HUT ke-81 RI, Menperin Ungkap Industri Manufaktur Jadi Penggerak Utama Ekonomi Indonesia
Sanusi August 17, 2026 03:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri manufaktur dinilai tetap menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia di tengah upaya pemerintah mendorong industrialisasi sebagai bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Pada momen HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, kinerja manufaktur nasional menunjukkan ketangguhan dan terus memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian.

Baca juga: Diplomasi Ekonomi Diperkuat, Menperin Bidik Industri Indonesia Masuk Rantai Pasok Global

Pemerintah pun menyiapkan Strategi Baru Industri Nasional (SBN) untuk memperkuat peran industri sekaligus menjawab target pembangunan ekonomi pemerintah.

"Tidak akan berlebihan apabila saya meng-klaim bahwa manufaktur merupakan penggerak utama dari ekonomi dan tren indikator variabel dari kinerja manufaktur itu terus-menerus membaik dan sangat solid," tutur Agus dikutip dari wawancara dengan media nasional, dikutip Senin (17/8/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas pada kuartal II tumbuh 5,32 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Dari sisi kontribusi, industri pengolahan menyumbang 18,50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau sekitar Rp 1.212 triliun. Sektor ini juga menyerap investasi Rp 203,26 triliun, atau hampir 40 persen dari total investasi nasional.

Sementara itu, sektor manufaktur menyerap sekitar 20,04 juta tenaga kerja. Pada semester I 2024, manufaktur juga menyumbang 82,03 persen terhadap total ekspor nasional dengan nilai sekitar 115,5 miliar dolar AS.

Baca juga: Menperin Ungkap Arah Baru Hilirisasi, Fokus ke Penguatan Industri dan Penyerapan Tenaga Kerja

Agus menambahkan, indikator industri seperti Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dan Purchasing Managers' Index (PMI) juga masih menunjukkan kondisi ekspansif.

Meski demikian, pemerintah mencatat masih terdapat perbedaan kinerja antar-subsektor manufaktur. Subsektor yang pertumbuhannya rendah maupun masih mengalami kontraksi akan menjadi perhatian pemerintah melalui penguatan daya saing, efisiensi produksi, serta perluasan akses pasar.

"Secara umum industri manufaktur kita berdasarkan data BPS, tumbuhnya, perkembangannya, kinerjanya cukup baik, walaupun kita harus akui ada disparitas di antara subsektor-subsektor tersebut," terang Menperin.

Agus juga menyoroti pentingnya menjaga pasar domestik karena sekitar 78,4 persen output manufaktur nasional diserap di dalam negeri. Sementara sekitar 20 persen lainnya ditujukan untuk pasar ekspor.

Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya akan menjaga permintaan domestik, tetapi juga mendorong pelaku industri meningkatkan penetrasi ke pasar ekspor baru.

"Kita akan mencari cara agar mereka bisa lebih kuat, penguatan daya saing mereka, juga mencari cara agar mereka bisa melakukan proses-proses produksi lebih efisien dan juga perluasan pasar akses pasar baik itu domestik dengan perlindungan dan juga pasar ekspor," ucap Menperin Agus.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.