Menangguk Iwak, Tradisi Tahunan Warga Tebing Tinggi Balangan Saat Air Sungai Surut
Ratino Taufik August 16, 2026 08:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN - Saat musim kemarau tiba dan air Sungai Luuk di Desa Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan mulai surut, ada satu momen yang selalu ditunggu warga. 

Momen itu dikenal sebagai menangguk iwak, yakni tradisi menangkap ikan bersama menggunakan alat tradisional di kubangan sungai yang hampir kering.

Tahun ini, kegiatan tersebut sudah masuk kali kelima dan menjadi kemeriahan tersendiri bagi warga setempat.

Puluhan hingga ratusan warga berkumpul di sepanjang anak Sungai Luuk, Minggu (16/8/2026). 

Tak pandang usia, di sungai ini para warga berkumpul sembari membawa paruan atau wadah dari anyaman bambu. 

Suasana tradisi ini nampak seperti pesta rakyat kecil di tengah lumpur dan air yang tinggal sedikit. Mereka menangkap ikan, baik yang besar maupun kecil

Meski bukan ajang perlombaan, warga begitu antisias masuk ke sungai dan mencari ikan menggunakan tangguk atau tangan. Mereka tak segan berada di dalam air berlumpur. 

Warga setempat, Dimas Riyadi menyampaikan bahwa menangguk iwak hanya bisa dilakukan setahun sekali. Tepatnya saat musim kemarau dan debit air sungai turun drastis.  

"Ini momen tahunan di saat anak sungai di wilayah Tebing Tinggi surut. Karena anak sungainya lumayan panjang, jadi lokasinya bisa beberapa kali didatangi warga dan ramainya pun berhari-hari," cerita Dimas. 

Baca juga: Karhutla di Dusun Thaibah Tapin Utara, Hotspot di Kabupaten Tapin Capai 131 Titik

Hasilnya yang didapat pun katanya cukup lumayan banyak. Dalam sehari, satu orang bisa dapat separuh paruan atau wadah penuh.  

"Hasilnya lumayan banyak. Apalagi kalau dapat yang besar-besar sampai tidak cukup tempat ikannya" ungkapnya.

Adapun jenis ikan yang didapat beragam, mulai dari betok, gabus, hingga lele sungai.

Hasil tangkapan ikan ini menjadi konsumsi sendiri untuk keluarganya atau dibagikan ke warga sekitar. Tentunya kata Dimas bisa menghemat pengeluaran untuk membeli ikan di pasar.

Tradisi manangguk ini ungkap Dimas menjadi istimewa karena memberikan suasana kebersamaan warga serempat.

Menurutnya, menangguk iwak adalah cara sederhana menikmati anugerah alam. Di saat sungai memberi lebih karena kemarau, warga memanfaatkannya bersama-sama. Tidak saling rebut, melaikan menumbuhkan gotong royong dan kebersamaan.

"Moment tahunan ini sangat dinantikan para warga. Bahkan orang yang tak pernah ikut nangguk pun juga ikut karena suasananya cukup asyik dan ramai dengan puluhan hingga ratusan orang," tutup Dimas.

(Banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.