TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf memastikan pemerintah akan memberikan santunan atau tali asih kepada keluarga korban yang meninggal dunia akibat bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penanganan bencana dan penyaluran bantuan darurat ini sebagai tindak lanjut atas arahan langsung dari Presiden Prabowo.
"Tentu sebagaimana yang menjadi prosedur bagi penanganan jika terjadi bencana, pertama adalah evakuasi, kemudian mendirikan dapur umum atau dukungan logistik yang dibutuhkan seperti makanan siap saji dan lain-lain. Korban yang wafat tentu akan mendapatkan tali asih," ungkap Mensos di sela-sela perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa jajaran Kementerian Sosial telah terjun langsung ke lokasi bencana sejak dua hari terakhir.
Mereka beroperasi di bawah pimpinan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
Nantinya, tim terkait terus memastikan ketersediaan kebutuhan dasar warga terdampak.
Baca juga: Ketua DPR Ajak Masyarakat Rayakan HUT ke-81 RI Secara Khidmat di Tengah Keprihatinan Gempa NTT
Pemerintah mengedepankan kolaborasi lintas sektoral dalam penanganan bencana.
Sebagian bantuan logistik telah tiba di lokasi, sementara sisanya masih dalam tahap pendistribusian menuju titik-titik pengungsian.
Kemudian, pemerintah telah mendirikan tenda-tenda darurat dan membangun dapur umum untuk memastikan asupan makanan warga terpenuhi.
Selanjutnya, Taruna Siaga Bencana (Tagana) berkoordinasi erat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, dan Polri untuk mempercepat evakuasi dan pengamanan lokasi.
Baca juga: BMKG Catat 1.624 Gempa Susulan Terjadi di NTT, Warga Dilarang Masuk Bangunan Retak!
Selain itu, Mensos juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan lepas tangan setelah masa evakuasi selesai.
“Setelah itu nanti akan ada program-program pemberdayaan pasca bencana," katanya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 5 ribu jiwa warga mengungsi pascagempa M 7,7 di NTT hingga Minggu (16/8/2026).
Berdasarkan pemutakhiran data hingga Minggu (16/8/2026) pukul 00:00 WIB, BNPB mencatat konsentrasi pengungsi terbesar di NTT saat ini terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa.
Para pengungsi tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan mandiri 2.000 jiwa di 10 titik pengungsian.
Sedangkan di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai total 2.078 jiwa dan 500 jiwa pengungsi lainnya juga dilaporkan bertahan di Nagekeo dan dua wilayah di provinsi berbeda, yaitu Bima, hingga Kepulauan Selayar.
Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai dilaporkan membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih (tandon), hingga genset.
Akibat gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pagi itu, puluhan orang meninggal dunia, ratusan luka-luka, hingga ratusan bangunan rusak.