TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Anak-anak pun tumbuh di tengah dunia yang menawarkan jawaban dengan cepat.
Namun, kemudahan tersebut justru memunculkan kekhawatiran lain.
Bagaimana jika anak semakin jarang membayangkan, bertanya, dan menciptakan sesuatu dengan pikirannya sendiri?
Kekhawatiran tersebut disampaikan sastrawan dan kurator senior Bentara Budaya, GP Sindhunata, ketika membahas masa depan sastra anak dalam diskusi Sastra Anak dan Dwianto Setyawan di Balai Sastra PDS HB Jassin, Jakarta.
Menurut Sindhunata, sastra anak memiliki ruang penting untuk menjaga kemampuan anak berimajinasi.
Cerita membuat anak berhadapan dengan pertanyaan, kemungkinan, dan dunia yang tidak selalu memiliki satu jawaban.
Hal tersebut berbeda dengan kebiasaan mendapatkan sesuatu secara instan.
Sindhunata menilai perkembangan AI perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kemampuan anak dalam menggunakan imajinasinya.
“Nah ini mengenai kemburan AI yang luar biasa ini jadi akan mematikan imajinasi mematikan kemampuan anak untuk mendongeng dan kalau orang tua tidak waspada itu akan bahaya,” kata Sindhunata, Senin (17/8/2026).
Baca juga: Stop Jadikan Buku Anak Wadah Nasihat, Pakar Minta Orang Dewasa Dengarkan Suara Anak
Karena itu, kehadiran buku cerita anak dapat menjadi salah satu ruang bagi anak untuk tetap membangun dunia melalui pikirannya sendiri.
Salah satu hal yang dianggap penting dalam sastra anak bukan hanya kemampuan mengikuti alur cerita.
Anak juga diajak bertanya.
Mengapa tokoh melakukan sesuatu?
Bagaimana jika sebuah kejadian berlangsung berbeda?
Apa yang mungkin terjadi setelah sebuah peristiwa?
Dalam pandangan Sindhunata, kebiasaan bertanya tersebut justru merupakan bagian penting dari proses berpikir anak.
Ia mengibaratkan pertanyaan sederhana anak seperti, "kenapa begini" atau "kenapa begitu", sebagai bentuk rasa ingin tahu yang perlu dipelihara.
Anak yang terus bertanya sedang berusaha memahami dunia di sekitarnya.
Karena itu, orang dewasa sebaiknya tidak buru-buru mematikan pertanyaan anak hanya karena merasa jawabannya sudah jelas.
Baca juga: Tips Membiasakan Anak Sikat Gigi Rutin dengan Cara Menyenangkan
Cerita anak juga dapat memberikan ruang kepada anak untuk berimajinasi tanpa harus selalu diarahkan pada satu kesimpulan.
Dalam karya Dwianto Setyawan, misalnya, cerita anak tidak hanya diposisikan sebagai alat untuk menyampaikan pesan moral.
Cerita juga menjadi ruang bagi anak untuk bertanya dan membangun kemungkinan.
Sindhunata menilai kemampuan berimajinasi dan bertanya merupakan bagian penting dari cara manusia memahami dunia.
Karena itu, sastra anak memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan.
Ia dapat menjadi ruang latihan bagi anak untuk berpikir.
Di tengah perkembangan teknologi, orang tua memiliki peran untuk menjaga agar anak tetap memiliki ruang untuk membaca, bercerita, dan berimajinasi.
Salah satunya melalui kegiatan sederhana seperti mendongeng.
Menurut Sindhunata, cerita anak dapat disampaikan dengan berbagai variasi oleh orang tua sehingga anak tidak hanya menerima cerita sebagai teks.
Anak dapat diajak membayangkan tokoh, membuat akhir cerita sendiri, atau mempertanyakan keputusan tokoh.
Dengan demikian, buku tidak berhenti menjadi bahan bacaan.
Cerita dapat menjadi ruang percakapan antara anak dan orang tua. (*)