Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang mengira menurunkan berat badan berarti harus makan sesedikit mungkin. Padahal, menurut Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, anggapan tersebut tidak tepat.
Porsi makan yang diberikan dokter gizi justru terkadang terlihat lebih banyak karena tetap mencakup berbagai jenis makanan, seperti nasi, protein, dan serat.
"kalau dilihat dalam porsi makan pun itu sebenarnya banyak," ujar Erwin kepada Kesehatan Liputan6.com dalam sebuah kesempatan pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Menurutnya, yang terpenting dalam menurunkan berat badan bukan sekadar mengurangi porsi makan, melainkan memastikan makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuh dan tetap seimbang.
"Jadi, yang penting adalah makan itu harus sesuai dengan kebutuhan. Itu yang nomor satu. Sesuai dengan kebutuhan, nomor dua harus seimbang," tambah Erwin.
Erwin menjelaskan bahwa makanan dengan kandungan kalori tinggi perlu dibatasi. Sementara itu, makanan yang tidak terlalu tinggi kalori dapat dikonsumsi dalam jumlah lebih banyak.
"Makanya kelihatannya banyak, tapi secara kalori itu tidak terlalu banyak," ujarnya.
Dia, menambahkan, makanan cepat saji dan makanan kemasan pada umumnya termasuk jenis makanan yang perlu diperhatikan karena memiliki kandungan kalori yang tinggi.
Namun, kebutuhan setiap orang untuk menurunkan berat badan berbeda. Ada yang mengalami kelebihan berat badan karena makan terlalu banyak, sementara yang lain mungkin memiliki kebiasaan mengonsumsi camilan terlalu sering.
Oleh sebab itu, dokter gizi tidak serta-merta melarang pasien mengonsumsi makanan tertentu. Hal pertama yang dilakukan adalah memahami kebiasaan makan dan gaya hidup pasien.
"Dan, biasanya kalau ke dokter gizi, terutama kita tidak buru-buru, oh, ini enggak boleh, ini enggak boleh, itu. Tapi kita tanya dulu kebiasaan atau pola makannya bagaimana, aktivitasnya bagaimana, istirahatnya bagaimana," ujar Erwin.
Setelah mengetahui kondisi tersebut, dokter gizi dapat menyusun pola makan dengan porsi yang seimbang dan jumlah kalori sesuai kebutuhan tubuh.
Erwin mengatakan bahwa obesitas terjadi ketika surplus kalori berlangsung secara terus-menerus. Oleh sebab itu, satu kali makan dalam jumlah banyak tidak serta-merta membuat seseorang mengalami obesitas.
"Karena obesitas itu hanya terjadi kalau terjadi surplus kalori yang berlangsung setiap hari," ujarnya.
"Jadi bukan yang, oh, saya hari ini makan karena diundang makannya banyak jadi gemuk, enggak. Kalau hari ini undangan, besok undangan hajatan, setiap hari makannya banyak, nah, itu yang menyebabkan obesitas," lanjut Erwin.