Masih Ada Wilayah Tak Terjangkau SPPG, Bumil, Busui dan Balita di Batang Belum Seluruhnya Terima MBG
muh radlis August 16, 2026 03:14 PM

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok rentan di Kabupaten Batang ternyata belum sepenuhnya menjangkau seluruh sasaran. 


Hingga kini, masih ada ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita di sejumlah wilayah yang belum menerima layanan pemenuhan gizi karena terkendala jangkauan distribusi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).


Koordinator Wilayah (Korwil) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kabupaten Batang, Puji Lestari, mengungkapkan bahwa wilayah Peranten dan Nggerlang menjadi daerah yang hingga kini belum seluruhnya terlayani dalam program MBG kelompok 3B (bumil, busui, dan balita non-PAUD).


"Memang betul, untuk bumil, busui, dan balita di wilayah Peranten dan Nggerlang, terutama yang belum menerima, karena memang belum bisa terjangkau dari SPPG aglomerasi di bawah," kata Puji kepada Tribunjateng, Minggu (16/8/2026). 


Menurutnya, kendala utama bukan pada sasaran penerima, melainkan keterbatasan jangkauan distribusi makanan dari dapur SPPG yang saat ini beroperasi. 


Kondisi geografis dan jarak tempuh menjadi tantangan sehingga pelayanan belum dapat menjangkau seluruh kelompok rentan.


Puji mengatakan, persoalan tersebut kini menjadi pekerjaan rumah bersama antara pengelola SPPG, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan agar seluruh masyarakat yang berhak memperoleh manfaat program dapat segera terlayani. 


Berbagai skema tengah dipertimbangkan, termasuk kemungkinan membangun pola kolaborasi dalam distribusi logistik.

Baca juga: Festival Cheng Ho 2026 Didorong Jadi Event Internasional


Satu di antara opsi yang sedang dikaji adalah penyediaan bahan baku dari SPPG yang kemudian disalurkan kepada penerima melalui jaringan kader di wilayah yang sulit dijangkau.


"Apakah nanti ada solusi yang bisa berkolaborasi antara SPPG, mungkin bahan baku dan logistik disiapkan dari SPPG, kemudian disalurkan melalui kader, itu masih kami bahas. Tetapi memang faktanya sampai sekarang belum semuanya ter-cover untuk kelompok 3B," jelasnya.


Program MBG 3B merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD sebagai kelompok yang berada pada periode penting 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). 


Program ini menjadi salah satu strategi nasional dalam mencegah stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu serta anak.


Dengan masih adanya wilayah yang belum terjangkau, diharapkan segera lahir solusi distribusi yang mampu menjembatani keterbatasan akses sehingga manfaat Program Makan Bergizi Gratis dapat dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok sasaran di Kabupaten Batang.


Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD di Kabupaten Batang terus diperluas sebagai upaya mempercepat penurunan stunting. 


Namun, hingga kini masih ada satu wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau, yakni Desa Pranten, Kecamatan Bawang, akibat kendala geografis dan akses distribusi.


Di sisi lain, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Batang, Joko Prasetijo, mengatakan pihaknya masih menunggu formulasi dari tim kabupaten agar masyarakat di wilayah paling ujung tersebut dapat segera menerima manfaat program MBG.


"Pranten itu daerah terjauh. Dan ternyata sampai sekarang belum terlayani. Nanti kebijakan dari tim kabupaten seperti apa, kita masih menunggu," kata Joko kepada Tribunjateng. 


Program MBG untuk kelompok sasaran 3B ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD merupakan amanat Peraturan Presiden Nomor 115. 


Di Kabupaten Batang, DP3AP2KB mendapat tugas tidak hanya mendistribusikan makanan bergizi, tetapi juga memberikan edukasi kepada keluarga penerima manfaat agar asupan gizi benar-benar dimanfaatkan secara optimal.


Menurut Joko, balita non-PAUD menjadi sasaran khusus karena anak yang telah bersekolah di PAUD sudah memperoleh layanan MBG melalui satuan pendidikan.


"Kita mendapat perintah untuk melakukan distribusi dan edukasi terhadap makanan bergizi gratis untuk sasaran 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. Kenapa non-PAUD? Karena yang PAUD sudah masuk di satuan pendidikan," jelasnya.


Dalam pelaksanaan program, DP3AP2KB menggandeng Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang tersebar di seluruh desa. 


Para pendamping bekerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menentukan pola distribusi yang paling efektif sesuai kondisi wilayah, mulai dari sistem titik pengambilan (drop point) hingga makan bersama.


Selain memastikan distribusi berjalan lancar, petugas juga melakukan pengawasan agar makanan bergizi benar-benar diterima dan dikonsumsi oleh sasaran, terutama ibu hamil yang menjadi kelompok penting dalam pencegahan stunting sejak masa kehamilan.


Meski sebagian besar wilayah Kabupaten Batang telah terlayani oleh jaringan SPPG, tantangan distribusi di daerah dengan akses sulit masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah. 


DP3AP2KB bersama tim kabupaten kini tengah menyusun langkah teknis, termasuk penyesuaian rute distribusi dan dukungan operasional, agar layanan MBG dapat menjangkau masyarakat di Desa Pranten dan wilayah terpencil lainnya.


Pemerintah berharap pemerataan distribusi MBG dapat memperkuat upaya penurunan stunting sejak 1.000 hari pertama kehidupan, sehingga seluruh ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di Kabupaten Batang memperoleh hak yang sama atas pemenuhan gizi yang berkualitas.


"Dinas kami melakukan supervisi, memastikan makanan yang diberikan sesuai sasaran, tepat sasaran, benar-benar sampai kepada penerima, dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya," tutupnya. (Ito) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.