Alat Deteksi Overheat Motor Buatan Mahasiswa Untag Surabaya, Beri Peringatan Ini
Wiwit Purwanto August 16, 2026 05:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Pengalaman motor pribadi yang pernah mengalami overheat hingga mogok mendorong Fendy Febianto Ahmad, mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, mengembangkan alat untuk mendeteksi panas mesin sejak dini.

Sistem monitoring suhu blok mesin berbasis Internet of Things (IoT) itu dirancang tidak hanya membaca temperatur, tetapi juga memberikan peringatan kepada pengendara ketika suhu mulai memasuki kondisi berbahaya.

"Saya berpikir bagaimana kita bisa mengecek suhu sebelum terjadi overheat. Jadi sebelum overheat kita sudah bisa mengetahui lebih dahulu kondisi suhu mesin," ujar Fendy, Rabu (12/8).

Pakai Tiga Sensor, Peringatan Muncul Saat Suhu Berbahaya

Sistem yang dikembangkan sebagai tugas akhir tersebut menggunakan tiga sensor, yakni PT100, thermocouple tipe K, dan GY-906 berbasis MLX90614.

Baca juga: Kenali Tanda Mesin Mobil Overheat Saat Mudik, Jangan Abaikan Indikator Suhu

Ketiga sensor digunakan untuk memperoleh data suhu dari sejumlah bagian kendaraan. Data temperatur kemudian dapat ditampilkan melalui LCD sehingga pengendara bisa memantau kondisi mesin.

Fendy juga menambahkan sistem early warning untuk mengantisipasi panas berlebih. Ketika suhu mencapai batas tertentu, sistem memberikan peringatan melalui tiga indikator, yakni buzzer, tampilan status pada LCD, dan notifikasi melalui aplikasi Blynk.

"Kalau sistem mendeteksi suhu overheat, early warning akan aktif. Ada tiga indikator, yaitu buzzer, status di LCD, dan notifikasi dari IoT Blynk," jelasnya.

Ide tersebut berangkat dari pengamatan Fendy terhadap sistem indikator suhu pada sepeda motor. Menurutnya, pada sejumlah kendaraan, peringatan baru muncul ketika temperatur sudah cukup tinggi.

Padahal, panas berlebih yang dibiarkan dapat menimbulkan masalah pada mesin. Gejalanya antara lain suara mesin mengelitik dan jika terus berlanjut dapat menyebabkan kerusakan komponen hingga kendaraan mogok.

Baca juga: Untag Surabaya Angkat Isu Kekerasan Seksual Lewat Film Kita yang Menulis Cerita

Kondisi overheat juga bisa dipicu penggunaan kendaraan dalam kemacetan dalam waktu lama. Pada motor dengan sistem pendingin udara, risiko tersebut dapat semakin besar apabila pemilik kendaraan kurang memperhatikan kondisi oli.

"Motor saya pernah overheat, kemudian motor mogok dan mati. Dari situ saya berpikir, kita kadang lupa dengan kendaraan, lupa mengecek atau servis," ungkap Fendy.

Untuk menguji prototipe tersebut, Fendy memasangnya pada Honda PCX 150 miliknya. Motor kemudian digunakan berkendara hingga temperatur mesin meningkat untuk melihat respons sensor dan sistem peringatan.

"Dari pengujian PCX 150 yang saya rakit, saya bawa jalan sampai kondisi suhu sekitar 100 derajat dan indikator bawaan motor menyala," katanya.

Bisa Dikembangkan untuk Radiator hingga Motor Listrik

Dosen Teknik Elektro Untag Surabaya sekaligus dosen pembimbing Fendy, Lutfi Agung Swarga, S.T., M.T., mengatakan gagasan mahasiswa merupakan titik awal pengembangan teknologi.

Namun, menurutnya, gagasan tersebut tetap harus melalui pengujian dan penyempurnaan agar dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih matang.

"Memang ide-ide mahasiswa itu masih bersifat raw atau mentah. Jadi kami harus mengetes dulu, melihat variasi dari beberapa produk, kemudian kami kembangkan menjadi sesuatu yang lebih matang," kata Lutfi.

Menurut Lutfi, pemantauan suhu penting terutama pada sepeda motor kelas entry level yang banyak digunakan masyarakat. Ke depan, sistem yang dikembangkan Fendy tidak hanya diarahkan untuk membaca suhu pada satu titik blok mesin.

Baca juga: Nasib 5.300 PPPK Paruh Waktu Bangkalan di Ujung Kontrak, Ini Penjelasan BKPSDM

"Jadi bukan hanya satu titik suhu blok mesin saja. Radiator juga dicek, kemudian ada beberapa suhu yang saya cek juga. Modulnya dibuat kecil sehingga bisa ditempelkan di berbagai komponen mesin," jelasnya.

Pengembangan berikutnya dapat diarahkan untuk memantau temperatur radiator hingga komponen elektronik kendaraan seperti ECU dan sistem pengkabelan.

"Setiap komponen elektronik itu mengandung panas. Jadi bisa juga di bagian kelistrikan, kabel listrik, ECU, bahkan lampu. Arahnya nanti bisa menjadi lebih kompleks," ujarnya.

Lutfi menambahkan, konsep pemantauan tersebut juga berpotensi diterapkan pada kendaraan listrik. Meski tidak memiliki blok mesin seperti motor konvensional, kendaraan listrik tetap memiliki motor penggerak, roda, dan sistem kelistrikan yang menghasilkan panas.

"Motor listrik juga bisa. Bukan di blok mesinnya, tetapi pada motor penggeraknya. Bagian roda juga menghasilkan panas, kemudian pengkabelannya. Kalau listrik mengalir, pasti menghasilkan panas dan panas itu juga bisa dideteksi," katanya.

Melalui pengembangan tersebut, Fendy berharap alat buatannya tidak sekadar menjadi indikator suhu, tetapi juga memberikan waktu bagi pengendara untuk mengambil tindakan sebelum panas mesin berkembang menjadi overheat dan menyebabkan kendaraan mogok.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.