Pakar ITB Soroti Kemiripan Gempa M 7,7 Flores dengan Tragedi 1992: Ternyata Lokasinya Berdekatan
Ravianto August 16, 2026 11:47 PM

TRIBUNJABAR.ID, NAGEKEO - Peristiwa gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) subuh, menyita perhatian ahli kebumian.

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Irwan Meilano, mengungkapkan adanya kemiripan kuat antara peristiwa ini dengan bencana gempa dahsyat Flores tahun 1992 silam.

Menurut Prof. Irwan, gempa bumi M 7,7 yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman dangkal 15 kilometer tersebut memiliki lokasi dan mekanisme patahan yang sangat identik dengan gempa Flores 1992.

"Apabila melihat dari mekanisme dan lokasinya, gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada 1992."

"Saat itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diiringi tsunami yang sangat tinggi," ujar Prof. Irwan, Minggu (16/8/2026).

Jarak antara titik pusat gempa M 7,7 di Nagekeo saat ini dengan pusat gempa bumi besar tahun 1992 diperkirakan kurang dari 40 kilometer.

Baca juga: Gempa Beruntun Guncang Bandung 10 Menit setelah Gempa NTT: Pengakuan Warga Hingga Penjelasan BMKG

Harapan Momen Tsunami Dahsyat Tak Terulang

Meskipun besaran magnitudo dan letak episentrumnya relatif berdekatan, Prof. Irwan menjelaskan faktor pembeda utama yang menyebabkan tsunami dahsyat pada tragedi 34 tahun silam adalah keberadaan longsoran material bawah laut pascaguncangan utama.

Guncangan gempa M 7,7 kali ini sempat memicu peringatan dini tsunami dari BMKG sebelum akhirnya resmi dicabut pada pukul 07.30 WIB akibat tidak terdeteksinya kenaikan muka air laut yang signifikan.

"Mudah-mudahan dalam gempa ini, walaupun magnitudonya mirip—yang dulu 7,9 dan sekarang 7,7—serta lokasinya berdekatan, tidak diikuti dengan longsoran bawah laut sehingga tsunaminya tidak setinggi tsunami 1992," ungkapnya.

Lebih lanjut, ahli gempa ITB ini menerangkan bahwa kawasan utara Flores berada pada jalur sesar aktif Flores Back Arc Thrust (patahan busur belakang Flores) yang menyimpan histori kegempaan tinggi, seperti rangkaian gempa bumi di utara Lombok pada 2018.

Mengingat pusat gempa tergolong dangkal dan berada dekat dengan daratan, Prof. Irwan mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap kualitas infrastruktur bangunan warga serta fasilitas umum strategis seperti sekolah dan rumah sakit dari potensi guncangan gempa susulan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.