nextren.com - Schneider Electric mengumumkan studi mengenai risiko arc flash pada arsitektur daya 800 VDC untuk data center AI, Rabu (6/8/2026).
Studi ini muncul ketika industri mulai menyiapkan sistem distribusi listrik bertegangan lebih tinggi untuk menopang rak komputasi AI dengan kebutuhan daya ratusan kilowatt hingga mendekati 1 megawatt (MW).
Arc flash merupakan pelepasan energi listrik melalui busur listrik yang dapat menghasilkan panas ekstrem, tekanan, serta kerusakan peralatan. Schneider menganalisis dua arsitektur 800 VDC yang mewakili desain di tingkat rak dan fasilitas. Perusahaan menggunakan simulasi serta digital twin ETAP untuk memodelkan skenario gangguan dan sistem perlindungan.
Hasil studi menunjukkan risiko arc flash pada sistem 800 VDC tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya tegangan. Desain arsitektur, penempatan kapasitor, lokasi gangguan, serta kecepatan perangkat proteksi dalam memutus arus justru menjadi faktor penting.
"Distribusi daya 800 VDC merupakan perubahan besar dalam desain data center, tetapi juga menghadirkan aspek keselamatan yang perlu dikaji secara menyeluruh," kata Manish Kumar, EVP Secure Power & Data Centers Schneider Electric.
Menurut Kumar, kerangka analisis tersebut dapat membantu engineer memahami karakteristik gangguan, menentukan praktik kerja yang aman, serta merancang sistem proteksi ketika industri beralih ke arsitektur bertegangan lebih tinggi.
Risiko Arc Flash 800 VDC Bisa Ditekan
Pada arsitektur 800 VDC di tingkat rak atau power rack/sidecar, Schneider mencatat energi insiden berada jauh di bawah ambang 1,2 cal/cm² dalam studi kasus dengan asumsi konservatif, bahkan tanpa perangkat proteksi tambahan.
Sementara itu, desain 800 VDC terpusat di tingkat fasilitas menunjukkan potensi energi insiden lebih tinggi dalam kondisi tertentu. Namun, ketika durasi kontribusi arus gangguan dibatasi menggunakan perangkat proteksi, energi arc flash dapat ditekan ke tingkat yang menurut Schneider secara umum sebanding dengan arsitektur AC yang lazim digunakan.
Studi ini juga menyoroti peran kapasitor. Pada sistem 800 VDC, pelepasan energi dari kapasitor dapat mendominasi milidetik pertama ketika gangguan terjadi. Karena karakter arus berubah sangat cepat, metode perhitungan DC sederhana menurut penelitian tersebut dapat menghasilkan estimasi risiko yang terlalu konservatif.
Schneider karena itu menggunakan simulasi transien dan digital twin ETAP untuk memodelkan topologi sistem, respons konverter, logika switching, serta koordinasi perangkat proteksi dengan lebih rinci. ETAP 2026 sendiri telah membawa pemodelan transient DC arc flash berbasis fisika untuk kebutuhan seperti data center dan sistem penyimpanan energi.
Rak AI Mulai Mendekati 1 MW
Dorongan menuju 800 VDC berkaitan langsung dengan meningkatnya kepadatan komputasi AI. Schneider menyebut sistem distribusi AC dan 48 VDC konvensional mulai menghadapi keterbatasan ketika kebutuhan rak melampaui sekitar 400 kW. Memindahkan konversi AC-ke-DC ke power rack terpisah juga dapat mengurangi kepadatan konektor dan menyisakan lebih banyak ruang bagi perangkat komputasi.
Schneider juga mengklaim pendekatan 800 VDC dapat mengurangi kebutuhan tembaga hingga sekitar 45 persen dan meningkatkan efisiensi keseluruhan hingga 5 persen. Manfaat tersebut menjadi semakin relevan karena kebutuhan arus yang sangat besar pada sistem bertegangan rendah menuntut konduktor lebih besar dan memakan ruang fisik di sekitar rak.
NVIDIA bahkan menargetkan penggunaan infrastruktur 800 VDC untuk mendukung rak TI berdaya 1 MW atau lebih mulai 2027. Produsen GPU tersebut menilai distribusi 54 VDC yang digunakan saat ini tidak dirancang untuk kebutuhan rak skala megawatt. NVIDIA bekerja sama dengan sejumlah perusahaan di ekosistem daya, termasuk Schneider Electric, Eaton, dan Vertiv, dalam pengembangan arsitektur tersebut.
Perubahan ini memperlihatkan bahwa perlombaan AI tidak lagi hanya berkutat pada performa GPU. Infrastruktur listrik yang memasok ribuan akselerator juga harus berevolusi untuk mengikuti lonjakan kebutuhan daya.
Keselamatan Jadi Tantangan Berikutnya
Namun, transisi menuju 800 VDC membawa persoalan baru. Schneider mengatakan analisis arc flash telah umum digunakan pada data center berbasis AC, tetapi belum ada standar atau panduan industri yang berlaku luas secara khusus untuk mengelola bahaya pada sistem 800 VDC yang dipasok melalui konverter.
Temuan Schneider menunjukkan risiko tersebut dapat dikelola jika arsitektur dan sistem perlindungannya dirancang dengan tepat. Namun, hasil ini tetap berasal dari studi Schneider Electric sehingga tidak dapat diartikan bahwa seluruh implementasi 800 VDC otomatis memiliki tingkat keselamatan yang sama.
Ketika rak AI bergerak menuju skala megawatt, keberhasilan data center generasi berikutnya tidak hanya bergantung pada berapa banyak GPU yang dapat dipasang. Cara fasilitas mengirim, mengendalikan, dan mengamankan listrik hingga ke setiap rak akan menjadi bagian yang sama pentingnya dalam perlombaan membangun infrastruktur AI.