Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kesejahteraan sejati bagi Bangsa Indonesia hanya dapat terwujud apabila warga yang berada dalam lapisan paling miskin dijadikan sebagai prioritas utama pembangunan.
Baca juga: Peringati HUT ke-81 RI, Warga Lampung Selatan Lakukan Kirab Bendera Merah Putih
Pesan kuat tersebut ditegaskan oleh Uskup Tanjungkarang, Mgr Vinsensius Setiawan Triatmojo, saat bertindak sebagai inspektur upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kompleks Asilo Hermelink, Rajabasa, Bandar Lampung, Senin (17/8/2026).
Upacara yang berlangsung dalam suasana penuh khidmat tersebut diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai elemen masyarakat.
Peringatan HUT ke-81 RI tahun ini mengusung tema nasional "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur" yang selaras dengan amanat Pembukaan UUD 1945.
"Kesejahteraan baru tercapai jika warga paling miskin menjadi prioritas," tegas pimpinan tertinggi Keuskupan Tanjungkarang yang menggembalakan sekitar 74 ribu umat Katolik di seluruh Provinsi Lampung tersebut.
Sekitar 150 peserta dari pelbagai elemen masyarakat hadir mengikuti upacara. Suasana penuh khidmat mewarnai kompleks Asilo Hermelink di Rajabasa.
Dalam amanatnya, Uskup yang menggembalakan 74 ribu umat Katolik se-Lampung ini mengajak umat peduli tentang pentingnya aspek pendidikan bagi bangsa. Ia menegaskan, orang yang mencintai tanah air wajib ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Pendidikan harus menjadi prioritas utama demi kemajuan seluruh anak bangsa,” ujarnya seraya menegaskan agar kepentingan umum selalu mendahului kepentingan golongan.
Menurut Uskup yang akrab disapa Mgr Avien, panggilan kemerdekaan ini sangat mendesak di tengah tantangan zaman. Ia pun mengajak warga membangun kehidupan bersama.
Ia mengungkapkan, pembangunan dapat dimulai dari lingkup unit terkecil dalam masyarakat. Kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup juga wajib terus ditingkatkan. Kerusakan alam terjadi akibat kurangnya rasa memiliki atas bumi bersama.
"Banyak kerusakan alam yang terjadi karena kesalahan kita sendiri yang kurang memperlihatkan bahwa dunia yang kita tinggali bersama adalah milik bersama, yang harus kita jaga kelestariannya secara bersama-sama," ungkap Mgr Vinsensius.
Di atas segalanya, lanjut Uskup, penghargaan terhadap martabat manusia adalah prioritas utama. Semua manusia diciptakan mulia sebagai gambaran Allah sendiri. Oleh karena itu, seluruh manusia dipanggil dalam ikatan persaudaraan.
"Panggilan kemerdekaan ini sangat mendesak. Banyak kerusakan alam terjadi karena kita kurang menyadari bahwa dunia ini milik bersama yang harus dijaga kelestariannya. Atas semuanya itu, yang paling penting adalah martabat manusia dan persaudaraan sejati," ujarnya.
Untuk diketahui, Asilo Hermelink berdiri di atas lahan 2,5 hektar milik keuskupan. Kata "Asilo" berasal dari bahasa Latin yang berarti tempat perlindungan. Nama "Hermelink" merujuk pada Mgr Albertus Hermelink Gentiaras SCJ. Ia adalah uskup pertama sekaligus pimpinan misi Katolik di Lampung. Pada 19 Juli 2025, Mgr Vinsensius meresmikannya sebagai pusat kegiatan.
Kini kompleks tersebut bertransformasi menjadi hub pelayanan sosial multifungsi. Kawasan ini menaungi Laudato Si Centre sebagai pusat gerakan ekologis.
Terdapat pula fasilitas camping ground, jogging track, dan ruang terbuka hijau. Selain itu, ada Campus Ministry, sanggar seni, hingga dapur umum.
Umat belajar menjaga alam ciptaan Tuhan secara tindakan nyata. Nilai iman dan kelestarian lingkungan dapat tumbuh selaras di sini. Asilo Hermelink menjadi wadah pembaruan spiritual yang sejuk.
( Tribunlampung.co.id )