Pulau Kunti Sukabumi, Misteri Tawa Kuntilanak yang Ternyata Berasal dari Fenomena Alam yang Unik
Tim TribunStyle August 16, 2026 01:44 PM

Pulau Kunti Sukabumi, Misteri Tawa Kuntilanak yang Ternyata Berasal dari Fenomena Alam yang Unik

TRIBUNSTYLE.COM - Pulau Kunti di kawasan Geopark Ciletuh, Sukabumi, menjadi salah satu tempat yang punya cerita unik sekaligus mengundang rasa penasaran. Namanya saja sudah cukup membuat orang bertanya-tanya, terlebih kawasan ini dikenal dengan suara misterius yang terdengar seperti tawa kuntilanak. 

Namun, di balik kisah mistis yang berkembang di masyarakat, ternyata terdapat penjelasan alamiah yang cukup menarik mengenai asal suara tersebut.

Baca juga: Menjelajahi Geopark Ciletuh Sukabumi: Mahakarya Batuan Purba dan Tapal Kuda Raksasa yang Mendunia

Suara yang terdengar menyeramkan itu bukan berasal dari makhluk gaib, melainkan dari interaksi antara ombak dan formasi batuan di sekitar pulau. Pulau Kunti memiliki jajaran batuan lava purba yang berongga.

Ketika ombak atau air laut pasang menghantam rongga-rongga tersebut, tekanan air menghasilkan suara dentuman dan gema yang kemudian terdengar melengking. Dari kejauhan, bunyinya memang dapat menyerupai suara tawa sehingga cerita mengenai kuntilanak pun semakin berkembang.

PULAU KUNTI - main ke Sukabumi makin bikin penasaran di Pulau Kunti. dengarkan misteri tawa kuntilanak yang ternyata berasal dari fenomena alam unik dan menarik.
PULAU KUNTI - main ke Sukabumi makin bikin penasaran di Pulau Kunti. dengarkan misteri tawa kuntilanak yang ternyata berasal dari fenomena alam unik dan menarik. (TribunTravel.com)

Keunikan Pulau Kunti tidak berhenti pada fenomena suara tersebut. Kawasan ini juga memiliki nilai geologi yang menarik karena menyimpan berbagai formasi batuan purba serta fosil nummulites.

Beberapa batuan di kawasan tersebut diperkirakan telah terbentuk sejak puluhan juta tahun lalu. Karakter geologis inilah yang membuat kawasan Ciletuh memiliki nilai penting sebagai bagian dari geopark.

Baca juga: Jujur Ini Bukan Lukisan! Pantai Citepus Sukabumi Jabar Punya Sunset yang Indahnya Di Luar Nalar

Selain formasi batuan, terdapat pula gua alami yang terbentuk akibat proses abrasi air laut. Gua dengan ukuran sekitar 5 meter dan panjang 9 meter tersebut dikenal masyarakat dengan nama Gua Anti Jomblo atau Gua Jodoh. Nama yang cukup nyentrik ini tentu menambah daya tarik cerita Pulau Kunti dan kawasan di sekitarnya.

Untuk mencapai Pulau Kunti, perjalanan biasanya dilakukan menggunakan perahu nelayan dari Pantai Palangpang atau Pantai Pasir Putih Ciletuh.

Penyeberangan membutuhkan waktu sekitar 15–30 menit, bergantung pada kondisi laut dan titik keberangkatan. Perjalanan menggunakan perahu juga memberikan pengalaman tersendiri karena pengunjung dapat melihat lanskap pesisir Ciletuh dari atas laut.

Namun, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan wisatawan. Pulau Kunti berada dalam kawasan konservasi yang berkaitan dengan Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng.

PULAU KUNTI - main ke Sukabumi makin bikin penasaran di Pulau Kunti. dengarkan misteri tawa kuntilanak yang ternyata berasal dari fenomena alam unik dan menarik. (TribunTravel.com)

Karena alasan perlindungan ekosistem dan habitat satwa, termasuk fauna seperti elang jawa dan rusa, akses wisata ke kawasan ini telah dibatasi dan tidak dapat dilakukan secara bebas seperti destinasi wisata umum.

Artinya, Pulau Kunti memang menarik untuk dibahas dan dipelajari, tetapi bukan berarti wisatawan bisa langsung datang dan mengeksplorasinya sesuka hati.

Informasi Pulau Kunti

  • Lokasi: Kawasan Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat.
  • Jam operasional: Tidak tersedia untuk kunjungan wisata umum secara bebas.
  • Harga tiket masuk: Tidak tersedia untuk kunjungan wisata umum.
  • Daya tarik: Fenomena suara mirip tawa kuntilanak, batuan lava purba, fosil nummulites, dan gua alami.
  • Akses: Menyeberang menggunakan perahu nelayan sekitar 15–30 menit dari Pantai Palangpang atau Pantai.

Justru status konservasi tersebut menjadi pengingat bahwa keunikan alam perlu dijaga. Misteri suaranya boleh bikin penasaran, tetapi kelestarian habitat tetap harus menjadi prioritas.

(TribunTravel.com/TribunStyle.com/Farah Aulya)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.