TRIBUNTRENDS.COM - Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai upah buruh pengupas bawang sebesar Rp700.000 per kilogram terus menjadi sorotan dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Di tengah derasnya perbincangan tersebut, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, angkat bicara. Ia meminta masyarakat tidak berhenti pada satu atau dua kalimat yang kemudian menjadi bahan perdebatan, tetapi melihat pesan dan gagasan besar yang ingin disampaikan Presiden dalam pidatonya.
Hasan bahkan meminta publik untuk tidak mudah terseret oleh potongan pernyataan yang beredar di media sosial.
"Kita pikirkan substansi dari pidato besar Presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng itu saya rasa kita harus apa? Belajar untuk tidak terfokus. Itu algoritma juga itu," ujar Hasan di Istana, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Menurut Hasan, pidato Presiden seharusnya dipahami secara utuh. Ia menilai terlalu fokus pada satu bagian kecil dari pidato berpotensi membuat masyarakat kehilangan konteks mengenai gagasan utama yang sebenarnya hendak disampaikan.
Baca juga: Kondisi Asli Rumah Susanah yang Disebut Prabowo Bergaji Ratusan Ribu: Penuh Tumpukan Kain Majun
Hasan kembali menekankan bahwa masyarakat sebaiknya tidak hanya memperdebatkan satu pernyataan yang menjadi viral.
Menurut dia, ada banyak gagasan besar yang disampaikan Prabowo dalam pidatonya dan hal tersebut semestinya menjadi perhatian utama.
"Satu kalimat, dua kalimat, tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato presiden. Sebaiknya seperti itu," imbuhnya.
Pernyataan Hasan tersebut disampaikan ketika isu mengenai nominal upah pengupas bawang Rp700.000 per kilogram tengah menjadi pembahasan luas.
Potongan pernyataan tersebut menyebar di berbagai platform media sosial dan kemudian memunculkan beragam reaksi dari masyarakat.
Perhatian publik bahkan tidak hanya datang dari warganet. Sejumlah orang yang memang pernah atau masih menjalani pekerjaan mengupas bawang ikut memberikan tanggapan mengenai besaran upah tersebut.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan mengenai upah buruh pengupas bawang sebesar Rp700.000 per kilogram.
Pernyataan itu kemudian menjadi viral di media sosial.
Besarnya nominal yang disebutkan Presiden membuat sebagian masyarakat mempertanyakan bagaimana kondisi sebenarnya di lapangan, terutama karena pekerjaan mengupas bawang memang dilakukan oleh sebagian pekerja dengan sistem upah berdasarkan berat bawang yang dikupas.
Salah satu yang ikut menanggapi adalah Nurliah (50), pedagang sayur dan bumbu dapur di Pasar Pa'baeng-baeng, Makassar, Sulawesi Selatan.
Nurliah justru mengaku tertarik dengan nominal tersebut.
Ia bahkan menyatakan kesediaannya untuk menjadi buruh pengupas bawang apabila pekerjaan dengan bayaran Rp700.000 per kilogram benar-benar tersedia.
"Di mana? Kalau ada, saya juga mau," kata Nurliah saat ditemui di Pasar Pa'baeng-baeng, dikutip dari Tribun Timur, Minggu (16/8/2026).
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana angka yang disampaikan dalam pidato Presiden kemudian mendapat respons langsung dari masyarakat yang memiliki pengalaman dengan pekerjaan tersebut.
Baca juga: Klarifikasi Keluarga Susanah: Bukan Pengupas Bawang, Hanya Penjahit Kain Majun, Segini Upah Per Hari
Nurliah bukan orang yang asing dengan pekerjaan mengupas bawang.
Di sela aktivitasnya berjualan sayur dan bumbu dapur, ia mengaku pernah menerima pekerjaan tambahan sebagai buruh pengupas bawang.
Pengalaman tersebut membuat Nurliah memiliki gambaran mengenai besaran upah yang diterima pekerja pengupas bawang di lapangan.
Ia mengatakan pernah memperoleh bayaran Rp100.000 untuk mengupas 25 kilogram bawang.
Jika dihitung berdasarkan jumlah tersebut, nominal yang diterimanya tentu jauh berbeda dengan angka Rp700.000 per kilogram yang menjadi bahan pembicaraan.
"Waktu saya dulu makkupas, Rp 100.000 untuk 25 kilogram. Jadi kalau satu kilogram berarti Rp 2.500," kata Nurliah.
Dengan pengalaman tersebut, pernyataan mengenai upah Rp700.000 per kilogram menjadi sesuatu yang menarik perhatian Nurliah.
Ia bahkan menyampaikan kesediaannya untuk mengambil pekerjaan tersebut apabila memang tersedia dengan bayaran sebagaimana yang disebutkan.
Pernyataan Hasan Nasbi kemudian menempatkan persoalan tersebut dalam perspektif yang berbeda.
Alih-alih memperpanjang perdebatan mengenai satu angka atau satu bagian pernyataan, Istana meminta masyarakat melihat keseluruhan pesan yang disampaikan Presiden.
Hasan menilai potongan-potongan pernyataan yang menjadi viral di media sosial dapat membuat perhatian publik terfokus pada bagian tertentu saja.
Padahal, menurut dia, pidato Presiden memuat gagasan yang lebih luas.
Di tengah derasnya arus informasi digital, potongan video maupun pernyataan pendek memang dapat dengan cepat menyebar dan memicu perdebatan.
Karena itu, Hasan mengingatkan masyarakat agar tidak hanya terpaku pada bagian yang ramai diperbincangkan, tetapi memahami konteks serta substansi keseluruhan pidato.
Pada akhirnya, polemik mengenai upah pengupas bawang Rp700.000 per kilogram masih menjadi bagian dari perbincangan publik setelah pernyataan tersebut viral.
Sementara Istana memilih menekankan pentingnya melihat gagasan besar dan substansi pidato Presiden, bukan hanya satu atau dua kalimat yang kemudian menjadi sorotan di media sosial.
***