Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, MBAY — Di antara ratusan warga yang mengungsi di Lapangan Berdikari, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, terdapat seorang bayi laki-laki yang baru berusia satu bulan.
Ia bersama orang tua dan keluarganya menjadi korban bencana gempa bumi berkekuatan 7, 7 skala richter yang berpusat di Kota Mbay mengguncang Pulau Flores, Sabtu (15/8/2026) pagi.
Bayi tersebut terpaksa menghabiskan malam di tenda pengungsian bersama kedua orang tuanya setelah warga dari sejumlah desa di wilayah pesisir utara Kabupaten Nagekeo mengungsi.
Bayi itu berasal dari Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa. Ibunya bernama Kristina Apriliani.
Baca juga: Bayi 10 Bulan Geraldus Watu asal Ngada Jadi Salah Satu Korban Meninggal Gempa Flores
Saat ditemui di salah satu dari lima tenda pengungsian yang berada di Lapangan Berdikari, Senin (17/8/2026) pagi, bayi tersebut tampak tidur di atas kasur dengan balutan selimut bayi.
Namun, kondisi tenda yang terbuka membuat bayi tersebut masih terlihat kedinginan, terutama saat malam hari.
Bagian depan dan belakang tenda milik TNI itu tidak memiliki penutup.
Kondisi tersebut membuat angin dengan mudah masuk ke dalam tenda dan menerpa para pengungsi, termasuk bayi yang masih berusia satu bulan itu.
Pihak keluarga pun berupaya melindungi sang bayi dari terpaan angin dengan menggunakan tas berisi pakaian sebagai penghalang.
Yohana Weli, nenek bayi tersebut, mengatakan cucunya kerap merasa kedinginan dan tidak nyaman ketika malam tiba.
"Dia kedinginan kalau malam dan tidak nyaman kalau malam, apalagi di depan dan belakang ini terbuka," ujar Yohana.
Menurut Yohana, sebelumnya bantuan telah diterima oleh para pengungsi dari TNI/Polri dan Plan Indonesia.
Meski demikian, kondisi tenda yang masih terbuka membuat keluarga berharap adanya perlindungan tambahan, terutama bagi bayi dan anak-anak yang lebih rentan terhadap udara dingin pada malam hari.
Keberadaan bayi berusia satu bulan di tengah kondisi pengungsian tersebut diharapkan menjadi perhatian tersendiri.
Dengan kondisi tenda yang terbuka dan angin malam yang masuk tanpa penghalang, kebutuhan akan tempat berlindung yang lebih tertutup menjadi semakin penting bagi keluarga dan para pengungsi lainnya. (Bet)