TRIBUNPEKANBARU.COM - Aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, dilaporkan menunjukkan adanya perkembangan yang perlu diwaspadai.
Gunung api yang memiliki ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut (Mdpl) tersebut mulai memperlihatkan peningkatan aktivitas sejak awal Juli 2026.
Kondisi tersebut semakin terlihat dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Sinabung, terjadi lonjakan aktivitas kegempaan vulkanik yang cukup mencolok.
Peningkatan frekuensi gempa vulkanik tersebut menjadi salah satu indikator adanya perubahan aktivitas di dalam tubuh Gunung Sinabung.
Sehingga, per Kamis (13/8/2026) kemarin zona merah yang sebelumnya ditetapkan di radius 2 KM kini meluas menjadi 3 KM dari puncak gunung.
Saat dikonfirmasi, petugas pengamat Gunung Sinabung Armen Putra membenarkan adanya perubahan radius zona merah dari Gunung Sinabung.
Baca juga: Ini Pasti Gara-gara MBG, Emak-emak di Pekanbaru Menjerit Harga Ayam Potong Meroket
Baca juga: Karhutla Kian Menggila di Sekitar Perbatasan Kampar dengan Pekanbaru
Dirinya menjelaskan, keputusan ini diambil setelah pihaknya melihat catatan dari aktivitas vulkanik Gunung Sinabung yang mengalami peningkatan.
"Ya benar, untuk zona bahaya sudah kita perluas jadi 3 KM yang sebelumnya 2 KM. Tentunya ini melihat aktivitas vulkanik yang mengalami peningkatan beberapa waktu terakhir," ujar Armen, Minggu (16/8/2026).
Ketika ditanya apa saja yang menjadi tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik yang membuat zona kembali diperluas, Armen menjelaskan salah satu faktor utama ialah dari kegempaan yang meningkat.
Katanya, selama kurun waktu satu bulan terakhir pihaknya mencatat adanya peningkatan kegempaan vulkanik sepert low frekuensi dan gempa vulkanik dalam.
Dijelaskannya, perubahan ini dilihat secara data yang masuk melalui alat pendeteksi getaran atau seismograf dua kegempaan ini intensitasnya semakin meningkat.
Jika sebelumnya dua jenis gempa ini bisa terjadi selama 10 kali dalam satu bulan, kini berdasarkan catatan yang masuk kegempaan tersebut terjadi setiap hari.
"Memang di bulan-bulan sebelumnya gempa seperti itu ada terekam, cuma beberapa hari terakhir intensitasnya semakin meningkat," katanya.
Tak hanya itu, dirinya mengaku tanda-tanda lain terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik dari dalam perut Gunung Sinabung juga tampak dari keluarnya asap kebiruan dari puncak gunung.
Selain itu, adanya visual tanaman yang menguning di bagian badan gunung juga menunjukkan tanda-tanda adanya peningkatan suhu yang bersumber dari aktivitas vulkanik.
"Kita lihat juga ada asap kebiruan, itu tanda-tanda ada peningkatan suhu. Tapi kita masih belum tau di bagian mananya, namun tetap kita tetap harus waspada meningkat aktivitas vulkanik yang meningkat," ungkapnya.
Sebagai informasi, saat ini PVMBG menetapkan status Gunung Sinabung pada level II atau waspada.
Sehingga, masyarakat maupun wisatawan direkomendasikan agar tak memasuki area di zona 3 KM lingkar puncak gunung dan radius 4.5 km untuk sektoral selatan-timur.