12 Kebiasaan Orang yang Menjadi People Pleaser, Sering Bilang Iya meski Tidak Mau
Septika Shidqiyyah August 17, 2026 10:00 PM

Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah kamu tetap mengatakan "iya" meski sebenarnya ingin menolak? Atau merasa tidak enak hati ketika tidak bisa membantu orang lain? Jika hal tersebut terjadi berulang kali sampai kebutuhan diri sendiri selalu dikesampingkan, bisa jadi ada kecenderungan people pleasing.

Istilah people pleaser belakangan cukup sering digunakan untuk menggambarkan orang yang terlalu berusaha membuat orang lain senang. Namun, menjadi orang yang suka membantu atau sesekali mengalah tidak otomatis membuat seseorang menjadi people pleaser.

Penelitian yang diterbitkan dalam Current Psychology pada 2026 mendefinisikan people pleasing sebagai kecenderungan memprioritaskan kebutuhan dan tujuan orang lain dibandingkan kebutuhan dan tujuan diri sendiri.

Sementara itu, Cleveland Clinic menjelaskan bahwa people pleaser biasanya terus menempatkan kebutuhan orang lain di bawah kebutuhannya sendiri, bahkan sampai mengambil tanggung jawab yang sebenarnya tidak perlu dilakukan demi mendapatkan kasih sayang atau persetujuan.

1. Sulit mengatakan "tidak"

Ilustrasi People Pleaser (AI Generated)
Ilustrasi People Pleaser (AI Generated)

Salah satu kebiasaan orang yang menjadi people pleaser adalah kesulitan menolak permintaan orang lain.

Misalnya, seseorang sudah memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi tetap menerima permintaan teman untuk membantu. Ia mungkin sebenarnya ingin mengatakan, "Maaf, aku tidak bisa," tetapi justru menjawab, "Iya, nanti aku bantu."

Cleveland Clinic menyebut kesulitan mengatakan tidak sebagai salah satu pola yang sering muncul pada people pleaser. Seseorang bisa mengatakan "iya" karena ingin menghindari rasa bersalah atau tidak ingin mengecewakan orang lain.

2. Selalu berusaha menghindari konflik

People pleaser biasanya merasa tidak nyaman ketika terjadi perbedaan pendapat.

Daripada mempertahankan pendapat sendiri, mereka bisa memilih mengalah dengan mengatakan, "Terserah kamu," "Aku ikut saja," atau "Tidak apa-apa."

Menghindari konflik memang tidak selalu buruk. Namun, jika seseorang terus mengorbankan pendapat dan kebutuhannya hanya agar suasana tetap tenang, kebiasaan tersebut dapat menjadi pola people pleasing. Cleveland Clinic juga mencatat penghindaran konflik dan kesulitan bersikap asertif sebagai karakteristik yang sering berkaitan dengan people pleasing.

3. Terlalu sering meminta maaf

"Maaf, ya."

Kalimat sederhana tersebut bisa menjadi kebiasaan ketika seseorang terlalu khawatir membuat orang lain tidak nyaman.

People pleaser dapat meminta maaf bahkan ketika dirinya tidak benar-benar melakukan kesalahan. Misalnya, meminta maaf karena tidak bisa membantu, karena terlambat membalas pesan akibat sedang bekerja, atau karena menyampaikan pendapat yang berbeda.

Cleveland Clinic memasukkan kecenderungan meminta maaf atau menerima kesalahan atas sesuatu yang bukan tanggung jawabnya sebagai salah satu tanda people pleasing.

4. Mengatakan setuju meski sebenarnya tidak setuju

Ilustrasi Kebiasaan (Foto/Dok: Pexels)
Ilustrasi Kebiasaan (Foto/Dok: Pexels)

Kebiasaan orang yang menjadi people pleaser lainnya adalah terlalu mudah menyetujui pilihan orang lain.

Dalam lingkungan kerja, misalnya, ia sebenarnya merasa pembagian tugas tidak adil, tetapi memilih diam. Dalam pertemanan, ia tidak menyukai rencana yang dibuat kelompok, tetapi tetap mengatakan, "Oke, aku ikut."

Tujuannya bukan selalu untuk mendapatkan keuntungan, melainkan menghindari kemungkinan orang lain kecewa, marah, atau tidak menyukainya.

5. Sulit mengungkapkan kebutuhan sendiri

People pleaser sering kali sangat peka terhadap kebutuhan orang lain, tetapi justru kurang memperhatikan kebutuhannya sendiri.

Ia bisa dengan cepat mengetahui ketika teman sedang membutuhkan bantuan. Namun, ketika dirinya sendiri membutuhkan waktu istirahat, bantuan, atau ruang pribadi, ia merasa sungkan untuk mengatakannya.

Penelitian 2026 mengenai people pleasing secara khusus menggambarkan kecenderungan ini sebagai pola menempatkan kebutuhan dan tujuan orang lain di atas kebutuhan dan tujuan diri sendiri.

6. Merasa bersalah ketika menolak

Bagi sebagian people pleaser, mengatakan "tidak" tidak berhenti pada jawaban tersebut.

Setelah menolak, mereka justru memikirkan apakah telah membuat orang lain kecewa.

Misalnya:

"Jangan-jangan dia tersinggung?"

"Apa aku terlalu egois?"

"Seharusnya tadi aku bantu saja."

Rasa bersalah semacam ini dapat membuat seseorang kembali mengatakan "iya" pada kesempatan berikutnya. Cleveland Clinic mencatat bahwa keinginan menyenangkan orang lain dapat membuat seseorang mengatakan iya untuk menghindari rasa bersalah atau mengecewakan orang lain.

7. Takut tidak disukai orang lain

Ilustrasi persahabatan. Credit: pexels.com/Elina
Ilustrasi persahabatan. Credit: pexels.com/Elina

Kebutuhan untuk mendapatkan penerimaan sosial juga dapat menjadi bagian dari pola people pleasing.

Seseorang mungkin terlalu memikirkan bagaimana dirinya dinilai orang lain. Ia ingin dianggap baik, mudah diajak bekerja sama, tidak merepotkan, dan selalu siap membantu.

Penelitian tentang social approval menunjukkan bahwa penilaian dan penerimaan sosial memang berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang dirinya. Dalam studi longitudinal, persepsi mengenai penerimaan dari orang lain berhubungan dengan perubahan self-esteem.

Namun, hal tersebut tidak berarti setiap orang yang ingin disukai otomatis merupakan people pleaser. Keinginan diterima secara sosial merupakan bagian normal dari kehidupan manusia.

8. Mengambil tanggung jawab yang bukan miliknya

"Sudah, biar aku saja."

Kalimat tersebut terdengar positif, tetapi jika terlalu sering dilakukan, justru bisa menjadi tanda seseorang sulit menetapkan batasan.

People pleaser dapat mengambil pekerjaan, urusan, atau tanggung jawab orang lain karena merasa dirinya harus membantu. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat beban semakin berat.

Cleveland Clinic menyebut people pleaser dapat mengambil tanggung jawab yang sebenarnya tidak diperlukan demi mendapatkan kasih sayang atau persetujuan orang lain.

9. Tetap membantu meski sudah kelelahan

Kebiasaan orang yang menjadi people pleaser tidak selalu terlihat dari kata-kata. Terkadang, perilakunya justru terlihat dari kesediaan untuk terus membantu meski kondisi fisik dan emosional sudah lelah.

Contohnya, seseorang sudah pulang kerja dalam keadaan capek tetapi tetap menerima permintaan bantuan karena merasa tidak enak menolak.

Masalahnya, pola "selalu memberi" tanpa memperhatikan diri sendiri dapat memicu stres, frustrasi, dan rasa kesal terhadap orang lain. Cleveland Clinic memperingatkan bahwa people pleasing yang terus-menerus dapat berkontribusi terhadap stres, burnout, dan rasa dimanfaatkan.

10. Menyembunyikan rasa kesal

Ilustrasi teman, konflik, bertengkar, iri. (Image by drobotdean on Freepik)
Ilustrasi teman, konflik, bertengkar, iri. (Image by drobotdean on Freepik)

Ironisnya, orang yang selalu berusaha membuat orang lain senang belum tentu selalu merasa senang.

Ketika terlalu sering mengalah, seseorang dapat menyimpan rasa kecewa atau kesal karena kebutuhannya tidak pernah disampaikan.

Perasaan tersebut bisa muncul dalam bentuk frustrasi atau resentment. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa terus-menerus mengutamakan kebutuhan orang lain dapat membuat seseorang merasa dimanfaatkan dan akhirnya mengalami frustrasi atau rasa kesal.

11. Terlalu membutuhkan validasi

People pleaser juga dapat mencari kepastian dari respons orang lain.

Misalnya, setelah melakukan sesuatu, ia terus memikirkan apakah orang lain menyukainya. Pujian membuatnya merasa lega, sementara kritik atau penolakan dapat membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Hubungan antara penerimaan sosial dan self-esteem memang telah lama menjadi perhatian penelitian psikologi. Studi dalam Journal of Research in Personality menemukan bahwa pentingnya persetujuan sosial dapat berkaitan dengan cara seseorang mengevaluasi dirinya.

12. Mengubah diri agar sesuai dengan orang lain

Orang yang memiliki kecenderungan people pleasing dapat mengubah cara bersikap, berbicara, atau mengambil keputusan agar lebih mudah diterima lingkungan.

Misalnya, ia sebenarnya tidak menyukai suatu kegiatan tetapi ikut karena semua teman menyukainya. Atau ia menyembunyikan pendapat pribadi karena khawatir pendapat tersebut berbeda dari kelompok.

Jika dilakukan sesekali, penyesuaian diri merupakan hal yang wajar. Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang merasa harus terus mengubah dirinya agar mendapatkan penerimaan orang lain.

Mengapa seseorang bisa menjadi people pleaser?

ilustrasi perempuan. Photo by Charlotte May/Pexels
ilustrasi perempuan. Photo by Charlotte May/Pexels

People pleasing tidak memiliki satu penyebab tunggal. Cleveland Clinic menyebut kecenderungan tersebut dapat berkaitan dengan rendahnya self-esteem, kesulitan bersikap asertif, menghindari konflik, takut ditinggalkan, kecemasan, hingga pengalaman masa kecil tertentu.

Namun, faktor tersebut tidak berarti setiap orang dengan pengalaman yang sama pasti menjadi people pleaser.

 

People pleaser bukan berarti orang yang terlalu baik

Penting untuk tidak buru-buru memberi label people pleaser kepada seseorang hanya karena ia suka membantu.

Membantu teman, menghormati orang tua, mengalah dalam situasi tertentu, atau mempertimbangkan perasaan pasangan merupakan perilaku sosial yang normal. Yang membedakan adalah pola dan dampaknya.

Jika seseorang tetap membantu meski sebenarnya tidak sanggup, takut mengatakan tidak, merasa bersalah ketika menetapkan batasan, dan terus mengorbankan kebutuhan sendiri demi mendapatkan penerimaan, pola tersebut lebih patut diperhatikan.

Dengan kata lain, menjadi pribadi yang baik tidak mengharuskan seseorang selalu berkata "iya". Batasan yang sehat justru membantu seseorang mengetahui apa yang sanggup diberikan dan apa yang tidak.

Cleveland Clinic dalam panduan mengenai batasan sehat pada 2026 juga menekankan pentingnya mengenali kebutuhan diri sebelum mengomunikasikan batasan kepada orang lain.

Karena itu, jika beberapa kebiasaan orang yang menjadi people pleaser terasa familiar, hal tersebut bukan alasan untuk langsung mendiagnosis diri sendiri. People pleasing bukan diagnosis gangguan mental tersendiri. Polanya lebih tepat dilihat sebagai kecenderungan perilaku yang perlu dipahami, terutama jika sudah mengganggu hubungan, pekerjaan, kesehatan emosional, atau keseharian.

Pertanyaan Seputar People Pleaser

1. Apakah people pleaser bisa belajar mengatakan “tidak”?

Bisa. Kemampuan mengatakan “tidak” merupakan keterampilan yang dapat dilatih secara bertahap. Seseorang dapat mulai dengan menolak permintaan sederhana, memberikan alasan singkat tanpa merasa harus menjelaskan secara berlebihan, serta memberi waktu sebelum menjawab permintaan yang sulit.

2. Apa dampaknya jika kebiasaan people pleasing terus dibiarkan?

People pleasing yang berlangsung terus-menerus dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan diri, mengalami kelelahan emosional, merasa frustrasi, atau menyimpan rasa kesal karena terlalu sering mengalah. Dalam hubungan, pola ini juga dapat membuat batasan menjadi tidak jelas dan hubungan terasa tidak seimbang.

3. Bagaimana cara membedakan people pleaser dengan orang yang memang suka membantu?

Perbedaannya terutama terletak pada alasan dan dampaknya. Orang yang suka membantu biasanya tetap mampu mengatakan tidak ketika tidak sanggup. Sementara itu, people pleaser cenderung membantu karena takut mengecewakan, ditolak, atau dianggap buruk, bahkan ketika bantuan tersebut membuat dirinya kewalahan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.