Penulis: Asep Rahman
(Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi, aseprahman@unsrat.ac.id)
SETIAP kali memasuki musim kemarau, fokus kita hampir selalu tertuju pada hal-hal yang terlihat di permukaan: petani yang pusing karena tanaman jagung atau cengkihnya terancam gagal panen, krisis air bersih di permukiman, atau ancaman kebakaran lahan di lereng-lereng perbukitan.
Semua persoalan itu tentu penting dan berdampak langsung pada ekonomi warga. Namun, ada satu ancaman nyata yang sering kali luput dari perhatian kita bersama, yaitu menurunnya kualitas kesehatan masyarakat akibat paparan cuaca ekstrem.
Kemarau panjang bukan sekadar soal cuaca yang bikin gerah atau jalanan yang makin berdebu. Dari kacamata kesehatan masyarakat, perubahan suhu dan kelembapan udara yang drastis ini bertindak sebagai faktor pemicu munculnya berbagai penyakit.
Ketika suhu udara meningkat dan hujan tak kunjung turun dalam waktu lama, lingkungan fisik di sekitar kita berubah. Tubuh manusia secara alami dipaksa bekerja ekstra keras untuk beradaptasi. Masalahnya, tidak semua orang memiliki daya tahan tubuh yang prima, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Data dari BMKG secara konsisten menunjukkan bahwa fenomena kekeringan meteorologis di wilayah utara Sulawesi ditandai oleh rentetan Hari Tanpa Hujan yang cukup panjang. BMKG kerap mengeluarkan status siaga hingga awas untuk sejumlah daerah yang mengalami penurunan curah hujan secara drastis.
Peringatan dari BMKG ini sebetulnya bukan sekadar informasi prakiraan cuaca harian untuk menentukan jadwal jemuran, melainkan sinyal bahaya bahwa daya dukung lingkungan kita sedang melemah dan berisiko tinggi memicu masalah kesehatan populasi.
Dampak yang paling cepat terasa dari kemarau panjang adalah memburuknya kualitas udara. Dalam kondisi normal, hujan berfungsi sebagai "pembersih alami" yang menyapu debu dan polutan di udara agar jatuh ke tanah.
Bagi penderita asma atau anak-anak yang organ pernapasaannya masih sensitif, kondisi udara berdebu seperti ini bisa berujung pada komplikasi yang lebih serius seperti pneumonia.
Selain masalah pernapasan, kemarau panjang memicu krisis air bersih yang berdampak langsung pada sanitasi harian. Saat debit air sumur dan sungai menyusut, kualitas air yang tersisa biasanya menurun drastis karena konsentrasi kuman dan pencemar menjadi lebih pekat.
Warga yang kesulitan mendapat air bersih akhirnya terpaksa menggunakan air seadanya untuk kebutuhan memasak dan mencuci. Situasi ini menjadi pintu masuk utama bagi penyakit saluran pencernaan seperti diare, muntaber, hingga tipes. Jika tidak diantisipasi, penyakit-penyakit berbasis air ini bisa dengan cepat meluas menjadi kejadian luar biasa di pemukiman padat.
Ancaman lainnya adalah pajanan suhu panas ekstrem itu sendiri. Suhu udara yang melonjak tinggi dapat menyebabkan heat stress atau tekanan panas pada tubuh. Ketika cairan tubuh terkuas dengan cepat melalui keringat tanpa diimbangi asupan air yang cukup, dehidrasi berat dan penurunan tekanan darah bisa terjadi secara mendadak.
Para pekerja luar ruangan, mulai dari petani di ladang, nelayan di laut, hingga buruh bangunan menjadi kelompok yang paling menanggung risiko ini. Tanpa perlindungan dan waktu istirahat yang cukup, sengatan panas dapat membahayakan fungsi organ vital seperti ginjal dan jantung.
Menghadapi situasi ini, kita tidak bisa lagi mengandalkan pola pikir reaktif yang baru sibuk bertindak setelah fasilitas kesehatan penuh oleh pasien. Pemerintah daerah perlu lebih aktif memanfaatkan data iklim BMKG sebagai basis penentuan kebijakan pencegahan.
Wilayah-wilayah yang dipetakan mengalami kekeringan terparah harus diprioritaskan untuk mendapat bantuan pasokan air bersih yang layak konsumsi, edukasi kesehatan, serta kesiapan logistik obat-obatan di puskesmas setempat sebelum angka kesakitan melonjak.
Di tingkat dasar, masyarakat juga perlu mengambil langkah-langkah preventif yang masuk akal dan mudah diterapkan. Menggunakan masker saat berkendara atau beraktivitas di luar rumah yang berdebu, memastikan air minum dimasak sampai benar-benar mendidih, serta menjaga hidrasi dengan rajin minum air putih adalah tindakan sederhana yang efektif memangkas risiko penyakit.
Kemarau panjang memang fenomena alam yang tidak bisa kita cegah sepenuhnya, tetapi dampak buruknya terhadap kesehatan warga Sulawesi Utara sangat bisa kita tekan jika kita mau lebih peduli dan responsif sejak awal. (*)