TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di tengah ancaman banjir yang masih terus menghantui, masyarakat Kampung Aur tetap dengan semangat merayakan Hari Kemerdekaan RI.
Biasanya, mereka memaknainya dengan melaksanakan upacara di tengah Sungai Deli. Namun kali ini, hal itu mesti diurungkan karena kondisi debit air yang kembali meninggi.
Malam tadi mereka sempat khawatir debit air bisa lebih tinggi dari hari ini, tetapi syukurnya tidak sampai menenggelamkan rumah mereka.
Mereka masih bisa merayakan Kemerdekaan RI dengan melaksanakan upacara di lapangan yang ada di kampung tersebut.
Ketua Panitia Perayaan HUT ke-81 RI Kampung Aur, Arsini (52), mengatakan, mereka sudah mempersiapkan upacara di sungai seperti tahun-tahun sebelumnya.
Namun, derasnya arus Sungai Deli membuat panitia akhirnya membatalkan rencana tersebut demi keselamatan warga, terutama anak-anak.
“Upacara, rencana upacara di sungai, kita batalkan karena kondisi sungai yang tidak mengizinkan. Arusnya terlalu kencang. Kita takut hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi. Lebih baik kita pindah ke halaman masjid,” kata Arsini, Senin (17/8/2026).
Menurut Arsini, upacara di Sungai Deli memang rutin dilakukan warga Kampung Aur setiap peringatan Hari Kemerdekaan selama kondisi sungai memungkinkan.
“Memang setiap tahun kalau air bersih, kita tetap di sungai, mengadakan upacara. Cuma memang kondisi hari ini tidak mengizinkan. Arus sangat kencang. Kita takut anak-anak hanyut, walaupun anak-anak pandai berenang. Kita kan nggak tahu, nanti terjadi apa-apa,” ujarnya.
Tahun ini juga sedikit berbeda. Seluruh panitia perayaan kemerdekaan didominasi oleh perempuan, mulai dari generasi ibu-ibu hingga nenek-nenek di Kampung Aur.
Bagi mereka, perayaan HUT Kemerdekaan bukan sekadar merayakan. Mereka punya banyak harapan.
Maka dari itu, di tengah perayaan kali ini, mereka membacakan Deklarasi Sungai Deli. Mereka berharap Sungai Deli bisa kembali menjadi seperti sediakala: sungai yang bersih dan bisa tetap dimanfaatkan oleh masyarakat.
Dalam Deklarasi Kemerdekaan Sungai Deli yang ditetapkan pada 17 Agustus 2026 itu, masyarakat menyatakan Sungai Deli sebagai tanah dan tempat kehidupan yang wajib dijaga, dilestarikan, serta diwariskan kepada generasi penerus.
Masyarakat juga bertekad membangun Sungai Deli sebagai masyarakat yang bersatu, mandiri dan berkeadilan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
Deklarasi tersebut turut memuat tekad menjaga persatuan dan kesatuan seluruh masyarakat Sungai Deli tanpa membedakan latar belakang, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Warga juga menyatakan komitmen menjaga keamanan, ketertiban, lingkungan, adat dan budaya, serta seluruh nilai luhur yang menjadi identitas masyarakat Sungai Deli.
Mereka berkomitmen membangun masa depan Sungai Deli dengan semangat gotong royong, kerja keras, kejujuran dan tanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Dalam deklarasi itu, masyarakat menyatakan, “Sungai Deli berdiri dengan semangat kebersamaan, kemandirian, dan keadilan.”
Segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan dan masa depan Sungai Deli disebut akan diperjuangkan dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab berdasarkan semangat persatuan dan kepentingan masyarakat.
Meskipun dengan kondisi yang begini, Sungai Deli masih menjadi penopang hidup bagi masyarakat sekitar. Mereka masih mencuci, mandi, bahkan menggunakan airnya untuk memasak dalam kehidupan sehari-hari.
Arsini mengatakan, kecintaan terhadap kampung dan Sungai Deli menjadi alasan warga terus berupaya menjaga sungai tersebut.
“Sebenarnya dasarnya karena kita cinta dengan kampung kita, itu pertama. Dan kedua, kita tahu, Sungai Deli ini adalah ikon Kota Medan. Jadinya ikon Kota Medan juga wajib dilestarikan,” katanya.
Warga, kata Arsini, juga telah membuat program untuk melarang masyarakat membuang sampah ke sungai sebagai salah satu upaya mengurangi risiko banjir.
“Ya, mengatasi banjir, kami sebagai warga sudah menindak, membuat program, dilarang membuang sampah ke sungai. Itu kan mengurangi juga kebanjiran. Karena sampah lah yang sebenarnya yang bisa menyebabkan banjir,” ujarnya.
Namun, ia berharap upaya tersebut juga dibarengi perhatian pemerintah, terutama dalam mengawasi aktivitas pembuangan limbah ke Sungai Deli.
“Dan juga kepada pemerintah, pantau lah pabrik-pabrik yang membuangkan pembuangan, kotorannya ke sungai, limbahnya ke sungai. Karena apa? Sungai untuk warga Kampung Aur masih digunakan, seperti mencuci, masih digunakan sama warga Kampung Aur,” katanya.
Selain persoalan lingkungan, warga Kampung Aur juga berharap dilibatkan dalam setiap program pemerintah yang berkaitan dengan Sungai Deli.
“Harapan kami, warga pinggiran sungai itu, kami orang pinggiran tapi tak pantas dipinggirkan. Jadinya perhatian pemerintah masih kami harapkan. Kalau memang ada program-program pemerintah yang menyangkut Sungai Deli, tolong libatkan kami,” ujarnya.
Arsini mengatakan, masyarakat tidak ingin kebijakan mengenai kawasan Sungai Deli dibuat tanpa mempertimbangkan warga yang selama ini tinggal dan menggantungkan kehidupan di sekitarnya.
“Kami tidak mau pemerintah itu mengambil kebijakan terhadap masyarakat pinggiran seenak-enaknya. Dan itu yang kita harapkan,” pungkasnya.
Kemeriahan Agustusan di Kampung Aur juga diisi dengan berbagai perlombaan yang melibatkan masyarakat, mulai dari balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, dan berbagai perlombaan lainnya.
Suasana kampung juga semakin semarak dengan hadirnya beragam jajanan khas Nusantara. Warga menyajikan berbagai menu makanan dari sejumlah daerah, mulai dari masakan Minang, Jawa, hingga beragam makanan lainnya yang dapat dinikmati selama perayaan Hari Kemerdekaan.
(cr26/tribun-medan.com)