BOLASPORT.COM - Pebulu tangkis tunggal putra Prancis, Christo Popov, menjadikan kekalahan tipis pada babak kedua Kejuaraan Dunia 2025 di rumah sendiri mematahkan semangatnya.
Popov justru menjadikannya batu loncatan untuk menjalani 12 bulan yang luar biasa.
Tahun lalu, ia nyaris menaklukkan unggulan teratas Shi Yu Qi (China) pada babak 16 besar di hadapan penonton yang antusias di Paris. Meski demikian, Shi berhasil lolos dan akhirnya menjadi juara.
Bagi Popov, ada banyak pelajaran berharga dari penampilan tersebut. Sejak saat itu, ia menjadi salah satu pemain paling impresif di kancah kompetisi.
Ia mencetak sejarah bagi Prancis dengan menjuarai BWF World Tour Finals 2025. Dia juga memenangkan Kejuaraan Eropa, memimpin Prancis melaju ke final Thomas Cup serta memenangkan turnamen Super 750 pertamanya di Jepang pada Japan Open 2026.
Berbagai pencapaiannya sepanjang tahun ini menjadikannya salah satu favorit pada edisi 2026, dan Popov tampak percaya diri dengan peluangnya.
"Perasaan saya bagus. Saya tahu ini bisa menjadi turnamen yang sukses bagi saya, namun di saat yang sama, banyak pemain hebat yang sedang naik daun," kata Popov dilansir dari laman resmi BWF.
"Banyak pula pemain hebat yang tetap bertahan di jajaran elite. Menurut saya, tahun ini ada perpaduan yang menarik. Banyak orang berpeluang menjadi juara dunia atau meraih medali, dan persaingan di bagan pertandingan sangat sengit karena banyaknya pemain hebat."
"Ini bisa menjadi momen bagi siapa saja, dan saya berharap ini akan menjadi momen saya."
"Semangat kami sedang tinggi, dan menurut saya kami juga berada dalam tim yang solid. Semangat kami terjaga dan kami benar-benar berambisi meraih medali. Kami sangat ingin mempersembahkan medali tunggal putra pertama bagi kami."
"Kami memiliki tiga pemain tunggal putra luar biasa yang memiliki kualitas mumpuni, dan kini tinggal bagaimana kami bertanding di lapangan saja."
Popov menjelaskan seberapa besar kontribusi pertandingan itu terhadap peningkatan kemampuannya.
"Pertandingan melawan Shi Yu Qi pada babak 16 besar itu sangat sengit, dan setelah itu dia menjadi juara dunia. Jadi, ada banyak kenangan indah dan mungkin juga pengalaman berharga dari sana," tutur Popov.
"Seandainya pertandingan itu terjadi tahun ini, mungkin saya bisa tampil lebih baik. Menurut saya, kemampuan saya sebagai atlet saat ini lebih baik dibandingkan tahun lalu."
"Hal itu menunjukkan bahwa saya sebenarnya sudah sangat dekat dengan level seorang juara dunia. Setiap pertandingannya sangat ketat, namun itu juga berarti dia memiliki celah kelemahan dan saya bisa saja berada di posisinya."
"Siapa pun yang melawannya, bahkan Victor Lai sempat memiliki match point pada semifinal—bisa saja menang."
"Jadi, menurut saya semuanya bergantung pada detail-detail kecil di akhir pertandingan. Itulah pelajaran yang diberikan olahraga: terkadang kita kalah dengan skor 21 di gim ketiga, terkadang kita menang."
"Selama Anda memastikan detail-detail kecil berpihak pada Anda dan telah melakukan segala upaya terbaik, sisanya hanyalah bagian dari olahraga itu sendiri."
Setelah Kejuaraan Dunia, Popov menjuarai BWF World Tour Finals 2025, membawa Prancis meraih medali perak Thomas Cup 2026 dan memenangkan Japan Open 2026.
"Tetapi menurut saya tahun ini berbeda. Tahun lalu saya lebih konsisten, hampir selalu mencapai semifinal atau perempat final di setiap turnamen," ujar Popov.
"Tahun ini saya lebih fokus meraih hasil maksima seperti menjuarai German Open, Japan Open, atau Kejuaraan Eropa meskipun terkadang juga kalah pada babak pertama."
"Jadi, menurut saya itu bergantung pada kondisi fisik saya; mungkin saya kurang konsisten, tetapi saya mampu melangkah lebih jauh di turnamen."
"Saya lebih memilih tahun di mana saya memenangkan gelar juarameskipun tentu saja ada kalanya tersingkir pada babak pertama atau kedua daripada sekadar mencapai perempat final atau semifinal."
"Memang kurang konsisten, tetapi secara keseluruhan, itu membuktikan bahwa saya memiliki kemampuan untuk mengalahkan siapa pun. Itu lebih penting, dan menurut saya, itulah level serta karakter atlet yang saya butuhkan untuk menjadi juara dunia."
"Saat tampil di Kejuaraan Dunia, tujuan kita bukan sekadar mencapai perempat final atau semifinal, melainkan meraih kemenangan. Dan mungkin begitulah perjalanan tahun saya sejauh ini."
Pemain berusia 24 tahun itu menjelaskan perbedaan Anda sebagai pemain saat ini dibandingkan dengan 2025.
"Secara keseluruhan, tentu saja saya lebih percaya diri dan lebih tenang secara mental. Saya bisa menerima kenyataan bahwa kondisi saya tidak akan selalu 100 persen prima," aku Popov.
"Saat berada di peringkat 20 hingga 30 besar, Anda cenderung merasa khawatir akan posisi Anda karena bertahan di sana sangatlah penting."
"Namun, setelah meraih hasil konsisten dan bertahun-tahun berkompetisi di World Tour, Anda jadi paham bahwa ada kalanya performa naik dan turun."
"Menurut saya, kini lebih mudah bagi saya untuk menerima kekalahan di babak pertama. Saya sadar itu hanyalah hambatan sementara dan saya akan meraih hasil bagus di kesempatan berikutnya. Selama saya sudah memberikan yang terbaik, saya tidak akan menyesal."
Saar ditanya apakah penggemmar bulu tangkis akan melihat sesuatu yang berbeda minggu ini dibandingkan sebelumnya dari diri Popov, Popov menanggapinya dengan tenang.
"Ya, mungkin saja. Bisa dibilang ini adalah salah satu turnamen terpenting sejak World Tour Finals. Jadi, mungkin saya akan tampil dengan fokus yang lebih tajam," ujar Popov.
"Saya tahu bahwa di saat-saat krusial, bahkan jika saya merasa agak tertekan, saya mampu meningkatkan fokus dan mengeluarkan kemampuan terbaik saya."
"Dan mungkin saya akan sedikit lebih emosional. Kemenangan pada World Tour Finals pasti membuktikan kepada Anda bahwa Anda mampu melaju jauh hingga juara di turnamen-turnamen besar."
"Tepat sekali. Itu berarti saya bisa mengulanginya. Saya pernah melakukannya sekali, dan biasanya lebih mudah untuk mengulangi sesuatu yang pernah berhasil kita lakukan."
"Intinya, saya tahu saya mampu melakukannya; sekarang tinggal pembuktian apakah hari ini saya bermain lebih baik daripada lawan."
Adik dari pebulu tangkis Toma Junior Popov juga mengungkapkan pesan yang diberikan kepada ayahnya.
"Dia sudah melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan kami. Saya yakin dia akan melatih kami sebaik mungkin. Kami menjalani Kejuaraan Dunia ini bersama-sama, baik menang maupun kalah, kami menghadapinya bersama," tutur Popov.