Refleksi HUT ke-81 RI di Mata Warga Jogja: Rasanya Masih Seperti Terjajah
Yoseph Hary W August 16, 2026 08:03 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Usia Republik Indonesia yang resmi menginjak 81 tahun per 17 Agustus 2026, jadi momentum refleksi bagi segenap elemen masyarakat. 

Di balik riuh gemerlap perayaan kemerdekaan, riak keprihatinan dan keluhan terkait kondisi ekonomi serta tata kelola pemerintahan masih nyaring terdengar dari sudut-sudut wilayah DI Yogyakarta.

​Memasuki usia delapan dekade lebih, sebagian warga menilai perjalanan bangsa ini masih menghadapi ganjalan besar, terutama dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat yang merata.

Seperti masih dijajah ​

Warga Cangkringan, Kabupaten Sleman, Wawan Kurniawan, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya saat menggambarkan situasi berbangsa saat ini. 

​"Saya merasa tahun ini tahun yang sangat-sangat berat sekali, dan pemerintah seakan buta dengan kesejahteraan masyarakatnya. Rasa-rasanya kita seperti masih dijajah sekarang," katanya, Minggu (16/8/26).

​Wawan menyebut, tantangan terbesar bangsa saat ini adalah pembenahan sistemik dan evaluasi total terhadap arah kepemimpinan nasional agar Indonesia tidak stagnan jalan di tempat.

Baca juga: Indonesia Belum Capai Kemerdekaan Sejati, PSAD UII Soroti Masalah Hak Pendidikan, Demokrasi Ekonomi

Ia pun mendesak komitmen nyata pemerintah, untuk terus mendengarkan jeritan suara rakyat, demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang hakiki.

"Saya yakin, rakyat juga sudah bosan dengan seremonial-seremonial kemerdekaan yang diulang-ulang setiap tahun. Sekarang yang dibutuhkan itu komitmen nyata, agar tidak ada lagi rakyat yang menderita," tegasnya.

​Sementara itu, warga Kasihan, Kabupaten Bantul, Eriko, menandaskan, esensi hari kemerdekaan sebagai warisan sejarah tak boleh pudar dari ingatan rakyat.

Mau dibawa ke mana Indonesia?

Meski, ia mengakui, momen sakral hari jadi Indonesia tahun ini jatuh di tengah carut-marut yang membuat sebagian masyarakat merasakan ketidakpastian.

​"Kemerdekaan itu kan sejarah. Yang penting rakyatnya tetap menghargai perjuangan, tetap mencintai bangsanya dengan cara masing-masing," tegasnya.

"Tapi, di sisi lain, mengkritisi pemerintah itu tetap jadi hal wajib. Karena memang kondisinya seperti ini. Ya, ekonomi, politik, semuanya jadi sorotan, mau dibawa ke mana Indonesia ini," urai Eriko.

​Ia pun memaparkan, tantangan tersulit dewasa ini adalah bagaimana mengisi kemerdekaan dengan pembangunan manusia yang relevan, selaras angan founding fathers.

Baca juga: Suara Hati Warga Bantul: Kemerdekaan Indonesia Belum Dirasakan Secara Substantif

Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), supaya masyarakat Indonesia tidak tertinggal dan mampu bersaing secara global.

​"Yang paling susah memang mengisi kemerdekaannya. Kapasitas rakyat harus terus di-upgrade agar cerdas, serta mampu bersaing. Itu tugas mendasar pemerintah, jangan biarkan rakyat bodoh dan miskin," pungkasnya. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.