Karhutla di OKI Meluas, Puncak Kemarau Diprediksi Bergeser ke Oktober 2026
Sri Hidayatun August 16, 2026 04:32 PM

TRIBUNSUMSEL.COM,KAYUAGUNG – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) makin menjadi-jadi dan meluas setiap harinya.

Imbas siklus El Nino yang kuat, ancaman kemarau panjang buat tim pemadam kini harus memutar otak dan menguras tenaga ekstra.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan prediksi puncak kemarau awalnya diperkirakan jatuh pada Agustus ternyata bergeser. 

Musim kering kerontang justru diprediksi baru akan mencapai puncaknya pada periode September hingga Oktober 2026 mendatang.

"Karena El Nino kuat, jadi otomatis lebih panas. Ini terjadi dalam siklus 4 tahunan. Jadi kemaraunya lebih panjang," ujar Ferdian saat dijumpai awak media pada Minggu (16/8/2026) siang.

Menurut dia, rentetan titik api Kabupaten OKI terus bermunculan di berbagai kecamatan tanpa henti.

Kondisi ini buat sebaran petugas di lapangan mulai kekurangan personel karena banyaknya titik api yang harus segera dijinakkan.

Menyikapi eskalasi karhutla yang kian tinggi, khususnya di Kecamatan Tulung Selapan menjadi wilayah paling rawan dan fokus utama, langkah cepat langsung diambil.

Meskipun peralatan dan personel lokal disiagakan penuh, bala bantuan tetap didatangkan.

Baca juga: Karhutla OKI Capai 19 Kasus, Kabupaten OKI Kini Menyandang Status Zona Oranye Karhutla

"Dalam penanganan dan penanggulangan karhutla di OKI ini, personel telah ditambah. Kita datangkan pasukan Manggala Agni BKO dari Jambi sebanyak dua regu, dengan total jumlah 30 orang personel," jelasnya.

Kini, seluruh anggota telah disebar ke titik-titik krusial. Selain mengerahkan tenaga ekstra di jalur darat, pemadaman lewat jalur udara menggunakan helikopter water bombing juga intensif dilakukan di atas langit Tulung Selapan.

Namun, perjuangan para petugas pemadam di lapangan bukan tanpa halangan berat. Menyusutnya debit air secara drastis jadi tantangan terberat bagi tim darat berhadapan langsung dengan kobaran api.

"Saat ini titik muka air turun drastis, sehingga anggota dilapangan dalam pemadaman sangat kesulitan mencari sumber air," ungkapnya.

Kanal-kanal yang biasanya menjadi denyut nadi ketersediaan air kini mulai mengering. Sebagai jalan keluar darurat dari kendala krisis air ini, tim harus mengerahkan alat berat ke lokasi.

"Solusinya kita turunkan alat berat untuk memperdalam kanal-kanal yang mulai berkurang airnya. Dalam hal ini, kita juga terus bersinergi dengan perusahaan setempat," pungkasnya.

Ikuti dan gabung di saluran WhatsApps Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.