Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kebudayaan menambah koleksi sejarah yang dapat dinikmati dan dipelajari oleh publik di Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat ditemui ANTARA di Jakarta, Minggu, menyampaikan koleksi yang ditambahkan berupa sejumlah artefak dan memorabilia dari tokoh-tokoh bangsa seperti Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta atau Bung Hatta.

"Termasuk Bung Hatta, ya, ada kopiah Bung Hatta dan juga beberapa benda Bung Hatta," ujarnya.

Dia menyebut dalam rangka memeriahkan peringatan kemerdekaan, Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan LKBN ANTARA dan komunitas kolektor numismatik untuk menyelenggarakan pameran foto yang menampilkan gambar-gambar hingga karya majalah yang lekat dengan suasana proklamasi itu.

Pameran tersebut menampilkan majalah Merdeka yang terbit pada Februari 1946 dan berisi hal-hal seputar Proklamasi dan kemerdekaan, termasuk foto-foto Proklamasi serta uang.

"Kali ini juga dalam rangka memeriahkan itu kita bekerja sama dengan ANTARA dan juga komunitas kolektor numismatik menyelenggarakan juga kegiatan pameran yang baru saja kita lihat," kata Fadli.

Ia menjelaskan pameran tersebut juga menampilkan uang-uang yang digunakan pada zaman perang mempertahankan kemerdekaan serta uang dari kerajaan-kerajaan Nusantara.

"Uang-uang di zaman perang mempertahankan kemerdekaan dan kerajaan-kerajaan Nusantara sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan juga dari rangkaian perjalanan perjuangan bangsa kita," katanya.

Ditemui secara terpisah, Direktur Utama LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar mengatakan kerja sama tersebut merupakan inisiatif Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang mengundang ANTARA untuk ikut aktif dalam memperjelas dan menegaskan peran dunia pers, khususnya Kantor Berita ANTARA dengan budaya dan sejarah Indonesia.

Benny mengatakan pada peringatan kemerdekaan ke-81, ANTARA kembali diajak bekerja sama untuk menghadirkan gambaran mengenai peran jurnalisme Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa.

ANTARA tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga pelaku sejarah, karena foto-foto yang dihasilkan wartawan ANTARA telah merekam perjalanan sejarah Indonesia hingga ke luar negeri.

"Jadi sejak awal dunia pers, jurnalistik itu tetap terkait dengan peran sejarah republik ini berdiri. Tidak bisa dilepaskan jurnalisme dan Indonesia," ujar Benny.

Benny juga menjelaskan mengenai foto sejarah yang dihasilkan oleh wartawan ANTARA. Menurut dia, foto tersebut sempat disembunyikan atau ditanam di bawah tanah untuk menyelamatkannya agar tidak disita oleh tentara Jepang.

"Foto itu kemudian muncul enam bulan kemudian menjadi sebuah sejarah yang menjadi pengakuan dan kesadaran bahwa foto menjadi bukti yang otentik tentang sejarah Republik Indonesia," katanya.

Dia pun menegaskan keterkaitan antara ANTARA, jurnalisme, dan sejarah Indonesia akan terus diperkuat ke depan, sebab sebuah kantor berita harus memiliki alasan untuk terus hidup dan menjalankan perannya bersama bangsa dan negara Indonesia.

"Kalau ke depan akan terus ditekankan karena ANTARA juga berdiri jauh sebelum Republik ini ada sehingga peran sejarah itu tetap ada, akan melibatkan ANTARA," ujar Benny.