NTT Kembali Diguncang Dua Gempa Berturut-turut, Pakar ITB Ingatkan Potensi Sesar Berdekatan
Ravianto August 17, 2026 08:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dua gempa bumi mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (17/8/2026).

Berdasarkan informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa pertama tercatat dengan magnitudo 5,0 di wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, pada sekitar pukul 00.26 WIB.

Gempa tersebut berlokasi di koordinat 7,93 Lintang Selatan (LS) dan 120,50 Bujur Timur (BT).

Beberapa jam kemudian, gempa kembali mengguncang wilayah NTT.

Gempa kedua tercatat memiliki magnitudo 5,8 dan terjadi di wilayah Kota Ende pada sekitar pukul 07.46 WIB.

Gempa kedua berlokasi di koordinat 8,38 LS dan 121,52 BT dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

Baca juga: Pakar ITB Soroti Kemiripan Gempa M 7,7 Flores dengan Tragedi 1992: Ternyata Lokasinya Berdekatan

BMKG menyatakan kedua gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Kejadian ini menambah rangkaian aktivitas kegempaan di wilayah Flores setelah gempa besar bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, NTT, pada Sabtu (15/8/2026) sekitar waktu subuh.

Gempa utama tersebut berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer.

Gempa sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah.

Gempa besar pada 15 Agustus 2026 tersebut kemudian diikuti aktivitas gempa susulan.

Kondisi ini membuat kewaspadaan masyarakat di Flores dan wilayah sekitarnya tetap diperlukan.

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB sekaligus ahli gempa dan kadaster, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., sebelumnya menjelaskan bahwa gempa Flores kali ini memiliki sejumlah karakteristik yang perlu menjadi perhatian, mulai dari mekanisme gempa, kedalaman sumber, hingga kondisi wilayah yang terdampak.

Menurut Irwan, gempa Flores 15 Agustus 2026 memiliki kemiripan dari sisi lokasi dan mekanisme dengan gempa Flores pada 1992. Jarak kedua lokasi gempa tersebut disebut kurang dari 40 kilometer.

“Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi,” ujar Prof Irwan, Senin (17/8/2026).

Menurutnya, tingginya tsunami pada 1992 turut dipengaruhi oleh longsoran bawah laut yang terjadi setelah gempa.

Untuk gempa kali ini, ia berharap kondisi serupa tidak kembali terjadi.

Meski memiliki magnitudo besar dan lokasi yang berdekatan dengan gempa 1992, potensi tsunami sangat dipengaruhi oleh kondisi lain, termasuk kemungkinan terjadinya longsoran bawah laut.

“Mudah-mudahan dalam gempa ini, walaupun magnitudonya mirip, yang dulu 7,9 sekarang 7,7, lokasinya pun berdekatan tidak sampai 40 kilometer, tetapi tidak diikuti dengan longsoran bawah laut sehingga tsunaminya tidak setinggi tsunami tahun 1992,” jelasnya.

Wilayah Flores tempat terjadinya gempa merupakan bagian dari Flores Back Arc atau busur belakang Flores.

Kawasan ini dikenal memiliki aktivitas kegempaan yang signifikan.

Irwan menjelaskan, kawasan tersebut memiliki riwayat gempa besar.

Salah satunya gempa bermagnitudo 6,6 pada 2009 serta rangkaian gempa di wilayah utara Lombok pada 2018.

“Kalau kita ingat tahun 2018 misalnya, di utara Lombok, itu pun terjadi retakan gempa besar di atas magnitudo enam,” ujarnya.

Kajian akademik dalam penyusunan peta gempa nasional juga menunjukkan masih terdapat bagian dari kawasan tersebut yang memiliki potensi kegempaan.

“Masih ada bagian yang sebetulnya belum menghasilkan gempa. Kita tidak berharap itu terjadi, tetapi secara riset akademik dari yang kami hasilkan dari riset Pusgen yang menjadi pusat studi gempa nasional, yang menjadi peta nasional gempa Indonesia saat ini, sebetulnya potensi gempa itu tidak kita harapkan tetapi masih ada di wilayah tersebut,” tuturnya.

Aktivitas gempa susulan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah gempa utama.

Berdasarkan pemantauan BMKG, puluhan gempa susulan telah tercatat setelah gempa utama, dengan magnitudo mencapai 6,2.

Irwan menjelaskan bahwa gempa besar pada umumnya memang diikuti oleh gempa-gempa susulan. Secara umum, magnitudo gempa susulan cenderung menurun seiring berjalannya waktu.

“Biasanya suatu gempa besar terjadi akan diikuti beberapa gempa-gempa susulan yang magnitudonya semakin lama akan semakin kecil,” ujarnya.

Meski demikian, kewaspadaan masyarakat tidak boleh berkurang. Pengalaman gempa Lombok pada 2018 menunjukkan aktivitas gempa dapat melibatkan segmen yang berdekatan.

“Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin, tidak kita harapkan, bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan. Ini pernah terjadi ketika gempa 2018 di wilayah Lombok,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa gempa susulan dengan magnitudo di atas 6 masih dapat menimbulkan dampak yang signifikan.

“Mungkin gempanya banyak, tapi semakin lama semakin mengecil. Tetapi masih ada kemungkinan, walaupun kecil, apabila gempanya di atas enam, itu bisa memberikan dampak merusak yang cukup signifikan,” ucapnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.