TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Di tengah sengitnya pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Medan, Raden Pirngadi Gonggoputro tak mengangkat senjata. Keahliannya sebagai dokter menjadi jalan lain untuk ikut berjuang.
Tangannya menyelamatkan para pejuang yang terluka akibat tembakan Netherlands Indies Civil Administratio (NICA) dan Sekutu.
Bahkan dengan keterbatasan peralatan medis ketika itu, Pirngadi dikenal piawai melakukan operasi.
Salah satu kisah yang paling dikenang terjadi pada 26 Juni 1946. Seorang pemuda bernama Darwis, anggota Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Medan, terluka setelah tertembak Sekutu.
Peneliti sejarah sekaligus penulis Sumatera Utara, Koko Hendri Lubis, mengatakan kondisi Darwis kala itu membutuhkan tindakan medis.
Di tengah peralatan yang jauh dari memadai, Pirngadi melakukan operasi dan berhasil menyelamatkan nyawanya.
“Dia sangat jago melakukan operasi medis. Banyak pejuang yang tertembak oleh NICA dan Sekutu berhasil ditolongnya.
Contohnya ada pemuda anggota Palang Merah Indonesia Cabang Medan sewaktu tertembak Sekutu pada 26 Juni 1946. Dokter Pirngadi berhasil menolong nyawanya berkat operasi itu,” kata Koko.
Kisah Darwis menjadi salah satu jejak Pirngadi dalam perjalanan revolusi kemerdekaan di Sumatera Utara.
Menurut Koko, kemampuan dan keberpihakan Pirngadi kepada para pejuang membuat sosoknya turut diperhitungkan dalam masa revolusi.
Pemerintah Republik Indonesia kemudian mengangkatnya sebagai dokter militer dengan pangkat Letnan Kolonel Dokter.
Namun kiprahnya itu juga membuat Pirngadi berhadapan dengan NICA.
Pada 21 Juli 1947, ketika berlangsung Agresi Militer Belanda I, Pirngadi ditangkap. Ia sempat ditahan di Belawan sebelum kemudian dipindahkan ke kamp tawanan di Sabang, Aceh.
Jauh sebelum masa revolusi, nama Pirngadi sebenarnya sudah dikenal masyarakat Medan.
Pria kelahiran Cilegon, 19 Oktober 1899 itu memiliki nama lengkap Raden Pirngadi Gonggoputro.
Ia mendapat julukan “Soetomo van Deli”, sementara masyarakat pada masa itu juga akrab memanggilnya “Pak Pir”.
Pirngadi mulai bertugas di Medan pada 1927. Ia dipindahkan sebagai Indisch Arts atau dokter pribumi dan bekerja di fasilitas kesehatan umum milik pemerintah kolonial.
Pada tahun yang sama, Pirngadi juga aktif dalam organisasi kepanduan Indonesische Oostkust Padvinderij (IOP) dan dipercaya menjadi ketua.
Aktivitasnya tak berhenti di bidang kesehatan. Ia juga bergabung dengan Boedi Oetomo yang kemudian berganti nama menjadi Parindra Cabang Medan.
Di organisasi tersebut, Pirngadi duduk sebagai pengurus bersama sejumlah tokoh, di antaranya Dr. R. Abdul Manap, R. Prawirosoemo dan R.M. Sarsidi.
Setelah Gemeente Ziekenhuis atau Rumah Sakit Kota Medan berdiri di Jalan Serdang, perjalanan karier Pirngadi semakin berkembang.
Berdasarkan surat keputusan tertanggal 16 Januari 1939, ia diangkat menjadi Hoofd Gouvernements Indisch Arts atau pimpinan dokter pribumi pemerintah.
Namun, menurut Koko, Pirngadi tak hanya melayani pasien di rumah sakit.
Ia juga membuka praktik di luar dengan biaya yang terbilang murah dibandingkan dokter Belanda pada masa tersebut.
Tarifnya berkisar satu hingga satu setengah gulden. Bahkan, pasien yang tidak mampu terkadang tidak diminta membayar.
“Ia suka praktik luar. Tarifnya sangat murah. Dari f.1 sampai f.1,5. Tarif dokter Belanda jauh lebih mahal. Malahan ia sering tak menarik bayaran jika pasiennya kurang mampu,” ujar Koko.
Kemampuan Pirngadi menangani pasien juga tidak hanya dirasakan para pejuang kemerdekaan.
Koko menyebut Pirngadi pernah menangani banyak warga Tionghoa yang bekerja sebagai penarik becak atau tricha dan mengalami persoalan akibat kebiasaan mengisap candu.
“Mereka dirawat hingga sembuh oleh beliau,” katanya.
Perjalanan panjang Pirngadi sebagai dokter berakhir pada 2 Januari 1967. Ia meninggal dunia di Jakarta karena faktor usia.
Namanya kemudian diabadikan pada rumah sakit tempatnya pernah mengabdikan diri.
Pada 1979, Rumah Sakit Kota Medan berganti nama menjadi Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan.
Kini, nama Pirngadi begitu melekat dengan salah satu rumah sakit tertua di Kota Medan. Namun sosok di balik nama tersebut belum tentu banyak dikenal masyarakat.
Bagi Koko, Pirngadi bukan sekadar dokter yang pernah memimpin rumah sakit. Kiprahnya menjangkau masa ketika mempertahankan nyawa seorang pejuang juga menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Dari ruang operasi dengan perlengkapan terbatas, praktik berbiaya murah untuk masyarakat, hingga menjadi dokter militer berpangkat letnan kolonel, Pirngadi meninggalkan jejak perjuangannya sendiri di Kota Medan.
(cr26/tribun-medan.com)