SERAMBINEWS.COM – Iran mengungkap klaim mengejutkan terkait nasib tiga pilot Angkatan Udara Iran yang disebut ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Qatar setelah dua jet tempur Su-24 mereka jatuh dalam operasi militer pada Maret 2026.
Klaim tersebut disampaikan Mohammad Bagherzadeh, Kepala Komite Pencarian Orang Hilang Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, dalam surat kepada Presiden Komite Internasional Palang Merah (ICRC), Mirjana Spoljarić Egger. Surat itu dikutip lembaga penyiaran negara Iran pada Sabtu.
Bagherzadeh menyebut, empat pilot berada di dalam dua jet tempur Su-24 yang jatuh saat menjalankan misi tempur. Dari empat pilot tersebut, satu orang tewas, sementara tiga lainnya disebut ditangkap dalam keadaan hidup oleh pasukan Qatar.
Baca juga: Trump Ingin Kuasai Selat Hormuz, Iran Balik Tegaskan Jalur Strategis Itu Masih di Bawah Kendalinya
“Tiga pilot Iran ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Qatar setelah jet tempur Su-24 jatuh selama serangan bulan Maret,” tulis Bagherzadeh dalam surat tersebut.
Tiga pilot yang disebut masih berada dalam tahanan Qatar adalah Javad Salehi, Abdolmajid Dashtian, dan Omran Behrouzian. Sementara itu, pilot lainnya, Majid Kazemi, dilaporkan tewas dan kemudian dimakamkan.
Menurut Bagherzadeh, kedua jet tempur Su-24 tersebut lepas landas pada 2 Maret 2026 untuk menjalankan misi menyerang pangkalan militer yang disebut sebagai milik musuh di Qatar.
Ia mengatakan misi tersebut sempat berjalan sesuai rencana. Namun, dalam perjalanan kembali, kedua pesawat terkena sistem pertahanan udara musuh sehingga para pilot terpaksa melakukan eject atau melontarkan diri dari pesawat.
“Dua jet tempur Su-24 berangkat pada 2 Maret 2026 untuk melakukan misi tempur melawan pangkalan militer musuh yang terletak di Qatar,” kata Bagherzadeh.
Menurutnya, setelah pesawat terkena pertahanan udara, para pilot keluar menggunakan kursi pelontar. Salah seorang pilot tewas, sedangkan tiga lainnya kemudian ditangkap oleh pasukan Qatar.
Klaim tersebut belum mendapat tanggapan langsung dari pemerintah Qatar.
Bagherzadeh juga menuduh Qatar melanggar hak para pilot Iran berdasarkan hukum internasional, termasuk ketentuan yang tercantum dalam empat Konvensi Jenewa.
Ia mengatakan Iran telah berupaya mendapatkan akses kepada ketiga pilot tersebut, termasuk melalui jalur diplomatik. Namun, menurut dia, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Iran menuding Qatar tidak memberikan akses kepada keluarga maupun pejabat Iran untuk berkomunikasi dengan para pilot selama sekitar enam bulan terakhir.
Karena itu, Komite Pencarian Orang Hilang meminta ICRC segera turun tangan.
Bagherzadeh mendesak ICRC untuk mewawancarai ketiga pilot Iran yang disebut ditahan di Qatar, memastikan kondisi kesehatan mereka, menyampaikan informasi tersebut kepada pemerintah Iran, serta memfasilitasi pembebasan mereka.
Klaim mengenai penangkapan pilot Iran tersebut muncul di tengah konflik besar yang mengguncang Timur Tengah sejak akhir Februari 2026.
Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas militer, nuklir, dan energi Iran.
Teheran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke berbagai sasaran Israel dan Amerika Serikat di kawasan.
Dalam perkembangan berikutnya, sejumlah pangkalan militer dan fasilitas strategis di negara-negara Teluk turut menjadi bagian dari eskalasi konflik.
Iran menyatakan Angkatan Udara mereka menjalankan operasi tersebut sebagai bagian dari upaya mempertahankan integritas wilayah negara setelah serangan AS dan Israel dimulai dari sejumlah pangkalan udara di negara-negara Arab di sepanjang kawasan Teluk.
Upaya meredakan konflik kemudian menghasilkan perkembangan diplomatik.
Pada 18 Juni 2026, Iran dan Amerika Serikat dilaporkan menandatangani nota kesepahaman melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan itu dimaksudkan untuk mengakhiri permusuhan sekaligus membuka jalan bagi negosiasi menuju kesepakatan yang lebih permanen.
Namun, proses tersebut kemudian tersendat.
Perselisihan mengenai keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan utama yang menghambat pembicaraan.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia karena menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk.
Di tengah kebuntuan diplomasi tersebut, klaim Iran mengenai tiga pilot yang disebut masih berada dalam tahanan Qatar menambah dimensi baru dalam hubungan Iran-Qatar sekaligus memperlihatkan betapa luas dampak konflik yang sebelumnya bermula dari serangan langsung AS dan Israel terhadap Iran.(*)