Apa yang Terjadi 12 Jam Sebelum Kemerdekaan RI? Ini Momen-momen Pentingnya
GH News August 16, 2026 08:08 PM
Jakarta -

Bangsa Indonesia secara resmi menyatakan kemerdekaan dan bebas dari penjajahan dengan ditandai pembacaan naskah Proklamasi pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB. Namun, seperti apa kondisi 12 jam sebelumnya?

Sebelum naskah tersebut dibacakan, ada berbagai pergolakan dan momen-momen sejarah yang terjadi. Berikut dirangkum dari arsip detikEdu.

12 Jam Sebelum Kemerdekaan RI

Penculikan Soekarno dan Moh Hatta

Satu hari sebelum pembacaan naskah Proklamasi, golongan muda bangsa Indonesia menculik Soekarno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Kejadian itu kemudian dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok.

Keduanya diculik di rumahnya masing-masing pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945 yang bertepatan dengan pembukaan sidang PPKI. Penculikan itu berjalan lancar karena didukung oleh komandan PETA di Jakarta dan Purwakarta.

Pemuda Menteng 31 membawa keduanya ke Rengasdengklok yang merupakan wilayah komando PETA Purwakarta. Penculikan itu tak sia-sia, dengan kesepakatan antara Achmad Soebardjo (golongan tua) dan Wikana (golongan muda) untuk menyiapkan proklamasi kemerdekaan secepatnya.

Persiapan Pembuatan Naskah Proklamasi

Dalam buku dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, setelah mencapai kesepakatan, Soekarno-Hatta dijemput kembali ke Jakarta. Mereka tiba di Jakarta pada 16 Agustus 1945, sekitar pukul 22.00 WIB, dan menuju kediaman masing-masing untuk beristirahat sejenak.

Dengan perjanjian yang sudah dibuat, Soebardjo menghubungi Hotel Des Indes agar disediakan ruang rapat. Namun, pihak hotel menolak karena ada larangan bahwa setelah pukul 22.00 tidak boleh ada kegiatan.

Sempat kebingungan, Mur Soebardjo akhirnya menghubungi perwira angkatan laut Jepang yang bersimpati kepada bangsa Indonesia, yakni Laksamana Tadashi Maeda. Ia meminjam ruangan di rumah Maeda untuk mempersiapkan proklamasi dan Maeda bersedia dengan setengah hati.

Seluruh perwakilan bangsa Indonesia, baik golongan pemuda maupun golongan tua, diminta datang ke rumah Maeda pada pukul 00.00. Di lokasi yang kini jadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi inilah rapat untuk persiapan proklamasi dilakukan.

Perumusan Naskah Proklamasi

Di rumah Maeda telah berkumpul banyak orang yang terdiri dari anggota PPKI, pemimpin pemuda, serta beberapa pemimpin pergerakan. Hatta menyatakan bahwa yang hadir sekitar 40-50 orang dan banyak lagi pemuda yang menunggu di luar pekarangan rumah Maeda.

Teks naskah Proklamasi semula akan diberi judul "Maklumat Kemerdekaan" yang diusulkan oleh Mr Iwa Kuwumasumantri. Usul ini diberikan atas pertimbangan bahwa maklumat berarti suatu keputusan dari suatu badan atau pemerintah.

Tetapi setelah dipikir kembali, bangsa Indonesia saat itu memerlukan keputusan yang menyatakan kebebasan dari penindasan penjajah dan menunjukkan keberadaan bangsa Indonesia yang merdeka. Oleh karena itu, Mr Iwa mengusulkan agar judul teks tersebut diubah menjadi "Proklamasi".

Perumusan Naskah Proklamasi berlangsung pada 17 Agustus 1945 menjelang pukul 03.00 di ruang makan rumah Maeda. Soekarno, Hatta, dan Mr Subardjo duduk di sebuah meja bundar.

Teks kemudian diberi judul "Proklamasi". Dialog pertama yang dihasilkan dari kesepakatan ketiga tokoh nasional itu adalah: "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia." Sebuah kata-kata keramat yang merupakan amanat penderitaan rakyat Indonesia.

Usai rampung, naskah itu dibawa ke serambi rumah Maeda dan dibacakan perlahan-lahan dan berulang-ulang kepada para pejuang kemerdekaan. Sesudahnya, ia bertanya kepada hadirin yang hadir, setuju atau tidaknya rumusan itu.

Jawaban yang diterima Soekarno adalah gemuruh setuju dan mereka saling melempar pendapat terkait siapa yang akan menandatangani Naskah Proklamasi. Keputusan dari perbedaan pendapat itu berujung pada usul Sayuti Melik yang menyatakan agar naskah proklamasi hanya ditandatangani oleh dua orang saja, yaitu Soekarno dan Hatta, dan usul tersebut diterima para hadirin dengan tepuk tangan.

Pengetikan Naskah Proklamasi oleh Sayuti Melik

Setelah persetujuan, Soekarno meminta agar Sayuti Melik menjadi pengetik naskah proklamasi tersebut. Ada tiga perubahan kata yang diketik oleh Sayuti Melik, yakni "tempoh" menjadi "tempo", "wakil-wakil bangsa Indonesia" berubah menjadi "Atas Nama Bangsa Indonesia", dan penulisan hari-bulannya.

Seusai diketik, naskah proklamasi dibawa ke tempat hadirin untuk ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Pertemuan selesai dan para hadirin mulai bergerak meninggalkan ruangan, mempersiapkan pembacaan proklamasi kemerdekaan. Satu sama lain, hadirin saling memberi ucapan selamat.

Maeda sang tuan rumah juga turun dari kamarnya dan menemui Soekarno-Hatta. Ia mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat atas hasil yang dicapai.

Soekarno-Hatta juga menyampaikan rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada Maeda. Selanjutnya, keduanya meninggalkan rumah beliau.

Detik-detik Proklamasi RI

Perumusan Proklamasi Kemerdekaan RI diperkirakan selesai pada 17 Agustus 1945 pukul 04.00. Pada pukul 05.00 pagi, para pemimpin bangsa dan tokoh pemuda keluar dari rumah Maeda.

Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia di rumah Soekarno, di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Di tengah kondisi itu, persoalan baru sempat timbul.

Golongan muda memberitahukan kepada rakyat Jakarta dan sekitarnya untuk datang ke lapangan IKADA (Ikatan Atletik Djakarta, kini jadi kawasan Monas) untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan. Namun, Soekarno menolak dan proklamasi tetap terjadi di rumahnya.

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di rumah Soekarno cukup sibuk, seperti:

1. Wakil Wali Kota Soerwijo memerintahkan Mr Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti mikrofon dan pengeras suara.

2. Sudiro memerintahkan S Suhud untuk mempersiapkan tiang bendera. Karena tegang, Suhud tidak ingat bahwa di rumah Soekarno ada tiang bendera besi. Ia malah mencari bambu, membersihkannya, memberinya tali, dan menanamnya di teras rumah.

3. Fatmawati tengah menjahit bendera Merah Putih untuk dikibarkan saat upacara.

Rumah Soekarno ramai dipadati rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang mulai gelisah karena waktu semakin siang dan Proklamasi belum juga dimulai. Mereka juga khawatir Proklamasi ini akan dikacaukan oleh Jepang.

Hal ini bisa terjadi karena Soekarno sakit panas dingin dan baru tidur setelah selesai merumuskan teks Proklamasi. Suasana tegang, rakyat mulai tak sabar dan mendorong Soekarno untuk segera membacakan teks Proklamasi.

Namun, Bung Karno tak ingin membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta. Lima menit sebelum pukul 10.00 pagi, Hatta datang dengan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno.

Melihatnya, Bung Karno bangkit dan berpakaian setelan putih-putih, dan keduanya menuju tempat upacara. Upacara berlangsung sederhana, tanpa protokol.

Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi. Usai teks Proklamasi dibacakan, acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya yang spontan dinyanyikan hadirin.

Upacara tersebut hanya berlangsung satu jam dengan penuh khidmat. Setelah selesai, gema lonceng kemerdekaan terdengar di seluruh pelosok Nusantara dan kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Devita Savitri
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom sejak 2023 lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Tertarik dan aktif meliput isu terkait pendidikan dasar dan menengah. Wartawan Terproduktif Kemendikdasmen 2025.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.