TRIBUNNEWS.COM - Iran menuding Qatar menyandera tiga pilot militernya yang hingga kini belum ditemukan setelah pesawat mereka jatuh dalam operasi yang menargetkan salah satu pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar.
Tudingan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi perang Iran dan Amerika Serikat.
Menurut dosen Ilmu Politik Universitas Udayana, Efatha Filomeno, langkah Iran tidak dapat dilepaskan dari upaya meningkatkan posisi tawar dalam perundingan dengan Amerika Serikat.
Efatha menjelaskan, sebelumnya Iran memang melakukan operasi terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Al Udeid.
Dalam peristiwa tersebut, satu jenazah pilot disebut telah ditemukan, sementara tiga pilot lainnya belum diketahui keberadaannya.
"Yang cukup menarik di sini yang perlu kita lihat adalah bahwa apa yang diinginkan oleh Iran adalah untuk memberikan daya tawar yang baru," ujar Efatha dalam wawancara di Kompas Petang, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, Qatar sebelumnya telah beberapa kali mengundang Iran untuk melakukan investigasi terkait keberadaan para pilot tersebut.
Namun, hingga kini belum seluruh pilot yang hilang ditemukan.
Situasi tersebut menjadi semakin penting karena batas waktu negosiasi yang diberikan Amerika Serikat kepada Iran disebut akan berakhir pada 17 Agustus 2026.
Efatha menilai, tudingan terhadap Qatar merupakan bagian dari strategi Iran untuk meningkatkan leverage menjelang batas waktu tersebut.
Iran juga disebut memandang Qatar tidak sepenuhnya netral dalam menjalankan perannya sebagai mediator.
Baca juga: Qatar Bantah Menangkap 3 Pilot Iran, Komite Internasional Palang Merah Diminta Intervensi
Efatha melihat Iran justru memilih jalur diplomasi ketimbang melakukan tindakan militer untuk mencari para pilotnya yang hilang.
Iran disebut meminta Komite Internasional Palang Merah atau ICRC untuk melakukan pencarian.
Langkah tersebut dinilai dapat memberikan keuntungan diplomatik bagi Iran apabila nantinya muncul bukti bahwa Qatar memang mengetahui keberadaan para pilot tersebut.
"Mereka malah mengirimkan palang merahnya yang meminta kepada palang merah internasional untuk melakukan pencarian," kata Efatha.
Menurutnya, strategi tersebut memungkinkan Iran membangun persepsi bahwa mereka sedang menempuh jalur kemanusiaan dan hukum internasional.
"Kalaupun nanti ke depannya ditemukan bahwa Qatar menyembunyikan, maka nanti akan ada sanksi internasional," ujarnya.
Efatha menilai pendekatan tersebut juga membuat Iran memperoleh simpati publik internasional.
Terlebih, perang yang berlangsung dinilai telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang luas.
Dalam kondisi tersebut, Iran berusaha menempatkan dirinya sebagai pihak yang mendorong penghentian perang.
Strategi komunikasi dan diplomasi ini dinilai dapat memperkuat posisi tawar Iran dalam menghadapi Amerika Serikat.
Di sisi lain, tudingan Iran membuat posisi Qatar sebagai mediator perundingan semakin sulit.
Qatar telah membantah tuduhan tersebut dan menyatakan telah membuka ruang bagi Iran untuk melakukan investigasi.
Efatha menjelaskan, operasi yang berkaitan dengan jatuhnya pesawat tersebut dimulai pada 2 Maret.
Kemudian, pada Juli 2026, salah satu jenazah pilot disebut berhasil ditemukan.
Namun, Iran baru menyampaikan tudingan terhadap Qatar pada 15 Agustus 2026.
Menurut Efatha, perkembangan tersebut dapat memengaruhi proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.
"Qatar juga sebenarnya adalah negosiator yang mencoba memosisikan diri bahwa dia hanya bernegosiasi untuk urusan keamanan," tuturnya.
Namun, persepsi mengenai ketidaknetralan Qatar berpotensi membuat peran negara tersebut sebagai mediator semakin sulit.
"Tetapi dalam posisi bergaining seperti ini, inilah yang menyebabkan nanti ke depannya Qatar dan juga langkah-langkah yang dilakukan oleh Amerika akan tersendat karena dunia internasional akhirnya sudah melihat bahwa tampaknya perang kali ini secara persepsi, secara kemanusiaan sudah merugikan banyak orang dan Iran akan berada pada posisi terdepan untuk menyampaikan bahwa perang ini memang harus diakhiri."
Efatha juga menilai posisi Amerika Serikat dalam situasi tersebut tidak sepenuhnya menguntungkan.
Ia menyinggung penarikan USS Abraham Lincoln serta ketidakjelasan tujuan operasi militer Amerika Serikat.
Meski demikian, menurutnya, AS masih memiliki sejumlah strategi yang belum terlihat secara terbuka.
"Kata-kata Donald Trump juga tidak bisa kita katakan sebagai kata-kata yang isapan jempol. Karena bisa saja dia menyembunyikan rencana dan rancangan strategis untuk menyerang Iran dalam posisi diam-diam," kata Efatha.
Karena itu, Iran disebut memilih mengedepankan diplomasi dan menghindari agresivitas militer secara langsung.
Dengan strategi tersebut, apabila Amerika Serikat kembali melakukan serangan, Iran dapat membawa persoalan tersebut ke Perserikatan Bangsa-Bangsa dan meminta dukungan internasional.
"Karena tampaknya Iran tidak ingin melakukan agresivitas militer dan dia memaksa juga Amerika untuk tidak melakukan serangan-serangan lagi."
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)