Usai Baca Proklamasi di Lapangan Karebosi, Ketua DPRD Makassar Supratman Siap Kembali ke Cibubur
AS Kambie August 17, 2026 12:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -  Ketua DPRD Makassar Supratman segera bersiap kembali ke Cibubur setelah membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan RI pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Karebosi Makassar, Senin (17/8/2026).

Cibubur adalah lokasi Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta). Kawasan seluas sekitar 300 hektare  adalah kawasan ruang terbuka hijau yang terletak di Jalan Pakuan Nomor 5, Cipayung, Jakarta Timur. Area ini merupakan pusat kegiatan kepanduan nasional terbesar di Asia Tenggara dan sering menjadi lokasi perhelatan akbar seperti Jambore Nasional (Jamnas).

“Saya sebentar ke Jamnas ini,” ujar Supratman kepada Tribun-Timur.com usai upacara di panggung utama Lapangan Karebosi Makassar.

Supratman memang punya alasan khusus untuk segera kembali ke Cibubur.

Ia bukan hanya Ketua DPRD Makassar. Supratman juga Sekretaris Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Makassar.

Di Cibubur, sekitar 1.700 Penggalang dan Pembina Sulawesi Selatan sedang mengikuti Jambore Nasional XII 2026. Di dalamnya terdapat kontingen Makassar yang menjadi bagian dari tanggung jawab kelembagaan Kwarcab Pramuka Makassar.

Karena itu, ketika tugas kenegaraan di Lapangan Karebosi selesai, ingatannya segera kembali kepada anak-anak yang sedang berkemah jauh dari Makassar.

Di samping Supratman, Wakil Ketua DPRD Makassar Suharmika dan anggota Fraksi PDIP Udin Saputra Malik tersenyum.

Supratman baru saja membacakan naskah Proklamasi ketika pikirannya sudah tertuju ke Cibubur.

Ada dua ruang yang berbeda. Karebosi dan Cibubur. Di Karebosi, ia membacakan kembali teks yang menandai lahirnya Indonesia. Di Cibubur, anak-anak Pramuka sedang belajar menjadi bagian dari Indonesia.

Di Karebosi, kemerdekaan dikenang. Di Cibubur, kemerdekaan dipelajari melalui pengalaman.

Di situlah posisi Supratman menjadi menarik. Sebagai Ketua DPRD, ia menjalankan tugas kenegaraan dalam upacara 17 Agustus. Sebagai Sekretaris Kwarcab Pramuka Makassar, ia memiliki tanggung jawab organisasi terhadap anak-anak yang sedang mengikuti Jamnas.

Dua peran itu bertemu pada hari yang sama.

Upacara selesai. Tanggung jawab belum selesai. “Saya sebentar ke Jamnas ini,” ujar Supratman.

Kalimat pendek. Tetapi konteksnya panjang.

Sekitar 1.700 Penggalang dan Pembina Sulsel, termasuk 80 Penggalang Makassar telah menempuh perjalanan panjang menuju Cibubur. Sebagian bertolak dari Pelabuhan Makassar pada Sabtu pagi, 8 Agustus 2026. Mereka tiba di Tanjung Perak Surabaya pada Minggu pagi dan melanjutkan perjalanan hingga Tanjung Priok Jakarta pada Senin pagi, 10 Agustus.

Dari pelabuhan menuju perkemahan. Dari rumah menuju pengalaman baru. Dari Makassar menuju arena nasional.

Mereka sedang belajar mandiri. Tetapi perhatian dari kampung halaman tidak pernah benar-benar putus.

Sejumlah tokoh Sulsel datang menyambangi mereka.

Andi Yuslim Patawari datang ke posko Makassar dan membawa Sop Ubi Phoenampungan dari Jakarta. Tokoh-tokoh dan senior Pramuka Sulsel lainnya juga hadir melihat keadaan kontingen.

AYP, sapaan Andi Yuslim Patawari, malam kembali ke Cibubur memboyong 300-an bungkus nasi padang dari Rumah Makan Pagi Sore.

Supratman pun demikian. Ia sebelumnya telah berada di Cibubur. Melihat kontingen. Menyapa anak-anak. Merasakan suasana perkemahan.

Lalu kembali ke Makassar untuk menjalankan tugasnya sebagai Ketua DPRD pada upacara kemerdekaan.

Setelah tugas itu selesai, ia hendak kembali. Bukan sekadar karena ingin berkunjung. Ada tanggung jawab yang menunggu.

Sebagai Sekretaris Kwarcab Pramuka Makassar, Cibubur bukan sekadar lokasi Jamnas.

Di sana ada anak-anak yang sedang membawa nama Makassar.

Ada kontingen yang harus dipastikan berjalan baik.

Ada pembina yang bekerja. Ada peserta yang sedang belajar. Maka keinginan untuk segera kembali menjadi bagian dari tugas itu.

Mungkin di situlah makna sebuah kunjungan pejabat kepada anak-anak Pramuka menjadi lebih sederhana.

Tidak harus membawa pidato. Tidak harus membawa seremoni. Cukup hadir.

Sebab anak-anak yang sedang jauh dari rumah sesungguhnya tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar.

Mereka hanya ingin tahu bahwa ada orang dari rumah yang mengingat mereka.

Ada yang datang melihat tenda mereka. Ada yang bertanya apakah mereka baik-baik saja. Ada yang duduk bersama mereka.

Dan ada yang, seperti Supratman, setelah menunaikan tugas membaca Proklamasi di tanah kelahirannya, segera ingin kembali melihat mereka di Cibubur.

Sebab ada yang enggan hadir. Bahkan melepas Penggalang Sulsel pun enggan. Karena kesibukan yang luar biasa.

Proklamasi 1945 adalah janji sebuah generasi kepada masa depan.

Delapan puluh satu tahun kemudian, janji itu diteruskan melalui cara yang berbeda.

Anak-anak Pramuka berkemah. Mereka belajar disiplin. Belajar bekerja sama. Belajar mandiri. Belajar bertanggung jawab. Belajar mencintai Indonesia bukan hanya melalui upacara, tetapi melalui pengalaman hidup bersama.

Di Karebosi, Supratman baru saja membacakan kata-kata Proklamasi.

Di Cibubur, ia ingin melihat bagaimana anak-anak itu menjalankan makna kemerdekaan dalam bentuk yang lebih sederhana.

Mampu berdiri sendiri. Mampu bekerja bersama. Mampu bertanggung jawab.

Karena itu, setelah membacakan Proklamasi di Karebosi, langkah Supratman kembali diarahkan ke Cibubur.

Sebagai Ketua DPRD Makassar, ia baru saja menunaikan tugas negara.

Sebagai Sekretaris Kwarcab Pramuka Makassar, ia masih punya tugas di tengah anak-anak.

Upacara selesai. Tugas belum selesai.

Bendera telah berkibar di Karebosi. Anak-anak masih berkemah di Cibubur. Dan bagi Supratman, kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang dibacakan setiap 17 Agustus.

Ia juga sesuatu yang harus diwariskan. Kali ini, di antara tenda-tenda Pramuka di Cibubur.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.