Upah Asli Pengupas Bawang Terkuak Usai Susanah Viral Disebut Prabowo Bergaji Rp700 Ribu Per Kg, Jauh
Murhan August 16, 2026 01:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Upah sebenarnya pengupas bawang di Pasar terungkap seusai Susanah viral disebut Prabowo Subianto punya penghasilan Rp700 juta per kilogram.

Hebohnya ini berawal dari pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI, DPR RI, dan DPD RI di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Kala itu, Prabowo turut menyoroti kisah seorang buruh harian asal Kabupaten Bogor bernama Susanah.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo memperkenalkan Susanah yang hadir langsung di ruang sidang sebagai salah satu masyarakat penerima manfaat program pemerintah.

Presiden menyampaikan bahwa Susanah bekerja sebagai buruh pengupas bawang dengan upah yang disebut mencapai Rp700.000 per kilogram. 

Prabowo juga menyinggung bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan program sembako yang disebut membantu Susanah memenuhi kebutuhan keluarga hingga pendidikan anak-anaknya.

Baca juga: Penghasilan Asli Susanah yang Viral Disebut Prabowo Bergaji Rp700 Ribu/Kg, Bukan Pengupas Bawang

"Hari ini, hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kilogram. Program Keluarga Harapan dan program sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya," ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian karena pekerjaan sebagai buruh pengupas bawang ternyata juga dijalani warga lain dengan kondisi ekonomi yang berbeda.

Salah satunya adalah Gini (53), buruh pengupas bawang yang setiap hari mencari penghasilan di Pasar Legi, Kota Solo.

Berbeda dari gambaran penghasilan yang disampaikan dalam pidato tersebut, Gini mengaku pekerjaan mengupas bawang bukanlah pekerjaan yang memberinya pendapatan besar.

Bagi perempuan berusia 53 tahun itu, pekerjaan tersebut justru menjadi pilihan untuk tetap mendapatkan pemasukan di tengah usia yang semakin bertambah.

Setiap pagi, Gini rutin mendatangi Pasar Legi untuk mencari pekerjaan yang bisa dikerjakannya pada hari itu. Sesampainya di pasar, ia biasanya mengambil karung berisi bawang yang tersedia untuk kemudian dikupas satu per satu. Tidak ada majikan yang secara khusus memanggilnya untuk bekerja atau memberikan jadwal tetap setiap harinya.

Gini datang atas inisiatif sendiri dan berharap ada pekerjaan mengupas bawang yang bisa dikerjakan untuk mendapatkan penghasilan. 

Kisah Gini menunjukkan bahwa di balik pekerjaan sederhana sebagai buruh pengupas bawang, terdapat perjuangan warga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Karena itu, cerita tentang Susanah dalam pidato Prabowo pun menarik perhatian dan membuka gambaran berbeda mengenai kehidupan para buruh pengupas bawang di lapangan.

"Saya sudah lama ngupas bawang di Pasar Legi. Sudah tiga tahunan. Mau kerja apa bingung, sudah tua," kata Gini, Sabtu (15/8/2026).

Di tangannya, satu per satu kulit bawang dilepaskan.

Pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang selama berjam-jam hingga bawang dalam karung selesai dikupas.

Namun, setiap karung yang dikerjakannya hanya dihargai Rp10 ribu.

Berbeda dengan sistem pengupahan berdasarkan kilogram yang disebut dalam pidato Presiden, Gini mengatakan buruh pengupas bawang di Pasar Legi dibayar berdasarkan jumlah karung.

"Satu karung krawang itu Rp10 ribu, bukan kiloan," ujarnya.

Satu karung yang biasa dikerjakan Gini bahkan berisi sekitar 20 kilogram atau lebih bawang.

Dengan demikian, meski harus menangani bawang dalam jumlah puluhan kilogram, bayaran yang diterima tetap Rp10 ribu untuk satu karung.

Dalam sehari, Gini biasanya hanya mampu menyelesaikan sekitar tiga karung.

Jika seluruhnya selesai, penghasilannya sekitar Rp30 ribu.

"Biasanya hanya selesai tiga karung, dengan upah Rp30 ribu per hari," tuturnya.

Jumlah tersebut menjadi penghasilan Gini untuk pekerjaan yang dilakukannya sejak pagi hingga sore.

Ia mengaku tidak bisa memaksakan diri mengambil pekerjaan lebih banyak karena kemampuan fisiknya juga terbatas.

Usia 53 tahun membuat pilihan pekerjaan yang tersedia untuknya semakin sedikit.

Selama sekitar tiga tahun, pasar menjadi tempatnya mencari penghasilan.

Bukan pekerjaan yang menjanjikan pendapatan besar, tetapi cukup untuk membuatnya tetap memiliki penghasilan.

Ia juga menyebut tarif pengupasan bawang di lokasi tersebut relatif sama bagi para buruh.

"Semua pengupas bawang di sini harganya sama Rp10 ribu per karung," ujarnya.

Gini mengaku hanya mengupas bawang putih.

Ia tidak mengetahui secara pasti apakah pengupas bawang merah menerima bayaran dengan sistem yang sama.

Ketika mendengar pidato Presiden yang menyebut buruh pengupas bawang memperoleh Rp700.000 per kilogram, Gini mengaku terkejut.

Menurutnya, angka tersebut tidak menggambarkan kondisi yang ia alami bersama para buruh pengupas bawang di Pasar Legi.

Kisah Gini menjadi gambaran kecil bagaimana pekerjaan informal di pasar masih menjadi tumpuan bagi sebagian warga yang tidak lagi memiliki banyak pilihan pekerjaan.

Di balik aktivitas perdagangan yang ramai di Pasar Legi, terdapat buruh-buruh yang bekerja sejak pagi dengan bayaran berdasarkan karung yang mereka selesaikan.

Bagi Gini, Rp30 ribu sehari bukan angka yang besar.

Namun, pekerjaan mengupas bawang tetap dijalaninya karena hanya itu pekerjaan yang menurutnya masih bisa dilakukan.

"Saya sudah tua. Mau kerja apa," ucapnya singkat.

Sosok Asli Susanah

Sosok Susanah jadi sorotan publik imbas namanya muncul dalam penyampaian Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (14/8/2026).

Dia menyita perhatian publik usai diperkenalkan sebagai salah satu penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH).

Pada kesempatan tersebut, Presiden menyebutkan bahwa perempuan asal Bogor tersebut berprofesi sebagai buruh harian pengupas bawang dengan nominal upah yang tergolong fantastis, yakni Rp700 ribu per kilogram.

"Hari ini hadir bersama kita ibu Susanah, dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengann upah Rp 700 ribu per kilogram," kata Presiden Prabowo Subianto, dikutip dalam TribunBobor, Minggu (16/8/2026).

Pernyataan tersebut memicu sorotan publik karena terdapat perbedaan mencolok antara narasi pidato dengan fakta lapangan mengenai profesi dan pendapatan harian Susanah. 

Selain isu nominal upah pengupas bawang, terdapat pula ketidaksesuaian data administratif wilayah, di mana dalam daftar 8 persona pidato kenegaraan tertulis Kota Bogor, sementara Prabowo menyebut Kabupaten Bogor.

PENGUPAS BAWANG VIRAL - Susanah, buruh pengupas bawang asal Bogor, diundang Presiden Prabowo ke Sidang MPR, viral setelah Presiden menyebut upah kupas bawangnya Rp700 ribu/kg.
PENGUPAS BAWANG VIRAL - Susanah, buruh pengupas bawang asal Bogor, diundang Presiden Prabowo ke Sidang MPR, viral setelah Presiden menyebut upah kupas bawangnya Rp700 ribu/kg. (Tribunnews.com/Youtube/tvr.parlemen)

Penjahit Majun dan Pencuci Ompreng Dapur MBG

Berdasarkan publikasi resmi di situs Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, terungkap gambaran utuh mengenai sosok serta mata pencaharian asli perempuan berusia 38 tahun tersebut. 

Ibu tiga anak lulusan Sekolah Dasar (SD) yang berdomisili di Cileungsi, Kabupaten Bogor ini rupanya melakoni dua pekerjaan fisik sekaligus setiap harinya demi menopang ekonomi keluarga bersama suaminya, Didim, yang bekerja sebagai buruh bangunan.

Pekerjaan pertama Susanah dimulai sejak pukul 07.00 WIB hingga siang hari sebagai penjahit kain majun yakni memanfaatkan kain perca sisa olahan tekstil untuk dijadikan lap pembersih. 

Dari pekerjaan menjahit ini, ia menerima upah riil sebesar Rp700 per kilogram, bukan Rp700 ribu seperti yang terucap dalam pidato. 

Dalam sehari, kapasitas produksi Susanah mencapai 20 kilogram kain majun, yang artinya ia mengantongi penghasilan sekitar Rp14.000 per hari dari usaha tersebut.

Setelah menyelesaikan pekerjaan menjahit pada siang hari, tepat pukul 13.00 WIB Susanah beralih ke profesi keduanya. 

Ia bekerja sebagai petugas pencuci ompreng di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau unit Dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kerja keras ini ia lakoni untuk membiayai kebutuhan pendidikan ketiga anaknya, di mana anak pertamanya telah lulus SMA, anak kedua duduk di bangku SMP, dan anak bungsu masih mengenyam pendidikan SD.

Konteks Pemaparan Digitalisasi Bantuan Sosial

Kehadiran Susanah dalam agenda kenegaraan tersebut sebenarnya dirancang sebagai representasi nyata keberhasilan program perlindungan sosial pemerintah. 

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya efisiensi dan transparansi pendaftaran bantuan agar tepat sasaran serta tidak membebani masyarakat miskin.

"Perlindungan sosial harus semakin tepat sasaran, mudah, dan bermartabat. Per hari ini, digitalisasi pendaftaran bantuan sosial telah berjalan di 143 kabupaten dan kota pada 26 provinsi. Lebih dari 1 juta keluarga telah terdaftar menuju target 12,5 juta keluarga," katanya.

Presiden menggarisbawahi bahwa efisiensi digitalisasi berhasil memangkas biaya perjalan dan verifikasi yang sebelumnya membebani warga kurang mampu.

"Sebelumnya, keluarga tidak mampu dapat mengeluarkan sekitar 150.000 Rupiah untuk perjalanan, dokumen, fotokopi, dan waktu kerja yang hilang. Sekarang pendaftaran dapat dilakukan tanpa biaya, gratis," katanya.

"Pemeriksaan kelayakan yang sebelumnya dapat memakan waktu 75 sampai 200 hari kini dapat kita selesaikan dalam hitungan menit atau jam," katanya.

"Rakyat tidak mampu tidak boleh membayar untuk membuktikan bahwa ia tidak mampu. Rakyat juga tidak boleh berkali-kali menyerahkan data yang sebenarnya sudah dimiliki negara," katanya.

Meskipun terjadi pergeseran data teknis terkait pekerjaan dan nominal upah Susanah dalam penyampaian pidato, keberadaan Susanah di gedung parlemen tetap menjadi gambaran nyata perjuangan buruh harian dalam memanfaatkan program jaminan sosial negara demi kelangsungan hidup keluarganya.

(Banjarmasinpost.co.id/Tribuntrends.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.