TRIBUNNEWS.COM - Aktris sekaligus politisi Uya Kuya melaksanakan upacara dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI) di wilayah Gasong, Menteng Atas, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2026).
Berbeda dari tahun sebelumnya yang menghadiri upacara di Istana Negara, tahun ini Uya Kuya bersama sang istri, Astrid, pilih merayakan HUT ke-81 RI bersama para pemulung di kawasan tersebut.
Upacara Hari Kemerdekaan RI hari ini, anggota DPR RI fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) itu bertugas sebagai pembina upacara.
Adapun upacara di wilayah Gasong tersebut diikuti oleh lebih dari 200 peserta.
"Pesertanya total ada 200 lebih, tapi teman-teman para pemulung yang ada di sini tadi ada 100 lebih, 140an tadi yang terdata."
"Dan warga sekitar sini ada yang ikut upacara sekitar 40an," beber Uya kepada awak media, Senin.
Tak hanya dihadiri warga, anggota DPR hingga kader partai, juga ikut melaksanakan upacara di wilayah Gasong bersama para pemulung.
Hal itu tak dipungkiri membuat pemilik nama lengkap Surya Utama tersebut senang.
"Dari teman-teman PAN, DPRD ada lima orang, terus yang dari Puan ada sekitar 20 orang, dari BMPAN ada beberapa orang tadi datang, dari kader-kader datang."
"Saya senang mereka ternyata semangat datang," akunya.
Pengalaman pertama menjadi pembina upacara, Uya mengaku sempat bingung.
Baca juga: Uya Kuya Keberatan Didesak Jual Rumah yang Dijarah, Singgung Perjuangan Bangun dari Hasil jadi Artis
"Pengalaman pertama jadi pembina upacara makanya saya tanya tadi, saya harus gimana ya," ungkap Uya.
"Dia nanya pidato apaan gue ya," sahut Astrid.
"Saya bilang saya mesti gimana, saya maju sekarang apa enggak, tapi ya udah saya ikutin aja tadi," imbuh Uya.
Meski mendapat undangan upacara di Istana Negara, tapi tahun ini Uya Kuya memilih upacara Hari Kemerdekaan RI bersama pemulung.
Usut punya usut, Uya memiliki kenangan menyentuh saat tahun lalu datang ke kawasan tersebut.
Politikus bernama lengkap Surya Utama itu tersentuh ketika melihat salah seorang pemulung yang tengah kehilangan gerobaknya hingga tak bisa makan karena kesulitan mencari uang.
Singkat cerita, setelah membantu pemulung, Uya diminta untuk merayakan HUT RI di wilayah tersebut.
"Tahun lalu kita udah di Istana (Negara), tahun ini kita dapat undangan."
"Soalnya kita tahun lalu sempat di sini, ketemu ada bapak-bapak tua, pemulung, termenung, duduk, kayak bawa karung kecapekan, ternyata gerobaknya hilang dicuri."
"Dia cerita 13 hari nggak bisa makan, nggak ada duit, cuma makanin pohon katanya, daun, terus cerita gimana sulitnya warga."
"Sempat ada yang bilang, 'Pak besok 17an di sini dong Pak sekali-kali'," papar Uya kepada awak media, Senin.
Uya lantas berdiskusi dengan sang istri dan mengajak rekan-rekannya untuk turut memeriahkan peringatan HUT ke-81 RI bersama para pemulung.
Baca juga: Rumah Dijarah hingga Difitnah, Uya Kuya Tak Menyesal Jadi Anggota DPR
"Kemarin diskusi sama Astrid, kita ajak teman-teman buat PAN Jakarta, teman-teman DPRD yang ada di Jakarta juga, datang ke sini."
"Dan beberapa teman DPRD memilih untuk juga ikut upacara di sini bersama mereka, dan mereka antusias lho," terangnya.
Politisi yang rumahnya sempat mengalami penjarahan massa buntut joget-joget saat sidang tahunan MPR itu mengaku bangga dengan para pemulung.
Di tengah kesulitan ekonomi, bahkan tidak mendapat bantuan pemerintah, tetapi mereka tetap semangat turut serta merayakan HUT RI.
"Bayangkan pemulung-pemulung yang lagi sulit ekonomi, tidak pernah dapat bansos, tapi mereka punya rasa nasionalisme untuk merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia," ujarnya.
(Tribunnews.com/Yurika)