Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto
TRIBUNFLORES.COM,MAUMERE- Harapa dan mimpi indah Rensiana Dua (21) dan Yohanes Sil Tiket (23), pasangan suami istri (Pasutri), warga Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) akhirnya pupus sudah.
Keduanya harus kehilangan anak pertama mereka pasca diguncang gempa Flores NTT pada Sabtu 15 Agustus 2026 pagi.
Di mana Rensiana bersama suaminya masuk ke IGD RSUD Dr. TC Hillers. Maumere pada Kamis 13 Agustus 2026 sekitar pukul 14:00 Wita dan akan menjalani operasi pada Sabtu 15 Agustus 2026.
Namun pada hari ditentukan untuk menjalani operasi, terjadi gempa bumi dahsyat di Flores sehingga proses operasi ditunda ke esokan harinya.
Yang mana saat terjadi guncangan dahsyat itu, tangan Rensiana Dua (21) dipegang erat sang suami Yohanes Sil Tiket (23).
Sang suami berusaha keras guna menyelamatkan sang istri dan dirinya keluar gedung rumah sakit karena takut gempa serta kuatir ada reruntuhan bahan bangunan yang jatuh dan menimpa istri dan bayi dalam kandungan.
Baca juga: Yayasan Dana Kemanusian Kompas Kirim Bantun Bagi Penyintas Gempa Flores
"Sebenarnya operasinya hari Sabtu, tapi dokter bilang tunda lagi, lihat kondisinya, kalau bisa hari minggu jam 9 atau 3 sore, " Ujarnya Senin 17 Agustus 2026.
Dikisahkannya, proses operasi anak pertamanya itu akhirnya berlangsung pada Minggu 16 Agustus 2026. Namun kebahagian itu berujung duka karena bayi perempuannya itu meninggal dunia sebelum dioperasi.
"Hari minggu pas operasi, hasil operasi, saya punya anak meninggal dunia di dalam perut " Jelasnya.
Menurut penjelasan dari pihak rumah sakit, anak pasangan Rensiana Dua (21) dan Yohanes Sil Tiket (23) meninggal dunia di dalam perut saat mereka tiba di RSUD Dr TC Hillers Maumere, pada Kamis 13 Agustus 2026.
Kini, Rensiana Dua (21 dirawat di tenda darurat di halaman di RSUD Dr TC Hillers Maumere, yang didampingi keluarga dan suaminya.
Sementara itu, sampai sekarang Rensiana Dua (21) terbaring lemas di bawah tenda darurat yang dijaga suami bersama keluarganya.
Ia terbaring lemah dan penuh kepasrahan. Wajah tak sebahagia saat tiba di rumah sakit guna menanti sang bayi. Kini, Rensiana harus mengubur mimpi mengendong bayi dan mendengar suara tangisan bayi di rumah.(awk)