, dai berusia 53 tahun itu bercerita ia masih duduk di bangku kelas 2 SMP saat ibunya Haderiah wafat, tahun 1989 silam.

Bagi sarjana ilmu komunikasi  Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI) Makassar itu, ibu adalah sosok yang terus menginspirasi, dan mendoakan rangkaian penting perjalanan hidupnya.

"Syukurlah ibu bapak, dan delapan anak almarhumah ini, masih bisa berbakti dan menemukan syurga dari kaki ibunya. Saya belum sempat balas jasanya dengan keringat dan darah, sampai saat ini hanya kirim Alfatihah," ujar Dai yang Sabtu pekan lalu, Juga ceramah Takziyah di Kelurahan Jagong, Pangkajene, sekitar 3.2 km dari Bontoperak.

Sang ustad adalah bungsu dari empat saudara. Dua laki, dua wanita.

"Saya satu sekolah sama ustad Harle (Haji Arifuddin Lewa, legislator DPRD Kota Makassar) di SMP 10," ujar Ustad Halim, usai ceramah.

SMPN 10 Makassar salah satu sekolah menengah tingkat pertama di kawasan urban tenggara Kota Makassar.

Sekolah itu beralamat di Jl Andi Tadde, Timungang Lompoa, Bontoala, Makassar.

Ibunya adalah keturunan Bugis - Bone Maros-Pangkep dan ayahnya Makassar.

Garis kekerabatan inilah yang mengkonfirmasi, Ustad Halim Pagga bisa ceramah dalam dua bahasa utama di Sulsel, Bugis dan Makassar.

"Kalau di Segeri, pakai bahasa Bugis kalau ceramah di Pajukukang (Maros) khutbah pakai Bahasa Makassar, kalau di Jeneponto, ceramah pakai bahasa Jenta Konjo," ujar Dullah, salah satu anggota majelis ustadz Halim Pangga, yang dalam berapa tahun terakhir, senantiasa ikut rangkaian ceramahnya di Sulsel.

Ustad Halim sendiri menyebut, kelompok majelisnya itu dengan sebutan "fans".

"Ini fans setiaku, lima orang ji. Selalu ikut tur takziyah, ceramah biar sampai Segeri," ujar suami dari Hajjah Nurhayati itu.

Sejatinya, istrinya Nurhayati kerap ikut dalam rangkaian tur ceramahnya; baik di wilayah Sulawesi, Kalimantan, hingga Maluku dan Papua.

"Saya kalau ada yang undang ceramah di Kalimantan, dan tanya berapa budget. Saya hanya jawab tak usah bicara budget, belikan saja tiket PP istriku," ujar Halim, dalam potongan ceramah takziyahnya.

Malam tadi, istrinya tak ikut kerena ada dalam kapasitas sebagai Ketua Majelis Taklim di Panaikang, ada acara khusus.

"Ibu itu ketua, wakilnya tidak bisa bicara. Wassalamu alaikum dulu baru Assalamu alaikum, tak balek-balek kalau diminta bicara di majelis,"  Ustad Halim berkelakar soal alasan istrinya Nurhayati tak ikut mendampingi.

DAn saat ceramah di Bontoperak, Ustad Halim Paggo didampingi putrinya, Resky Aulia Ramadhani SH, MH, dan kerabatnya Wahyuddin Taib SAg.

Ustad Halim tercatat sebagai warga Kampung Campagayya di bantaran Sungai Tallo, Kelurahan Panaikang, Kecamatan Panakkukang, Makassar.

"Rumah saya itu, jalan masuk ke empangnya Pak Mentan AMran Sulaiman," ujarnya kepada Tribun.

Kini setelah 33 tahun menikah, ustad Halim Paggo sudah dikaruniai empat anak dan dua cucu.

"saya itu menikah dan jadi suami di umur 22 tahun, dan jadi  kakek usia 52 tahun. Cucu kedua, baru lahir dua minggu lalu," ujar Halim, yang mulai keliling ceramah di usia 28 tahun.

Wakil Ketua DPRD Sulsel H Fauzi Andi Wawo (54), juga hadir menyimak rangkaian ceramah takziyah itu.

"Saya ini baru kenal Pak Dewan, Bang Uci belum lebih 7 tahun, tapi rasanya sudah kenal seperti 50 tahun," ujar ayah dari empat anak wanita ini.

Uci hanya tersenyum teduh lalu tertawa saat mendengar pujian sahabatnya itu.

Ketua DPC PKB Makassar itu pun bercerita, perkenalan dan interaksi intensnya dengan Ustad Halim Paggo, saat dia maju untuk kali kedua sebagai legislator DPRD Provinsi, 2019 lalu.

Direktur Slemmersindo ini mengkonfirmasi kedekatannya ini, lebih karena ikatan emosional  dan kesamaan semangat Islam kultural yang selalu jadi nafas NU - PKB dan konten ceramah ustad Halim Paggo.

"Saya bilang sama ustad Paggo, saya kerja urusan dunianya ini politik, kita yang kerja urusan akhiratnya, doakan saya terus," ujar Daeng Uci Wawo. (thamzil thahir)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.