Mati Listrik Total 4 Hari di Laut China Selatan, Kapal Perang AS USS Benfold Terombang-ambing
Rustam Aji August 17, 2026 08:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON DC — Kapal perusak peluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy), USS Benfold, mengalami kegagalan teknis dan mati listrik total (blackout) selama empat hari saat melakoni operasi rutin di perairan Laut China Selatan.

Insiden yang dipicu gangguan generator pada 24 Juli lalu tersebut membuat kapal berbobot 10.000 ton ini terombang-ambing tanpa kemampuan bermanuver mandiri.

Selama empat hari kelumpuhan, seluruh armada prajurit di atas kapal harus bertahan hidup dalam kondisi cuaca panas ekstrem berkisar 32 hingga 37 derajat celsius. Tanpa aliran listrik, fasilitas vital seperti pendingin udara (AC), layanan dapur, pasokan air minum, hingga saluran sanitasi dan toilet berhenti berfungsi total.

Juru Bicar Armada ke-7 US Navy, Komandan Matthew Comer, mengonfirmasi insiden maritim tersebut dan memastikan seluruh personel selamat tanpa cedera.

"Tidak ada korban luka di antara awak kapal, yang menunjukkan ketangguhan, kegigihan, profesionalisme, dan ketenangan yang teguh dalam merespons kejadian tersebut," tegas Comer kepada media, Minggu (16/8/2026).

Baca juga: Eskalasi Memanas di Timur Tengah: Iran Gelar Sayembara Rp 534 Juta untuk Pembunuh Tentara AS

Pasokan Logistik Kapal Induk dan Perbaikan di Subic Bay

Untuk menjaga ketahanan awak di tengah krisis, armada gugus tempur kapal induk USS George Washington menyuplai bantuan logistik darurat. Pasokan makanan matang dikirim langsung dari kapal perang sekutu, USS Robert Smalls.

Setelah empat hari terombang-ambing di jalur perairan panas, kapal perang AS USS Benfold mati listrik ini akhirnya ditarik menuju fasilitas galangan Subic Bay, Filipina, untuk menjalani proses perbaikan intensif.

Pihak Angkatan Laut AS mengonfirmasi bahwa perbaikan telah rampung pada 8 Agustus 2026, dan kapal telah diterjunkan kembali ke medan tugas. Hingga kini, investigasi resmi terkait penyebab utama kegagalan generator masih terus dilakukan.

Tekanan Psikologis dan Stres Operasional Prajurit

Insiden lumpuhnya armada di kawasan rawan geopolitik Laut China Selatan ini dinilai menghadirkan beban psikologis yang sangat berat bagi jajaran krew. Former Captain AL AS, Carl Schuster, menilai insiden mati listrik dalam durasi panjang di wilayah konflik merupakan ujian teknis dan mental tingkat tinggi.

Baca juga: Wali Kota Agustina Minta BOP Rp25 Juta per RT Diputuskan Lewat Rembuk Warga demi Pererat Keguyuban

"Empat jam mati listrik di perairan tenang saja sangat memicu stres bagi perwira dan teknisi. Stres selama empat hari di Laut China Selatan tentu jauh lebih berat dan berisiko tinggi terhadap moril awak kapal," papar Schuster.

Kendati sempat melumpuhkan kesiapan tempur armada Washington di perairan Indo-Pasifik, respons cepat gugus tugas berhasil mencegah dampak fatal sebelum kapal ditarik dan disiagakan kembali. (danur/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.