Latih Fisik dan Mental, Begini Proses Panjang Para Paskibraka Nasional 2026
GH News August 16, 2026 04:09 PM
Jakarta -

Raut haru dan bangga terlihat pada wajah para anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional di Istana Negara saat momen pengukuhan pada Sabtu (15/8/2026) kemarin.

Mereka adalah 76 putra-putri terbaik dari seluruh Indonesia yang akan menjadi Paskibraka pada Upacara Hari Kemerdekaan RI di Istana Negara pada 17 Agustus 2026 mendatang.

Di balik tegaknya mereka berdiri dan senyuman yang terus nampak, ternyata mereka harus melewati proses seleksi yang panjang. Masing-masing dari mereka juga punya kisahnya sendiri.

Proses Seleksi yang Ketat

Salah satu anggota asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Muhammad Furqoen Hakim, bercerita bahwa proses seleksi menjadi Paskibraka Nasional sangat panjang dan ketat. Mereka harus diseleksi mulai dari tingkat sekolah, kecamatan/kota, provinsi, hingga nasional.

"Prosesnya banyak banget, Kak. Yang pertama itu dari proses seleksi sekolah, seleksi kabupaten, provinsi, dan juga verifikasi tingkat pusat kemarin," jelas Furqoen, dikutip dari laman Sekretariat Negara, Minggu (16/8/2026).

Latihan Fisik-Mental yang Panjang

Menjadi anggota Paskibraka Nasional bukanlah perkara mudah. Selain harus memiliki fisik yang tangguh, para peserta ternyata juga harus bertarung dengan mental mereka sendiri.

Hal ini diakui oleh Angelica Theona Putri, perwakilan dari Provinsi Jawa Timur. Mulanya, ia sempat minder hingga akhirnya percaya diri setelah mengikuti serangkaian pelatihan.

"Saya sendiri kurang percaya diri, sudah minder duluan melihat teman yang lebih baik dari saya. Saya sempat berpikir pasti tidak bisa. Ternyata, saya bisa melawan ketidakpercayaan diri itu dan berhasil," tuturnya.

Keraguan yang Tiba-tiba Datang

Sama seperti Angelica, anggota asal Papua Tengah, yakni Gladys Manuella Aibekob, juga sempat dilanda rasa ragu. Ia tak menyangka bisa lolos menjadi anggota Paskibraka pusat.

"Awalnya saya ragu, namun saya terus berusaha dan mencoba untuk hilangkan rasa ragu itu," tuturnya.

Namun, keraguan itu lambat laun terkikis karena pelatihan yang intensif. Dengan menjaga kesehatan dan fisik yang ketat, Gladys berharap bisa tampil maksimal saat upacara.

"Saya mulai jaga makan, Kak, supaya kesehatan saya tetap terjaga. Terus saya menyiapkan perlengkapan-perlengkapan saya agar tampil rapi dan baik," katanya.

Jadi Kebanggan Daerah Masing-masing

Walaupun banyak tantangan selama proses seleksi dan latihan, tetapi setiap anggota mempunyai perasaan bangga tersendiri. Mereka sudah menjadi perwakilan atau putra-putri terbaik dari provinsi asal masing-masing.

Seperti yang dirasakan Julita Rita Lestari dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Akhirnya, ia menembus tingkat nasional dan menjadi penantian panjang selama 15 tahun bagi daerahnya.

"Saya juga bangga, kenapa? Karena akhirnya setelah 15 tahun Kabupaten Kutai Kartanegara tidak mengirimkan untuk ke tingkat pusat, akhirnya setelah dari 26 ini saya bisa terpilih, puji Tuhan sekali," ungkapnya.

Cicin Yulianti
Jurnalis detikcom. Lulusan Jurnalistik Unpad, di detikcom sejak 2022. Spesialis menulis topik pendidikan, kampus, sekolah, beasiswa, riset, dan kehidupan pelajar/mahasiswa.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.