‎Tak Ingin Sampah Jadi Warisan Terselesaikan, Munafri Minta RT/RW Terus Edukasi Warga Pilah Sampah
Saldy Irawan August 16, 2026 09:22 PM

‎TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ratusan pengurus RT/RW memadati halaman SMP Negeri 30 Makassar, Jalan Bumi Tamalanrea Permai, Minggu (16/8/2026) pagi.

‎Para pengurus lingkungan tersebut menghadiri kegiatan Jelajah Sampah yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar. 

‎Tamalanrea jadi kecamatan ke-14 yang menjadi tempat terselenggaranya Jelajah Sampah. 

‎Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah kota mendorong pengelolaan sampah mulai dari sumbernya.

‎Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin turut hadir dalam kegiatan tersebut. Hadir pula Ketua Dewan Lingkungan Hidup Melinda Aksa, Camat Tamalanrea Andi Patiroi, serta jajaran lurah.

‎Jelajah Sampah diisi dengan kegiatan sosial pengelolaan sampah terpilah sekaligus pelatihan pengolahan sampah bagi pengurus RT/RW.

‎Sejumlah materi diberikan, mulai dari pengembangan budidaya maggot, pembuatan eco enzyme berbahan sampah buah, hingga pengomposan sampah melalui teba dan komposter.

‎Kegiatan yang digelar secara bergilir di setiap kecamatan itu juga diramaikan pameran UMKM dan hasil urban farming melalui stan-stan yang telah disiapkan.

‎Sebelum kegiatan dan sambutan dimulai, para peserta terlebih dahulu berjalan menyusuri area sekitar sekolah sambil memungut sampah.

‎Dari kegiatan tersebut, terkumpul sebanyak 13,6 kilogram sampah.

‎Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin dalam sambutannya menekankan pentingnya peran pengurus RT/RW dalam mengedukasi warga mengenai pemilahan dan pengolahan sampah.

‎Munafri mengakui, mengubah kebiasaan masyarakat agar mulai memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya bukan perkara mudah.

‎Namun, menurutnya, perubahan tersebut harus dimulai sekarang agar persoalan lingkungan tidak menjadi beban yang lebih besar bagi generasi mendatang.

‎"Sekarang kita memaksimalkan untuk mulai belajar bagaimana memilah sampah. Saya tahu ini tidak mudah. Tapi kalau tidak dilakukan hari ini, kita tidak akan pernah mencoba melakukannya," jelasnya.

‎Ia mengatakan, sampah yang selama ini dianggap sebagai masalah juga dapat memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan serius.

‎"Pemilahan ini sangat bermanfaat untuk kita. Bagaimana sampah yang sekarang menjadi momok akhirnya bisa menjadi bagian untuk memberikan tambahan income bagi masyarakat, khususnya mereka yang serius dan giat mengelola sampah dengan baik," tuturnya.

‎Menurut Munafri, pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah. 

‎Karena itu, ia meminta seluruh masyarakat ikut mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan persampahan di Kota Makassar.

‎"Ini adalah tanggung jawab kita. Sampah ini adalah tanggung jawab yang harus kita selesaikan," katanya.

‎Munafri juga menyinggung kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa sebelum dilakukan berbagai upaya pembenahan. 

‎Ia tidak ingin kondisi tersebut diwariskan kepada generasi berikutnya.

‎"Apa kita akan mewariskan kepada anak cucu kita dengan sampah yang bertumpuk-tumpuk? Apa kita akan mewariskan kepada anak cucu kita bagaimana pola pengelolaan buruk persampahan yang ada di Kota Makassar?" ujarnya.

‎Munafri menilai masih banyak hal yang dapat dilakukan dalam pengelolaan sampah. 

‎Ia menyebut kegiatan Jelajah Sampah sebagai langkah awal untuk membuka wawasan masyarakat bahwa sampah dapat dikelola dan memiliki nilai apabila ditangani secara serius.

‎"Sampah ini bisa kita kelola kalau kita serius mengelola. Sampah ini bisa menjadi sesuatu yang berubah kalau kita serius mengelola," ujarnya.

‎Ia berharap kegiatan Jelajah Sampah dapat terus dikembangkan pada tahun depan dengan melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, termasuk sekolah.

‎"Tahun depan acara ini bisa semakin gencang lagi, tidak hanya melibatkan ketua RT/RW, juga melibatkan sekolah-sekolah yang mampu kita berikan pendidikan sejak dini bahwa proses pemilahan sampah ini akan sangat bermanfaat bagi mereka," jelasnya.

‎Sementara itu, Camat Tamalanrea Andi Patiroi mengatakan tidak ada lagi sampah organik dari wilayahnya yang dibawa ke TPA Tamangapa.

‎Seluruh sampah organik kini diolah di wilayah dan lingkungan masing-masing, baik melalui teba, komposter, biopori, maupun budidaya maggot.

‎"Hanya residu saja yang dibawa ke TPA, semua sampah organik kita kelola di wilayah," jelasnya.

‎Andi Patiroi mengatakan pihaknya juga terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada warga terkait pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

‎Sosialisasi dilakukan melalui berbagai forum pertemuan warga, maupun dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital.

‎"Masih kita edukasi terus, terus kita permantap. Seiring itu, fasilitas pengolahan juga kita perkuat," ucapnya.

‎Ia menambahkan, pengelolaan sampah di Tamalanrea kini diintegrasikan dengan program urban farming. 

‎Sampah organik yang diolah warga dapat dimanfaatkan menjadi pupuk untuk tanaman.

‎Dengan demikian, sampah yang sebelumnya menjadi persoalan dapat kembali dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan bagi masyarakat.

‎"Jadi sampah yang dikelola bermanfaat secara ekonomi, lingkungan, dan menyuburkan tanaman sebagai bagian dari program ketahanan pangan warga," jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.