SURYAMALANG.COM, KOTA BATU - Para siswa dan guru se-Jawa Timur, termasuk di Kota Batu, berkunjung ke para veteran atau keluarga pejuang Republik Indonesia di wilayah masing-masing.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur itu untuk menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia.
Gerakan bertajuk Murid Menjemput Sejarah : 81 Tahun Indonesia Merdeka ini mengajak para murid belajar perjuangan dan arti kemerdekaan dari para veteran atau keluarga pejuang, yang berlangsung pada 12-16 Agustus 2026.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai mengatakan, gerakan ini melibatkan sekolah SMA, SMK dan SLB di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Para murid bersama guru mendatangi rumah veteran maupun keluarga pejuang di wilayah masing-masing untuk mendengarkan langsung kisah perjuangan sekaligus menggali pesan bagi generasi muda.
Gerakan ini sengaja dirancang agar pelajar tidak hanya mengenal sejarah dari buku, tetapi juga berinteraksi langsung dengan pelaku maupun keluarga yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa.
Baca juga: 29 Siswa SMP Batu dan 42 Siswa SMA Malang Awali Tahun Ajaran 2026 di Sekolah Rakyat Blitar
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal kemerdekaan dari buku pelajaran, upacara, atau cerita di ruang kelas."
"Kami ingin mereka datang langsung, duduk bersama para veteran dan keluarga pejuang, mendengar kisahnya, melihat keteladanannya, dan memahami kemerdekaan yang mereka nikmati hari ini diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa,” kata Aries Agung Paewai, Minggu (16/8/2026).
Lanjut mantan Pj Wali Kota Batu itu, konsep gerakan tersebut dibuat sederhana.
Setiap sekolah diarahkan mengunjungi sedikitnya satu veteran atau pejuang kemerdekaan.
Selain melakukan anjangsana, murid juga membawa bingkisan sebagai bentuk perhatian dan penghormatan kepada para pejuang yang telah memperjuangkan kemerdekaan RI.
Namun pihaknya menegaskan, bingkisan itu bukan tujuan utama kegiatan.
Hal terpenting adalah menghadirkan kepedulian sekaligus mempertemukan generasi muda dengan sejarah secara langsung.
“Sembako, selimut maupun tali asih yang dibawa murid sebenarnya bukan tujuan utamanya."
"Yang paling penting adalah menghadirkan rasa hormat, kepedulian dan terima kasih generasi hari ini kepada para pejuang,” ujarnya.
Aries menyampaikan, semangat perjuangan harus diterjemahkan sesuai tantangan generasi saat ini.
Yakni melanjutkan perjuangan lewat pendidikan dan mengisi kemerdekaan tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui pendidikan, prestasi, kepedulian sosial dan kontribusi positif bagi bangsa.
“Kami ingin menanamkan kepada murid bahwa mengisi kemerdekaan sekarang tidak lagi dengan mengangkat senjata, tetapi dengan belajar sungguh-sungguh, berprestasi, menjaga persatuan, memiliki kepedulian sosial, serta memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” jelasnya.
Dalam anjangsana yang menjadi bagian dari visi "Jatim Cerdas, Pendidikan Berdampak" ini, memastikan pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi memberi pengalaman dan nilai yang membentuk karakter serta kepedulian peserta didik terhadap lingkungan dan bangsanya.
Para siswa, juga menghasilkan dokumentasi berupa pesan kemerdekaan dari veteran untuk generasi muda.
Pesan tersebut dapat dituangkan dalam video berdurasi satu hingga dua menit maupun tulisan tangan.
“Yang membuat gerakan ini berbeda adalah setiap kunjungan menghasilkan pesan kemerdekaan bagi murid di Jawa Timur."
"Pesan tersebut kemudian tertuang dalam sebuah video berdurasi satu sampai dua menit ataupun tulisan tangan dari para veteran,” tuturnya.
Pria kelahiran Makassar itu menilai, gerakan ini berpotensi berkembang menjadi model pendidikan karakter yang khas Jawa Timur karena memadukan literasi sejarah, kepedulian sosial, penghormatan terhadap pejuang dan dokumentasi sejarah lokal.
“Jika buku mengajarkan sejarah, maka para veteran mengajarkan kepada anak-anak kita tentang harga kemerdekaan,” terang Aries Agung Paewai.
Menurut Aries, dari kunjungan yang dilakukan para siswa, sejumlah veteran mengaku terharu karena masih ada generasi muda yang datang secara langsung untuk mendengarkan kisah perjuangan mereka.
“Para veteran mengapresiasi yang dilakukan murid-murid dan guru karena mereka terharu masih ada yang peduli dengan sejarah secara langsung, bukan hanya di buku. Mereka bisa mendengarkan langsung dari pelaku sejarah,” ucapnya.
Baca juga: Viral Singa di Batu Secret Zoo Kondisinya Kurus, Begini Penjelasan Dokter Hewan Jatim Park Group
Dari kegiatan tersebut, para pelajar juga menemukan beragam kondisi kehidupan veteran.
Sebagian hidup cukup mapan, tetapi ada pula yang tinggal di rumah sederhana, rumah kontrakan, hingga tempat tinggal yang membutuhkan perbaikan.
Temuan tersebut sekaligus menjadi pembelajaran sosial bagi para murid bahwa penghormatan kepada pejuang tidak berhenti pada seremoni, tetapi dapat diwujudkan melalui kepedulian nyata.
Aries berharap pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang lebih mendalam dibandingkan sekadar pembelajaran sejarah di ruang kelas.
“Harapan kami sepulang dari rumah veteran, anak-anak membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga dari pada yang mereka berikan, yaitu cerita perjuangan, keteladanan, semangat pantang menyerah, dan kesadaran bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan melalui pendidikan,” pungkasnya.