Kisah Adolf Lembong, Gerilyawan Minahasa di Filipina Yang Ditakuti Jepang, Dijuluki Che Guevara
Gryfid Talumedun August 16, 2026 08:39 PM

 

"SELAMAT tinggal tanah airku tercinta, Surga Timur yang runtuh rebah, Kuserahkan jiwa papah ini kepadamu. Kalaupun ia segar dan remaja, kan kuserahkan jua untuk bahagiamu. Betapa manis ajal agar kau hidup."

Syair yang ditulis oleh José Rizal, pahlawan nasional Filipina, itu kubaca di depan patung Adolf Lembong di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kairagi, Manado, beberapa tahun lalu.

Setelah itu, aku menuliskan kisah Adolf Lembong langsung di tempat tersebut. 

Cara menulis yang ekstrem ini kupilih demi memperoleh proximity (kedekatan). Maklum, tidak ada narasumber dekat Adolf Lembong yang dapat diwawancarai. 

Satu-satunya sumber informasi saat itu berasal dari Wikipedia.

Baca juga: Wendy Rarung Bawa Pulang Perak Asia, Kadispora Sulut Apresiasi Prestasi Atlet Hapkido

Cara ini juga kupakai untuk kepentingan dramatisasi, elemen penting untuk melukiskan kisah sosok yang penuh dinamika seperti Adolf Lembong.

Sendirian di area pemakaman pada sore menjelang malam menghadirkan suasana mencekam. 

Namun, justru atmosfer itulah yang kucari ; efek merinding yang menginspirasi. 

Bulu kuduk yang berdiri membuat emosi kreatif bergejolak dan pikiran dipenuhi daya cipta tanpa batas, tentu tetap dalam batasan logika teliti dari otak yang dingin. 

Aku seakan menembus lorong waktu dan tiba di Filipina pada 7 Januari 1945.

Kala itu, konvoi puluhan tentara Jepang dihadang oleh sekelompok gerilyawan. Tembak-menembak sengit tak terelakkan. 

Pada babak awal Perang Pasifik, tentara Jepang menyandang reputasi mengerikan karena berhasil menghajar tentara Amerika Serikat, Inggris, dan Rusia, tiga negara adidaya militer dunia.

Namun hari itu, mereka kehilangan sengat. 

Tentara Dai Nippon tumpas di tangan sekelompok gerilyawan asal Sulawesi. Pemimpinnya bernama Adolf Lembong.

Lembong awalnya merupakan opsir muda KNIL yang bertugas sebagai operator radio.

Saat Jepang menginvasi Indonesia, ia ditawan dan dijadikan budak.

Lembong berhasil melarikan diri, lalu bergabung dengan tentara AS yang tengah bergerilya di Pulau Luzon. 

Ia dipercaya memimpin Skuadron 270 yang beranggotakan rekan-rekannya sesama asal Minahasa, lengkap dengan pangkat Letnan Dua. 

Skuadron ini merupakan bagian dari Divisi ke-6 Tentara Amerika Serikat.

Kiprah Lembong sebagai gerilyawan sungguh menyerupai adegan film.

Ia berkali-kali menyusup ke daerah musuh dengan menyamar, hingga merebut gudang logistik dan peralatan militer Jepang. 

Bak jagoan Hollywood yang tetap menemukan asmara di tengah sengkarut perang, ia menjalin kasih dengan Asuncion Angel, wanita asal Filipina.

Kisah cinta mereka sangat mengharukan. Angel memutuskan menikahi Lembong dan ikut dengannya saat kembali ke Indonesia.

Ketika Lembong memilih keluar dari KNIL demi bergabung dengan Republik Indonesia, kehidupan mereka jatuh miskin. 

Angel tidak pernah mengeluh; ia tetap setia menemani suaminya, bahkan ikut berjuang demi Indonesia.

Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, Lembong bergabung dengan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) di Yogyakarta dan turut bertempur melawan Belanda pada Agresi Militer I. 

Lembong sempat diwacanakan menjadi Atase Militer Indonesia di Filipina mendampingi Sam Ratulangi yang ditunjuk sebagai Duta Besar.

Penempatan ini bertujuan untuk menggalang kekuatan di Filipina dengan misi utama membebaskan Minahasa dari pendudukan Belanda.

Sayang, rencana itu tandas akibat Agresi Militer II. Lembong berniat kembali bergerilya, namun ia ditangkap tentara Belanda dan dipenjarakan di Ambarawa. Ia baru dibebaskan pasca-Perjanjian Roem-Roijen.

Setelah Penyerahan Kedaulatan, Lembong mendapat posisi strategis sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Diklat) TNI.

Namun, Lembong ditakdirkan gugur di tanah airnya sendiri. Sosok yang seolah memiliki "sembilan nyawa" di Filipina itu justru menjadi korban keganasan pasukan APRA pimpinan Raymond Westerling dalam peristiwa pembantaian di Bandung, 23 Januari 1950.

Bagi saya, Adolf Lembong adalah pejuang Indonesia paling unik. Ia pernah mengenakan seragam KNIL Belanda, tentara Amerika Serikat, hingga akhirnya bertempur demi panji Republik Indonesia. 

Bersama rekan-rekan sesama Minahasa, ia menjadi bagian dari kekuatan sekutu di Luzon untuk menumbangkan Jepang. Kendati sempat bergabung dengan tentara asing karena keadaan, hatinya sepenuhnya untuk Indonesia.

Banyak yang menyamakan keberaniannya dengan Tan Malaka, bahkan menobatinya sebagai "Che Guevara dari Minahasa". 

Andai saja ada sutradara Indonesia yang mengangkat kisah hidupnya ke layar lebar, film ini tentu akan sangat memikat sekaligus membebaskan perfilman nasional dari dominasi cerita horor dan erotika semata. (Arthur Rompis)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.