Pengamat Soroti Kebijakan Intelijen Disebar ke Sekolah Demi Mencegah Tawuran di Palembang
Refly Permana August 17, 2026 09:27 PM

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Upaya mencegah tawuran antar pelajar di Kota Palembang mulai dilakukan dengan memperketat pengawasan di sekolah-sekolah yang terindikasi rawan. 

Aparat bahkan menyebarkan intelijen ke sejumlah sekolah serta melakukan sweeping sebagai langkah antisipasi.
Langkah tersebut mendapat perhatian dari Pengamat Pendidikan Sumatera Selatan Dr. Jalaluddin, MPSA.

Menurutnya, pencegahan tawuran memang membutuhkan keterlibatan aparat, tetapi langkah tersebut harus dibarengi dengan deteksi dini dan kerja sama seluruh pihak.

"Menurut saya, tawuran pelajar di Palembang bukan hanya masalah kenakalan anak, tetapi sudah menjadi persoalan bersama yang melibatkan sekolah, keluarga, lingkungan, media sosial, dan aparat," kata Jalaluddin kepada Sripoku.com.

Baca juga: Iptu Oka Endrayudhy Bubarkan Kumpulan Pelajar di Palembang yang Mau Tawuran, TKP Demang Lebar Daun

Ia mengatakan, kejadian pengeroyokan yang kemudian viral menunjukkan konflik kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi konflik kelompok. 

Kondisi tersebut bisa dipicu provokasi maupun solidaritas yang salah di kalangan pelajar.

Karena itu, menurut Jalaluddin, sweeping dan penjagaan polisi memang diperlukan untuk mencegah terjadinya tawuran. 

Namun, pengawasan aparat tidak cukup untuk menyelesaikan akar persoalan yang menyebabkan pelajar terlibat aksi kekerasan.

"Yang lebih penting adalah mendeteksi konflik sejak awal. Sekolah, guru BK, orang tua, masyarakat, pemerintah dan polisi harus saling berkomunikasi dan bekerja sama," ujarnya.

Jalaluddin menegaskan, penanganan tawuran tidak boleh hanya bersifat reaktif atau dilakukan setelah terjadi bentrokan.

Sekolah dan pihak terkait harus mampu membaca potensi konflik sejak dini sehingga dapat dilakukan intervensi sebelum persoalan berkembang.

"Jangan menunggu tawuran terjadi baru bertindak. Keberhasilan kita bukan diukur dari berapa banyak siswa yang ditangkap, tetapi dari berapa banyak tawuran yang berhasil dicegah sebelum terjadi," tegasnya.

Baca juga: Polisi Awasi Ketat 5 SMK di Palembang, Viral Ajakan Tawuran Balas Dendam, Ini Kata Kapolrestabes

Sementara itu, Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik UIN Raden Fatah Palembang Taufik Akhyar menilai penyebaran intelijen di sekolah, khususnya tingkat SLTA, dapat dipahami jika tujuannya untuk mencegah tawuran antarpelajar.

Namun, ia menilai kebijakan tersebut bukan solusi yang tepat jika dijadikan sebagai pendekatan utama dalam menangani persoalan tawuran. 

Menurutnya, lembaga pendidikan justru harus serius mencari akar masalah dan membangun pendekatan yang lebih komprehensif.

"Kebijakan tersebut menjadi tamparan bagi dunia pendidikan karena kondisi tersebut menjadi indikasi kegagalan sekolah menjalankan fungsi mendidik generasi yang bermoral," kata Taufik.

Ia mengingatkan, pelibatan intelijen untuk memantau pelajar yang merupakan calon intelektual dan generasi penerus bangsa juga berpotensi menimbulkan persepsi negatif. 

Para pelajar dikhawatirkan seolah-olah diposisikan sebagai kelompok kriminal yang berpotensi menimbulkan persoalan.

Taufik berharap sekolah, keluarga, pemerintah, masyarakat dan aparat dapat membangun pola komunikasi yang lebih kuat dalam mencegah tawuran. 

Pendekatan pendidikan karakter, pembinaan siswa serta deteksi dini dinilai penting agar konflik antar pelajar dapat diselesaikan sebelum berubah menjadi aksi kekerasan.

Dengan demikian, upaya pencegahan tawuran di Palembang diharapkan tidak berhenti pada sweeping dan pengawasan aparat.

Langkah tersebut perlu diikuti pembenahan di lingkungan pendidikan serta keterlibatan keluarga dan masyarakat agar potensi tawuran dapat dicegah sejak awal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.