TRIBUNJATIM.COM, MAUMERE - Jumlah korban jiwa akibat gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bertambah.
Berdasarkan data terbaru Kantor SAR Maumere per Senin (17/8/2026) pagi, total korban meninggal dunia tercatat mencapai 54 orang, meningkat dari pendataan sebelumnya sebanyak 51 orang pada Minggu (16/8/2026).
Selain korban jiwa, tim SAR gabungan mencatat sebanyak 132 warga mengalami luka ringan hingga berat.
Baca juga: Gempa M7,7 Guncang NTT, Gubernur Khofifah Pastikan Jawa Timur Hadir dengan Dukungan Kemanusiaan
"Data sementara pagi ini sudah 54 warga yang meninggal dunia. Tim di lapangan masih terus melakukan penyisiran di sejumlah lokasi terdampak," ujar Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman.
Menanggapi besarnya dampak kerusakan, Pemerintah Provinsi NTT resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.
Gempa yang berpusat di 30 kilometer Timur Laut Kabupaten Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer ini juga memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 5.800 warga mengungsi.
Pengungsi mendominasi di wilayah Kabupaten Sikka (3.300 jiwa), Kabupaten Manggarai (2.000 jiwa), dan Kabupaten Nagekeo (500 jiwa).
Dampak gempa juga melumpuhkan infrastruktur pelayanan publik. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan sedikitnya 14 fasilitas kesehatan (faskes) mengalami kerusakan.
Salah satu yang terdampak paling parah adalah Puskesmas Maronggela di Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada.
Seluruh bangunan gedung rusak berat sehingga pelayanan medis terpaksa dipindahkan ke halaman terbuka.
"Khusus di Puskesmas Maronggela, bantuan tenda darurat yang memadai sangat mendesak dibutuhkan agar penanganan pasien dapat berjalan dengan baik. Semua gedung rusak parah, sementara untuk stok obat-obatan sejauh ini masih aman," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, dr. Aty Due.