TRIBUNBATAM.id, BATAM - Beragam perlombaan tradisional hingga modern memeriahkan perayaan HUT RI ke-81 di Pulau Terluar, Belakang Padang, Senin (17/8) pagi.
Final perlombaan berlangsung meriah sejak pagi hingga sore hari. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Sekda Kota Batam, Firmansyah, didampingi tokoh masyarakat pesisir Batam, Haji Hasim dan Laode Salman.
Ribuan warga memadati kawasan Belakang Padang untuk menyaksikan rangkaian perlombaan.
Tidak hanya warga setempat, masyarakat dari berbagai wilayah di Batam hingga wisatawan dari luar negeri, termasuk Malaysia, turut hadir menyaksikan kemeriahan tersebut.
Antusiasme warga terlihat sejak kawasan dermaga hingga dataran Elang Laut dipenuhi penonton.
Sebagian warga bahkan memilih menyaksikan perlombaan dari atas kapal yang disewa khusus agar dapat melihat jalannya pertandingan dari tengah perairan.
Salah satu perlombaan yang paling menyita perhatian adalah lomba sampan layar. Tradisi bahari yang menjadi identitas masyarakat Belakang Padang itu berlangsung sengit dan menarik perhatian warga yang memadati tepian perairan.
Selain sampan layar, perlombaan balap speed boat juga menjadi tontonan favorit masyarakat.
Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Batam Firmansyah mengatakan, kegiatan tersebut menjadi momentum dalam memberikan dampak positif bagi pariwisata dan perekonomian masyarakat pulau.
“Dengan kegiatan ini bisa menumbuhkan dan mengembangkan dunia pariwisata yang ada di Belakang Padang, dan juga menumbuhkan pelaku usaha UMKM yang ada di sini,” ujar Firmansyah.
Menurutnya, inisiatif camat bersama tokoh masyarakat untuk menggelar berbagai perlombaan pada momentum kemerdekaan memberikan dua dampak positif sekaligus.
Yakni memperkuat semangat perayaan kemerdekaan sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Jadi, kegiatan ini sangat-sangat positif. Kami atas nama Pemerintah Kota Batam memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Pak Camat dan tokoh masyarakat yang sudah memberikan kontribusi positif terhadap kegiatan ini,” katanya.
Di sisi lain, tingginya jumlah masyarakat yang datang menjadi indikasi kuat kegiatan tersebut memberikan dampak ekonomi langsung kepada pelaku usaha lokal.
Firmansyah menyebut, kepadatan kendaraan roda dua dan roda empat bahkan terlihat hingga ke ruas jalan sekitar pelabuhan.
“Yang datang ke sini bukan hanya masyarakat Kecamatan Belakang Padang, tapi juga masyarakat dari Batam. Saya lihat langsung posisi parkir kendaraan roda dua dan roda empat di pelabuhan sudah sampai ke jalan,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi peluang bagi berbagai sektor usaha masyarakat.
Mulai dari pemilik sampan, kedai kopi, warung makan hingga jasa becak ikut merasakan dampak meningkatnya kunjungan masyarakat.
“Saya yakin, yang pertama, pemilik sampan hari ini insyaallah panen. Kedai kopi panen, warung-warung makan insyaallah panen, becak juga panen,” katanya.
Tokoh masyarakat pesisir Batam, Haji Hasim, mengatakan tradisi sampan layar merupakan bagian penting dari sejarah dan identitas masyarakat Belakang Padang yang harus terus dipertahankan.
Menurutnya, tradisi tersebut sempat mengalami penurunan, terutama setelah pandemi COVID-19. Jumlah peserta yang memiliki sampan layar juga sempat menyusut hingga tinggal belasan unit.
Namun, setelah kegiatan kembali digelar secara konsisten melalui kolaborasi masyarakat dan pemerintah kecamatan, jumlah sampan layar kembali meningkat.
“Tadinya tahun kemarin cuma 32, sekarang sudah 37,” kata Haji Hasim.
Peserta dan pemilik sampan tidak hanya berasal dari pulau-pulau di sekitar Belakang Padang.
Ada pula pemilik sampan dari Tanjung Balai serta pihak dari Malaysia dan Singapura yang turut mengeluarkan modal untuk membuat atau memiliki sampan yang digunakan dalam tradisi tersebut.
Menurut Haji Hasim, keterlibatan masyarakat dari luar daerah bahkan negara tetangga menunjukkan sampan layar memiliki daya tarik tersendiri dan berpotensi menjadi bagian dari wisata bahari Batam.
Ia menyebut, tradisi tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun dan setiap 17 Agustus masyarakat Belakang Padang telah mengenalnya sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan.
“Setiap tahun, setiap tanggal 17 Agustus. Di pulau ini, 17 Agustus itu sudah menjadi tradisi. Masyarakat Kecamatan Belakang Padang sudah tahu, sebentar lagi 17 Agustus,” ujarnya.
Haji Hasim berharap tradisi tersebut dapat terus dilestarikan dan diteruskan kepada generasi muda.
“Mudah-mudahan tetap berlanjut sampai ke anak-anak muda nanti melanjutkan seperti Pak Camat yang sekarang,” katanya.
Ia berharap pada tahun-tahun mendatang semakin banyak pihak yang ikut menjadi sponsor sehingga perlombaan dapat digelar lebih besar.
Haji Hasim menilai tradisi sampan layar memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat Belakang Padang. Karena itu, ia merasa sayang apabila tradisi tersebut sampai hilang.
Ia mengatakan, bentuk sampan dan layar yang digunakan saat ini memang berbeda dengan yang digunakan oleh generasi terdahulu. Namun, semangat mempertahankan tradisi tetap sama.
“Karena ini sejarah, saya merasa sebagai putra pulau dan daerah, sangat sayang kalau tradisi seperti ini hilang. Tradisi ini memang dari dulu, dari nenek moyang kita,” katanya. (TribunBatam.id/Bereslumbantobing)