Opini: Semua Badai Pasti Berlalu! 
Dion DB Putra August 17, 2026 09:19 PM

Oleh: Melki Deni, S. Fil.
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.

POS-KUPANG.COM - Saya mendapatkan bangku nomor 12A dalam penerbangan dari Madrid-Spanyol ke München-Jerman, dan bangku nomor 26F dari München ke Varsovia-Polandia. 

Saya duduk di dekat jendela karena ingin melihat pemandangan di luar jendela pesawat. Para pramugari menjelaskan bagaimana cara membuka pintu darurat karena saya duduk di pintu darurat. 

Setelah beberapa menit lepas landas, saya melihat kota-kota di Eropa tampak begitu kecil, dan tak kelihatan manusia di bawah sana: sebegitu kecilkah manusia di bumi ini? 

Benua Eropa lebih banyak padang gurun daripada hutan yang subur seperti di Indonesia, Brasil, dan beberapa negara lainnya. 

Di sini gandum, apel, bunga matahari dan banyak tanaman lainnya tumbuh subur di padang. Dibandingkan dengan Indonesia…

Baca juga: Opini: Bencana di Hari Kemerdekaan

Saya terjaga jam 03:45 dini hari waktu Polandia. Saya ingin membuka ponsel, tetapi sempat berpikir itu akan membuat saya tidak bisa tidur lagi. 

Notifikasi masuk pertama berasal dari adik di kampung Mbawar, kecamatan Reok, Manggarai, dan dua adik di Maumere, kabupaten Sikka tentang gempa bumi yang terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Disusul beberapa chat dari teman dan kenalan. Mereka semua meminta doa untuk mereka! 

Saya berusaha menghubungi mereka beberapa menit kemudian  tetapi chat saya hanya centang satu. Dua hari tanpa kabar orang tua dan keluarga di kampung. Kekhawatiran dan ketakutan mengganggu suasana hati. 

Di tengah reruntuhan bangunan di Flores-NTT, Simalungun-Sulawesi Utara, Kolombia , Granada-Spanyol, dan beberapa wilayah lainnya, serta kepulan asap kebakaran ribuan hektar hutan yang menyesakkkan di Spanyol, doa sering kali lahir sebagai jeritan dari kedalaman jurang eksistensial manusia. 

Antonio Pavía menegaskan bahwa Tuhan mengizinkan situasi ekstrem terjadi agar manusia mampu menyadari bahwa Dia-lah satu-satunya yang mampu mengembalikan kehidupan yang telah hilang (Antonio Pavía, El hijo pródigo. El que busca a Dios, lo encuentra, Madrid: San Pablo, 2012, 5). 

Dalam narasi penderitaan dan duka yang melanda beberapa belahan bumi, doa bukan sekadar permohonan magis atau pelarian semata, melainkan titik temu antara ketidakberdayaan manusia dan kemahakuasaan Sang Pencipta. 

Yesus Kristus adalah pusat pertemuan yang membangun kembali manusia yang menderita dan hancur melalui firman-Nya. 

Sebagaimana diungkapkan Pavía, “Tuhan membiarkan manusia hancur dan turun ke nerakanya sendiri untuk mengajarkan kepercayaan anak kepada bapanya”. Melalui doa, kita menembus kabut bencana dan asap api untuk menemukan “batu karang” tempat hidup kita berpijak. 

Iman manusia bukanlah sebuah status statis, melainkan sebuah medan pertempuran yang memerlukan askesis atau latihan spiritual yang disiplin. 

Anselm Grün dalam  “El gran libro de la verdadera felicidad”, (Bilbao: Mensajero, 2007, hlm. 5) menjelaskan bahwa askesis merupakan latihan untuk meraih kebebasan batin agar hidup tidak didikte oleh pengaruh eksistensial atau keinginan egois. 

Seperti seorang atlet, iman membutuhkan “latihan iman” agar iman kita tetap tegak dalam menghadapi badai kehidupan yang tidak terduga. 

Hanya iman kepada Allah Tritunggal memampukan kita saling mengasihi, peduli, bersolidaritas dan memberikan perhatian kepada sesama dalam pengharapan iman akan kebangkitan.

Cobaan dan godaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan beriman yang justru berfungsi menguatkan akar spiritualitas kita. 

Tanpa ujian, iman hanyalah sebuah teori abstrak dan bangunan plagriarisme iman imajinatif yang akan runtuh saat berhadapan dengan realitas penderitaan dan duka yang tak terhindarkan. Perjuangan iman ini, beserta ujian atasnya, akan menyertai kita hingga hari terakhir hidup kita. 

Ujian iman berfungsi sebagai pemurnian dari ilusi diri dan ketergantungan pada hal-hal duniawi yang fana dan sementara. 

Tuhan sering kali tidak menjawab doa sesuai keinginan kita karena Ia ingin memberikan anugerah yang lebih besar, yakni ketekunan kita untuk tetap berada di hadirat-Nya. 

Dalam penderitaan dan kemalangan, manusia “dipaksa” untuk melepaskan “berhala” berupa kepastian diri dan kontrol atas masa depan: “Jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. 

Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, bik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang…  

Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.” (bdk. 1 Tim 4:7-10).

Kegagalan dan krisis, dalam hal ini, adalah pintu masuk bagi Tuhan untuk menyentuh dasar bangunan hidup kita yang sering kali rapuh. Ini tidak berarti di luar kegagalan dan krisis, Tuhan tidak ada, dan tidak bercampur tangan. 

Tuhan sudah ada, tetap ada, dan akan selalu ada dalam setiap situasi dan kondisi hidup manusia. Tuhan akan hadir dan memenuhi hidup kita, kalau kita, dalam kerinduan yang mendalam, mencari dan menemukan-Nya. 

Kalau manusia tidak membutuhkan Tuhan, Tuhan bisa saja tidak datang kepada manusia karena Tuhan juga menghargai pilihan bebas manusia. 

Namun, Tuhan tidak bisa menyangkal diri dari kasih-Nya kepada manusia. Tidak peduli seberapa brutal, kejam, kecil, fana, hancur, dan keras kepala bagaimana pun manusia, Tuhan tetap mengasihi dan memeluknya karena Tuhan berjanji akan tetap “menerbitkan matahari bagi orang yang jaha dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (bdk. Mat. 5:45). 

Karena itu, Tuhan tidak boleh dipandang sebagai ambulans apalagi hanya sebatas Unit Gawat Darurat (UGD) atau Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang dibutuhkan di bagian terakhir episode perjuangan kita atau pada situasi batas. Tuhan adalah alfa dan omega (bdk. Wahyu 1:8; 21.6; 22:13) karena Ia dari selama-lamanya sampai selama-lamanya tetap sama (bdk. Mazmur 90:2; Keluaran 3: 14; Ibrani 13:8). 

Seperti yang ditulis oleh para rahib gurun perjuangan melawan hawa nafsu dan pikiran jahat adalah premis bagi kesahatan jiwa dan kedamaian batin. 

Ujian iman ini menyadarkan kita bahwa identitas terdalam kita tidak terletak pada kesuksesan, kemajuan dan prestasi yang diberikan oleh lembaga-lembaga besar, melainkan pada keberadaan kita di hadapan Tuhan. 

Semua santo/santa dan orang suci menjadi suci dan tokoh terkenal karena mampu melakukan hal-hal sederhana yakni bagaimana mengatur diri di hadapan Tuhan dan sesama. 

Mereka tidak berlagak mengubah dunia di luar, tetapi pertama-tama melakukan transformasi, rekonsiliasi dan rekonstruksi besar-besaran dalam hidupnya. Di sini sangat dibutuhkan meditasi dan kontemplasi. 

Meditasi dan kontemplasi adalah seni untuk beralih dari pikiran diskursif dan imajinasi liar yang melelahkan menuju persepsi langsung akan kehadiran Sang Ilahi. 

Franz Jalics mendefinisikan kontemplasi sebagai kontak sederhana dan langsung dengan Tuhan yang merupakan kebutuhan paling dasar manusia modern di tengah dunia yang teknokratis dan agitatif (Franz Jalics, Ejercicios de contemplación, Salamanca: Sígueme, 2017). 

Melalui meditasi, kita belajar, untuk berheni memanipulasi realitas dan membiarkan segala sesuatu ada sebagaimana adanya di hadapan Tuhan. 

Pikiran sering kali menciptakan jarak dengan realitas, sedangkan indra dan perhatian membawa kita kembali ke momen “saat ini” di mana Tuhan bertakhta di dalam diri kita (Galatia 2:20; Yohanes 14:23). 

Kontemplasi membebaskan kita dari dominasi ego yang selalu ingin memiliki, mengonsumsi atau melahap segala sesuatu. 

Dengan demikian, meditasi menjadi terapi bagi jiwa yang lelah, hancur, dan tercerai berai oleh kebisingan, krisis kepedulian global, krisis kemanusiaan.

Menemukan Tuhan tidak memerlukan perjlananan atau ziarah ke tempat yang jauh, melainkan sebuah kembali menuju “interioritas” terdalam roh manusia. 

Tuhan bersemayam di dalam “ruang sunyi” batin kita (ndk. Matius 6:4-18), sebuah citra murni yang Ia tanamkan dalam kemanusiaan kita sejak penciptaan (bdk. 1 Kor 3:16-17; 6:16.19). 

Ruang ketenangan ini sudah ada di dalam diri kita, terlepas dari seberapa gaduh pikiran yang menghantaui kepala kita. 

Selain di dalam diri kita, Tuhan juga dapat ditemukan dalam keindahan alam dan di dalam diri sesama manusia (bdk. Luk. 10:27; 36-37; Mat. 5:44; Imamat 19:18) melalui “sakramen persaudaraan”. 

Seperti yang ditekankan oleh Javier Melloni, kehadiran Allah bersifat “diafiania”, yakni termanifestasi melalui segala sesuatu yang ada di alam semesta ini (Javier Melloni, Perspectivas del absoluto, Barcelona: Herder, 2018). 

Kita hanya perlu memejamkan tatapan batin untuk mengenali jejak-jejak Sang Pencipta dalam setiap detak realitas. 

Setelah melihat jejak-jejak Sang Pencipta, kita harus merefleksikan, menguji dan melakukan discernment atasnya: apakah itu benar jejak-jejak Sang Pencipta atau hanya imajinasi kita yang merupakan proyeksi diri kita dalam wujud pelarian dari salib hidup yang tidak terhindarkan?

Refleksi tentang Tuhan tetap menjadi kebutuhan mendesak karena tanpa dimensi transedensi, kehidupan manusia akan merosot menjadi sekadar bertahan hidup. 

Byung-Chul Han memperingatkan bahwa masyarakat yang kehilangan orientasi pada Tuhan akan terjebak pada “inmanensi produksi dan konsumsi uyang membuat jiwa menjadi miskin dan atrofi (Byung-Chul Han, La expulsión de lo distinto, Barcelona: Herder, 2017). 

Tuhan bukanlah proyeksi diri dari keinginan infantil, melainkan misteri yang tidak terduga yang terus-menerus bertanya “di mana engkau?” kepada eksistensi kita. 

Tanpa Tuhan, dunia menjadi buram dan manusia kehilangan kemampuannya untuk membedakan antara yang esensial dan yang trivial. 

Sebagaimana dikatakan Simone Weil, “perhatian yang sepenuhnya murni dan tanpa campuran adalah doa” (Byung-Chul Han, Sobre Dios: Pensar con Simone Weil, Madrid: Paidós, 2025). 

Kebutuhan akan Tuhan adalah kerinduan akan makna yang tidak dapat dipuaskan oleh kemajuan teknologi semata.

Hidup yang baik, etis, dan religius dimulai dengan ketaatan pada hukum cinta dan kesediaan untuk memikul salib kehidupan. Etika sejati menuntut kita untuk melepaskan diri dari lingkaran narsisme dan membuka diri terhadap misteri orang lain. 

Menurut Sepuluh Perintah Allah, hidup religius berarti menghormati martabat setiap makhluk dan membatasi hak yang kuat untuk melindungi yang lemah. Dan menjadi etis berarti berani menghadapi konflik dan bertanggung jawab atas tindakan kita di hadapan Tuhan, dan sejarah. 

Kita dipanggil untuk menjadi “sumber radiasi penyembah”, bagi lingkungan kita dengan membiarkan kasih Tuhan menyembuhkan luka-luka kita. Hidup religius sejati tidak terletak pada ritual lahiriah yang hampa, melainkan pada ketulusan hati untuk melayani dan mengasihi tanpa pamrih. 

Keheningan adalah rahim bagi kelahiran hal-hal baru dan wahana untuk mendengarkan suara Tuhan yang lembut. Pada era hiperkomunikasi digital ini, kebisingan informasi telah membunuh kemampuan manusia untuk berpikir mendalam, cara pandang dunia, dan berdoa secara autentik. 

Keheningan batin memungkinkan kita untuk menembus dasar jiwa di mana masalah dunia tidak lagi memiliki akses dan kita menjadi satu dengan diri sendiri serta Tuhan. 

Simone Weil menyatakan bahwa “tidak ada kebahagiaan yang sebanding dengan keheningan batin”. Tanpa keheningan, doa hanya akan menjadi monolog ego yang bising, penuh tuntutan kepada Tuhan, dan menyalahkan realitas kehidupan. 

Hanya dalam kesunyian yang terjaga, kita dapat mengenal bisikan lembut Tuhan yang tidak hadir dalam wujud badai, bencana, wabah, kebakaran, dll., melainkan dalam angin sepoi-sepoi (1 Raja-raja 19:11-12). 

Keheningan memfasilitasi dan memberi energi kepada perhatian. Perhatian adalah kunci dasar spiritualitas yang mengubah setiap aktivitas harian menjadi sebuah perumpamaan transandensi. 

Byung-Chul Han mencatat bahwa krisis agama (krisis penghayatan iman) saat ini sebenarnya adalah krisis perhatian; manusia tidak lagi mampu memandang realitas dengan ketajaman batin. 

Perhatian yang mendalam memungkinkan kita untuk melihat yang autentik dalam hal-hal kecil dan sederhana; bahwa segala sesuatu bernilai dan berguna. 

Dengan memberikan perhatian penuh pada tugas sehari-hari, kita mempraktikkan kehadiran Tuhan dalam rutinitas yang tampak biasa-biasa saja. 

Perhatian kepada sesama, terutama yang menderita, sakit, miskin adalah bentuk kasih supranatural yang menentang gravitasi egoisme kita. 

Sebagimana ditegaskan oleh Byung-Chul Han, “perhatian ekstrem adalah apa yang membentuk fakultas kreatif manusia, dan tidak ada perhatian ekstrem selain bersifat religius”. 

Perjalanan spiritual di tengah bencana menuntut kita untuk menemukan “emas batin” dan iman yang kokoh melalui jalan pengosongan diri (kenosis), penyerahan diri secara total kepada Tuhan, menjalin harapan dan menghidupkan perintah “saling mengasihi” kepada sesama manusia. 

Kita harus berani menghadapi kebenaran hidup yang sering kali menyakitkan agar dapat bertransformasi menjadi manusia yang utuh. 

Penderitaan dunia, seperti yang terjadi di Flores dan beberapa tempat lainnya, mengundang kita untuk melihat dengan penuh perhatian, melatih iman, mengasah kepedulian, empati dan solidaritas sosial, dan menderita bersama Kristus demi penebusan kolektif. 

Kehidupan rohani bukan tentang pencapaian prestasi, monetisasi Facebook Pro, TikTok, dan akun media sosoal lainnya, melainkan tentang penyerahan diri yang radikal kepada kehendak Tuhan dalam perhatian, kepedulian, dan solidaritas sosial. 

Semua korban adalah manusia yang membutuhkan perhatian, kepedulian, dan solidaritas yang aktif dari kita, bukan bahan mentah yang kemudian dijual di Facebook Pro, TikTok, dll., untuk kepentingan pribadi pemilik akun. Berani berhenti menjual kesedihan, penderitaan, duka, dan kemalangan sesama manusia! 

Stop menunggah foto dan video korban tanpa sepengetahuan korban atau keluarga dekatnya! Stop memanfaatkan penderitaan dan kemalangan orang lain dengan merampok, mencuri, korupsi dan merampas! Stop mentertawakan penderitaan dan kemalangan orang lain! 

Semua badai pasti berlalu, tetapi tidak dengan badai kerakusan data dari sistem Big Data karena ia makin hidup kalau makin banyak data yang diusapnya dari praktik kehidupan kita. 

Betapa menyayat hati mereka yang menjual penderitaan, kemalangan dan kematian orang lain ke Big Data di bawah perintah teknofeodalisme algoritma digital! 

Dengan menjaga hati tetap bersih, sunyi, penuh perhatian, kepedulian, damai, dan solidaritas yang tinggi, kita sedang membiarkan Sang Penyelamat menyelamatkan dan menjadi jiwa kita sebagai surga di dunia. 

Di tengah segala bentuk bencana alam semesta, peperangan, perampokan, dan pembunuhan massal, nurani kemanusiaan kita harus bebas dari bencana! 

Kekuatan bencana alam memang lebih besar, tetapi kemanusiaan kita bisa memulihkan, menyembuhkan, membebaskan dan menyelamatkan para korban bencana alam. 

Di sinilah iman yang telah dilatih dan diuji akan menuntun kita kembali ke asal dan tujuan akhir kita yakni saling mengasihi tanpa pamrih, sebab “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,  yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran”, (bdk. 1 Timotius 2:3-4). 

Orang yang beriman tetap mempunyai harapan iman yang dalam: semua badai pasti berlalu (bdk. Mazmur 30:6b; Pengkhotbah 3:1; 1Kor. 10:13; 2Kor 3:17) dan “karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (bdk. Yohanes 1:16). (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.