Kisah Bidan Tangani Persalinan di Tengah Gempa NTT, Pakai Senter HP untuk Penerangan
Ayu Wulansari K August 17, 2026 07:34 PM

Grid.ID -Di tengahgempa NTT, sejumlah bidan tetap tangani persalinan dengan alat penerangan seadanya di bawah tenda darurat. Mereka tetap menjalankan tugas meski bangunan Puskesmas rusak akibat gempa.

Kisah menyentuh datang dari Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Enam bidan di Puskesmas Laja, yakni Bidan Yoan, Bidan Ica, Bidan Lina, Bidan Nita, Bidan Tefin, dan Bidan Chen tetap menjalankan tugas mereka sebagai tenagakesehatan di tengah kondisi darurat gempa.

Sebagian bangunan Puskesmas Laja mengalami kerusakan usai diguncang gempa magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026). Ruang bersalin pun turut terdampak sehingga tidak lagi dapat digunakan.

Namun kerusakan bangunan tidak menyurutkan semangat tenaga medis untuk tetap memberikan pelayanan di tengah gempa NTT. Para bidan dan tenaga kesehatan pun akhirnya memindahkan tempat tidur bersalin ke halaman Puskesmas.

Mereka tetap memberikan pelayanan kepada ibu-ibu yang hendak melahirkan di bawah tenda darurat. Karena listrik padam, para nakes pun terpaksa menggunakan senter HP untuk mendampingi pasien selama persalinan.

"Sejak pukul enam kemarin hingga jam 8 malam kami menggunakan senter HP untuk mendampingi pasien. Listrik baru menyala setelah jam delapan malam," ungkap Kepala Puskesmas Laja, Anastasia, dikutip dari Pos Kupang.

Meski dalam kondisi darurat dengan penerangan seadanya, proses persalinan berjalan dengan lancar. Ibu dan bayi perempuan yang dilahirkan dalam kondisi sehat.

Kepala Puskesmas pun memberikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan (nakes) yang telah berjuang memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.

"Saya apresiasi atas perjuangan teman-teman Nakes yang tetap memberikan yang terbaik di tengah kondisi darurat," ujar Anastasia.

Tak hanya menangani persalinan, Puskesmas Laja juga tetap memberikan pelayanan kepada seluruh pasien umum dan balita, meski harus berada di bawah tenda darurat. Hal ini lantaran sebagian besar bangunan mengalami kerusakan serius.

Puskesmas Laja menjadi salah satu dari sejumlah fasilitas kesehatan yang mengalami kondisi serupa. Di beberapa wilayah lainnya, fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan akibat gempa, antara lain Puskesmas Maronggela, di Kecamatan Riung Barat, yang juga harus mendirikan tenda darurat untuk memberikan pelayanan.

Usai gempa NTT, terdapat 14 fasilitas kesehatan yang terdampak berdasarkan data sementara dari Pusdalops BPBD Kabupaten Ngada, Sabtu (15/8/2026). Di antaranya ada Puskesmas, RSUD, dan Posyandu.

1.598 Gempa Susulan

Hingga Senin (17/8/2026) pukul 08.00 WITA, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya 1.598 gempa bumi susulan setelah gempa bumi utama dengan kekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).

Dari total ribuan gempa susulan tersebut, BMKG mencatat ada 19 gempa susulan dengan kekuatan di atas magnitudo 5. Sementara gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2.

"Total gempa bumi susulan sampai dengan 17 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB sebanyak 1.598 kejadian," kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, dikutip dari Kompas.com, Senin (17/8/2026).

Hingga kini aktivitas gempa susulan masih cukup dinamis. Hal itu terlihat dari grafik peluruhan gempa yang fluktuatif.

"Jika dilihat dari grafik peluruhan, masih fluktuatif dan belum terlihat jelas pola peluruhannya," ujar Arief.

Lebih lanjut, Arief meminta agar seluruh masyarakat di wilayah terdampak tetap waspada dengan aktivitas gempa susulan. Menurutnya, gempa susulan akan terus terjadi dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

"Estimasi sekitar dua sampai tiga minggu ke depan akan stabil," lanjut Arief.

Terkait lokasi, sebagian besar gempa bumi terjadi di laut wilayah utara Pulau Flores.

"Sebagian besar gempa bumi ini terjadi di laut wilayah utara Pulau Flores," jelasnya.

Arief juga mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar yang tidak bersumber dari BMKG maupun instansi resmi. Selain itu, warga juga diimbau untuk menghindari bangunan yang mengalami kerusakan karena akan berbahaya jika terjadi gempa susulan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.