Padahal Makan Sedikit tapi Berat Badan Naik? Begini Penjelasan Ahli
Eddy Fitriadi August 16, 2026 10:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM – Merasa sudah makan sedikit, tetapi berat badan justru terus bertambah? Keluhan seperti ini cukup sering terdengar. Bahkan, ada yang merasa dirinya hanya makan sedikit atau sekadar minum air, tetapi tetap mengalami kenaikan berat badan.

Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti seseorang mengalami gangguan metabolisme atau hormon. Para ahli menilai, persoalan berat badan perlu dilihat secara lebih menyeluruh, termasuk kebiasaan makan yang terkadang tidak disadari.

Ketua Perhimpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengatakan seseorang yang merasa makan sedikit perlu kembali memperhatikan seluruh asupan yang dikonsumsi sepanjang hari.

"Jadi makan itu tanda petik ya bukan sekedar udara terus langsung gemuk. Sebenarnya ada aspek lain tapi biasanya yang mengeluh kayaknya saya makannya sedikit deh. Tapi di luar itu yang tadi serabutan camilan-camilannya mungkin perlu diperhitungkan," ujar Dante dalam diskusi edukasi obesitas di Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).

Menurut Dante, camilan yang dikonsumsi di sela-sela waktu makan utama sering kali luput dari perhitungan. Padahal, jika dilakukan berulang kali, kebiasaan tersebut dapat membuat total asupan harian lebih banyak dari yang diperkirakan.

Selain pola makan, perbedaan metabolisme setiap orang juga perlu diperhatikan. Dante menjelaskan, tubuh seseorang dengan tingkat metabolisme tinggi dan rendah dapat memberikan respons berbeda terhadap kalori yang masuk.

"Level metabolisme yang tinggi itu berarti makanan yang masuk banyak dibakar untuk pencernaan. Nah, kalau yang rendah itu sebenarnya disimpan," katanya.

Perbedaan tersebut membuat sebagian energi yang masuk ke tubuh dapat lebih banyak digunakan, sementara sebagian lainnya disimpan. Karena itu, anggapan bahwa seseorang bisa mengalami obesitas hanya karena "minum air" tidak cukup untuk menjelaskan kondisi tersebut.

Untuk mengetahui penyebab kenaikan berat badan, diperlukan penilaian yang lebih menyeluruh terhadap pola makan, aktivitas, metabolisme, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Jangan Kejar Berat Badan Turun Secara Instan

Selain pola makan, ahli juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergoda tren diet yang menjanjikan penurunan berat badan dalam waktu singkat, terutama yang banyak beredar di media sosial.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik (PDGKI) Indonesia, Dr. Erwin Kristianto, M.Gizi, SpGK, mengatakan diet bukanlah perlombaan untuk mendapatkan hasil secepat mungkin.

"Diet itu jangan diasamakan dengan lomba lari ya. Semakin cepat mencapai finish semakin bagus," ujar Erwin.

Menurut dia, diet pada dasarnya merupakan upaya mengatur pola makan, bukan sekadar menghilangkan makanan tertentu dari menu sehari-hari.

"Diet itu adalah mengatur kapan kita boleh makan, kapan kita tidak boleh makan, dan berapa banyak yang kita boleh makan," katanya.

Erwin menjelaskan, penurunan berat badan yang terlalu cepat justru dapat menimbulkan berbagai keluhan. Pasalnya, tubuh tetap membutuhkan energi untuk menjalankan fungsi dan aktivitas sehari-hari.

"Kalau terlalu cepat berat badan turun, semakin banyak keluhan yang akan dirasakan oleh si orang itu," ujarnya.

Ketika asupan makanan dikurangi secara berlebihan sementara kebutuhan energi tubuh tetap tinggi, seseorang dapat mengalami keluhan seperti lemas dan pegal. Karena itu, program penurunan berat badan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.

Erwin menegaskan, tidak ada satu metode diet yang dapat diterapkan secara sama kepada seluruh orang dengan obesitas. Penyebab obesitas dapat berbeda sehingga strategi penanganannya juga perlu disesuaikan.

Ia mencontohkan, seseorang mungkin merasa tidak makan dalam jumlah banyak, tetapi memiliki kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan ringan di sela aktivitas. Sementara orang lain bisa saja hanya makan beberapa kali dalam sehari, tetapi mengambil porsi yang jauh lebih besar.

Baca juga: Ahli Nutrisi Ungkap Satu Minuman yang Harus Ditinggalkan agar Berat Badan Cepat Turun

Jangan Tunggu Penyakit Muncul

Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD., mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya penyakit untuk mulai memperhatikan berat badan.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih rutin memperhatikan perubahan kondisi tubuh. Pengukuran berat badan dan lingkar perut dapat dilakukan sebagai langkah sederhana untuk memantau kondisi kesehatan.

Pemeriksaan kesehatan juga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kondisi tubuh secara lebih menyeluruh.

Dengan demikian, penanganan obesitas tidak semata-mata berorientasi pada angka di timbangan. Pola makan, aktivitas fisik, kondisi metabolisme, serta berbagai faktor kesehatan lainnya juga perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah yang tepat.(*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.