Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG---Gempa M.7.7 Mbay Flores, Sabtu 15 Agustus 2026, menyisakan cerita haru dan menyedihkan bagi para korban dampak gempa itu.
Mus, salah satu warga di kampung Wangkal, Desa Kajong, Kecamatan Reo Barat, Kabupaten Manggarai, kepada TRIBUNFLORES.COM, Senin 17 Agustus 2026 menuturkan, gempa terjadi saat sebagian warga kampung itu baru terbangun dan sebagian lainnya masih tertidur.
Guncangan berawal dari getaran pelan sebelum akhirnya berubah menjadi guncangan yang sangat kuat hanya dalam hitungan detik.
Saat guncangan dirasakan, Mus langsung selamatkan anak dan istri dan lari keluar rumah, sambil berteriak gempa agar warga lain yang masih tertidur juga kaget untuk bangun dan selamatkan diri.
Baca juga: Ada 2 Korban Meninggal, Bupati Mabar Kerahkan Semua Dinas Antar Batuan Beras 41 Ton Semua Kecamatan
"Begitu guncang, kami langsung keluar rumah. Yang pertama diselamatkan anak istri, dan kami juga langsung teriak biar tetangga juga bangun. Kami kemudian langsung berkumpul di lapangan semua,"ujarnya.
Gempa bumi itu juga merusak puluhan rumah warga di kampung itu. Runtuhan bangunan rumah juga menimpah sejumlah kendaraan roda dua. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa bencana alam itu khusus di kampung itu, hanya ada 1 orang warga mengalami luka ringan di kaki.
Hingga saat ini kata Mus, warga masih trauma dan belum berani melakukan pembersihan reruntuhan karena khawatir akan potensi gempa susulan, ditambah keterbatasan peralatan untuk menyingkirkan material bangunan beton.
"Saat ini belum ada aktivitas apapun, belum ada pembersihan, karena kami takut tiba pas bersih ada gempa lagi dan kalau mau bersih agak susah kalau pake tenaga kita, tentu butuh alat, kalau mau bongkar semua,"ujarnya.
Ratusan Kepala Keluarga (KK) di Kampung tersebut juga kini terpaksa menghabiskan malam di tenda-tenda pengungsian darurat.
Warga memilih mengosongkan bangunan dan mendirikan tempat perlindungan di lapangan olahraga umum dan di jalan.
"Kondisi saat ini semua warga yang terdampak mengungsi di posko. Ada 8 posko yang telah dibuat, menampung sekitar 300 lebih KK,"ujarnya.
Steven juga mengatakan, kerusakan didominasi oleh bangunan permanen bertembok.
"Untuk sementara rumah yang rusak parah lebih dari 10 rumah, dan puluhan rumah rusak ringan alias retak. Itu semua rumah tembok," ujar Steven. (rob)