TRIBUNGAYO.COM - Pada Pesta Rakyat memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia di Gedung Agung, Yogyakarta pada Sabtu, 15 Agustus 2026, mahasiswa Gayo menghadirkan dua warisan budaya dari dataran tinggi Tanoh Gayo yaitu Didong dan Tari Guel.
Di panggung itu, tepukan Didong bertemu syair dan lantunan suara. Tiga ceh yakni Amri, Najib, dan Hafiz memimpin pertunjukan didukung sepuluh orang penepok.
Kemudian Tari Guel mengambil ruang. Anhar memerankan Gajah, bersama Miko dan empat penari perempuan.
Gerak tubuh, komposisi tari, dan simbol-simbol yang melekat pada Guel membawa jejak sejarah serta kehidupan masyarakat Gayo ke tengah masyarakat Yogyakarta.
Ada sesuatu yang menarik dari panggung ini, anak-anak muda Gayo tidak sedang sekadar mempertontonkan kesenian kampung halaman.
Mereka sedang membawa identitas. Di rantau, identitas tidak cukup disimpan dalam ingatan.
Ia perlu dinyanyikan, ditarikan, diperkenalkan, dan dipertemukan dengan identitas-identitas lain.
Yogyakarta, dengan lingkungan pendidikan dan masyarakatnya yang multikultural, menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi Nusantara.
Ketua Tim Koordinasi IPEMAH LUTYO, Hanif, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kebudayaan diharapkan menjadi sarana memperkuat identitas budaya sekaligus membangun silaturahmi dengan daerah lain.
“Semoga dengan adanya kita mahasiswa yang terus menampilkan dan menghidupkan budaya Gayo.
Kita berharap ini bisa menguatkan dan menjadi ajang silaturahmi budaya dengan daerah-daerah lain.
Termasuk juga pengenalan budaya dengan masyarakat yang belum familiar dengan budaya Gayo,” ujar Hanif, Senin (17/8/2026).
Begitulah kebudayaan bekerja. Ia tidak mengenal batas kabupaten. Tidak berhenti di kaki Bur Gayo.
Tidak pula selesai ketika seorang anak muda meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu.
Didong ikut merantau. Guel ikut berjalan.
Keduanya menemukan panggung baru di Yogyakarta, bertemu dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Lalu pulang kembali ke tanah asalnya dalam bentuk cerita: bahwa tradisi masih hidup ketika anak mudanya mau menghidupkan.
Pesta Rakyat HUT ke-81 RI akhirnya bukan sekadar perayaan kemerdekaan.
Ia menjadi ruang kecil tempat Indonesia melihat dirinya sendiri beragam, berwarna dan saling mengisi. (*)
Baca juga: Kapolres Gayo Lues Disambut Didong Alo dan Tarian Ranup Lampuan
Baca juga: Radensyah Maestro Tari Guel, Usia Dua Tahun Menyambut Presiden Soeharto
Baca juga: Buku "Didong dan Tari Guel dari Gayo, Aceh" Karya LK Ara, Upaya Merawat Warisan Budaya