Laporan Reporter SURYAMALANG.COM, Pramita Kusumaningrum
SURYAMALANG.COM, PONOROGO - Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, berlangsung unik dengan menggelar upacara pengibaran bendera di tengah aliran sungai pada Senin (17/8/2026).
Tiga srikandi anggota Paskibraka berjuang menaklukkan derasnya air, bebatuan, serta medan yang licin demi mengibarkan Sang Merah Putih.
Tangis haru pun pecah di antara para petugas usai bendera pusaka berhasil berkibar sempurna di atas permukaan air.
Berdasarkan pantauan di lapangan, akibat medan yang sulit, anggota Paskibraka harus rela berlatih selama dua hari di sungai sebelum menjalankan tugasnya mengibarkan Sang Merah Putih.
Para peserta datang berbondong-bondong ke lokasi dengan memulai perjalanan dari rumah yang pernah disinggahi oleh Jenderal Soedirman.
Rombongan kemudian melintasi jembatan dan menuju ke sungai yang menjadi lokasi pelaksanaan upacara.
Baca juga: Bus Restu Panda Langgar Marka Sulut Emosi Sopir Truk hingga Pecahkan Kaca di Nglames Madiun
Dalam prosesi tersebut, terlihat tiga srikandi bertindak sebagai petugas pengibar bendera upacara di tengah sungai.
Pasca-berhasil mengibarkan Sang Saka Merah Putih, para anggota Paskibraka tersebut tak kuasa menahan tangis haru.
“Alhamdulillah bisa melewatinya. Walaupun medannya licin,” ungkap salah satu pengibar bendera di Sungai Ngindeng, Valen Yulanda Anindita, Senin (17/8/2026) siang.
Valen menjelaskan, ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi petugas pengibar bendera, yang uniknya langsung bertugas di lokasi ekstrem seperti sungai.
“Kalau takut sih ada, karena medannya yang curam, terus enggak rata. Jalanannya itu enggak rata, jadi kita kadang terpeleset. Licin gitu, ya,” urainya.
Kepala Desa Ngindeng, Bima Sakti Saputra, menjelaskan alasan di balik keputusan Pemerintah Desa (Pemdes) Ngindeng menggelar pelaksanaan upacara bendera di sungai.
“Ini kegiatannya unik. Kenapa kita mengambil upacara yang ada di sungai? di tahun 2027 nanti, kenangan-kenangan yang ada di atas ini, jembatan yang sudah puluhan tahun ini akan dibongkar, diganti dengan jembatan yang baru,” jelasnya.
Oleh karena itu, pihaknya ingin mengukir sejarah sebagai kenangan bagi keluarga dan generasi mendatang mengenai peninggalan jembatan lama sebelum digantikan struktur baru.
Baca juga: Tragedi Brio Isi Satu Keluarga Tabrak Truk Gas di Tol Sumo, Anak 5 Tahun Meninggal
“Ini sejarah dari Panglima Jenderal Soedirman. Maka dari itu, karena ada nilai historikal, kesempatan hari ini kita mengambil momentum upacaranya yang ada di sungai,” tegas Bima.
Bima menyebut, upacara di tengah sungai ini merupakan pengalaman pertama bagi desanya, setelah pada tahun lalu peringatan serupa digelar di Rumah Singgah Jenderal Soedirman.
“Betul! ini mewujudkan dari kami dan juga masyarakat, 'Ayo kita lindungi, kita cintai sungai.' Supaya nanti sungai kita lestari dan juga menjadi alami, biar nanti orang datang ke Ngidhang itu melihat airnya yang bersih, tidak ada sampah, itu akan nyaman dan beliau ingin kembali lagi ke Desa Ngindeng,” pungkasnya.