TRIBUN-TIMUR.COM, RANTEPAO - Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, menampilkan formasi berbeda pada upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Lapangan Bakti Kota Rantepao, Senin (17/8/2026).
Tahun ini, para anggota Paskibraka membentuk formasi bertuliskan “We Love RI 81”.
Formasi tersebut menjadi bagian dari inovasi yang disiapkan pelatih dari unsur TNI dan Polri.
Pasi Intel Kodim 1414 Tana Toraja, Kapten Chk Candra Tandipadang, mengatakan formasi Paskibraka Toraja Utara terus dikembangkan setiap tahun.
“Setiap tahun kami terus berinovasi dan berimprovisasi. Formasinya kami buat berbeda-beda agar selalu ada kesan tersendiri,” ujarnya usai upacara penurunan bendera, Senin (17/8/2026) sore.
Menurut Candra, tantangan utama dalam menyiapkan formasi tersebut adalah membangun kekompakan dan ketepatan posisi seluruh anggota.
Para anggota Paskibraka menjalani latihan sekitar tiga minggu.
Jika dikurangi agenda hari Minggu dan pengukuhan, waktu efektif latihan berkisar 15 hingga 18 hari.
“Yang paling dibutuhkan adalah kekompakan. Mereka harus benar-benar memahami posisi masing-masing dan disiplin dalam setiap gerakan,” katanya.
Selain keterampilan teknis, pelatih menanamkan disiplin, kecintaan terhadap Tanah Air, ketahanan mental, ketepatan waktu, serta pola hidup sehat.
Pengalaman selama menjadi Paskibraka diharapkan tidak berhenti setelah tugas upacara selesai.
Para anggota didorong menjadi teladan sekaligus meneruskan pengalaman kepada junior di sekolah masing-masing.
Pelatih dari Polres Toraja Utara, Iptu Anthon Tonapa, mengatakan pembentukan kedisiplinan menjadi salah satu tantangan selama masa latihan.
“Anak-anak yang selama ini mungkin masih manja, tantangannya di situ. Bagaimana membentuk mereka menjadi lebih disiplin,” ujarnya.
Ia mengakui masih terdapat sejumlah evaluasi setelah penampilan, terutama terkait konsentrasi anggota yang sempat terpengaruh ketegangan saat tampil.
Tantangan lain muncul ketika anggota harus berpindah posisi dalam formasi.
Mereka dituntut mengingat titik masing-masing tanpa bergantung pada tanda dari pelatih.
“Ketika tandanya kita cabut, mereka harus tetap ingat posisinya. Itu yang paling berat,” katanya.
Meski demikian, latihan selama kurang lebih tiga minggu dinilai memberikan pengalaman penting bagi anggota Paskibraka.
Para pelatih berharap disiplin, jiwa korsa dan kecintaan terhadap Tanah Air terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang paling utama adalah jiwa korsa. Senang bersama, susah bersama. Itu yang kami tanamkan,” ujar Anthon.(*)