Irigasi Tertutup Longsor Akibat Gempa, Ratusan Hektare Sawah di Manggarai Timur Terancam Kekeringan
Cristin Adal August 16, 2026 11:47 PM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, BORONG – Ratusan hektare lahan sawah di Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terancam kekeringan setelah saluran irigasi induk Wae Laku tertutup material longsor akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7, Sabtu (15/8/2026).

Material longsor berupa tanah dan batu-batu besar menutup saluran irigasi yang selama ini mengairi persawahan warga di Desa Bangka Kantar, Golo Kantar, dan Nanga Labang.

Terhentinya aliran air menjadi persoalan serius bagi petani karena sebagian besar lahan sawah di tiga desa tersebut sudah ditanami padi. Bahkan, ada tanaman yang baru selesai ditanam, berusia sekitar dua hingga tiga bulan, dan sebagian lainnya mulai memasuki masa berbunga.

Kondisi saluran irigasi Wae Laku tersebut diketahui setelah petugas melakukan pengecekan pascagempa. Petugas irigasi, Niko Nio, mengatakan terdapat sedikitnya dua titik longsor yang menimbun saluran.

"Kemarin setelah gempa saya ke lokasi. Saya lihat dari jauh saja karena takut kalau ada gempa susulan, apalagi posisi tebing dan jurang terjal di lokasi longsor," ujar Niko kepada TRIBUNFLORES.COM, Minggu (16/8/2026).

Baca juga: Update Korban Gempa Flores NTT: 53 Orang Meninggal, 137 Luka-luka, Ribuan Mengungsi

Menurut Niko, batu-batu besar bersama tanah menumpuk di saluran irigasi sehingga aliran air terhambat.

"Terdapat dua titik longsor, batu-batu besar dan tanah menumpuk di saluran irigasi," katanya.

Ia mengatakan material longsor cukup banyak dan sulit dibersihkan secara manual.

"Sulit kalau pakai tenaga manusia, harus pakai alat berat. Kondisi ini juga sudah saya laporkan ke Dinas PUPR," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat petani khawatir tanaman padi yang sudah ditanam akan rusak jika pasokan air tidak segera kembali normal.

Salah seorang petani, Bertus, mengatakan dirinya baru selesai menanam padi pada Sabtu (15/8/2026), setelah gempa terjadi. Namun, setelah proses tanam selesai, aliran air ke sawah justru terhenti.

"Saya punya baru tanam kemarin setelah gempa. Habis tanam, langsung air tidak ada. Hari ini padi yang saya tanam sudah mau mati semua karena tidak ada air," ujar Bertus.

Baca juga: Cerita Maria Gendong Anak Cari Tempat Aman saat Gempa di RSUD TC Hillers Maumere

Ia mengaku telah mengeluarkan sekitar Rp 2,5 juta untuk proses awal budidaya padi, termasuk membeli bibit serta membayar biaya pembersihan pematang, membajak, dan menanam.

"Saya rugi besar, Pak. Kami minta pemerintah segera evakuasi material longsor ini karena bukan hanya saya yang terdampak, tetapi begitu banyak petani mengalami hal yang sama," katanya.

Petani lainnya, Fanus, juga mengkhawatirkan kondisi tanaman padinya yang baru berusia sekitar dua bulan. Menurut dia, jika aliran air tidak segera dipulihkan, tanaman padi miliknya terancam kekeringan dan gagal panen.

"Kami minta pemerintah evakuasi material longsor yang menutup irigasi itu karena irigasi ini menjadi sumber kehidupan kami untuk bisa makan dari tanam padi sawah. Kalau tidak, saya bisa rugi belasan juta rupiah," ujar Fanus.

Kekhawatiran serupa disampaikan Frans. Tanaman padi miliknya saat ini sedang memasuki masa berbunga dan membutuhkan pasokan air.

"Kami mohon bantu dulu, Bapak pemerintah. Air irigasi ini sangat membantu kami selama ini," ungkapnya.

Selain untuk persawahan, Frans mengatakan air dari saluran irigasi Wae Laku juga dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari, terutama mandi dan mencuci.

Karena itu, warga berharap pemerintah segera menangani material longsor yang menutup saluran tersebut. Pembersihan dengan alat berat dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar aliran air dapat kembali mengairi persawahan sekaligus memenuhi kebutuhan warga.

Secara terpisah, Kementerian Pekerjaan Umum menyebut jaringan irigasi Wae Laku di Borong memang terdampak gempa. Berdasarkan pemeriksaan awal BBWS Nusa Tenggara II, saluran tertutup material longsoran berupa tanah, batuan, dan vegetasi dari tebing di sisi saluran. Kondisi tebing yang terjal dan masih terdapat material lepas juga berpotensi menimbulkan longsor susulan.

Pemerintah juga terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap infrastruktur sumber daya air pascagempa NTT.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.